Aku dan Cerita Tentang Hujan # 7


Anak-anak hujan
tertawa riang biarpun tubuhnya basah
katanya, setelahnya ia akan tersenyum ceria
dengan setumpuk rupiah yang juga basah
untuk hadiah ibu-bapak di rumah
yang menunggu bersama secangkir teh
dan senyuman paling hangat
purna sudah perjalanan hujan
juga senyum yang kau rajut
kini, kau terlelap didekapan mimpi
(terinspirasi dari cerita Budi si bocah ojeg payung)


Aku suka hujan tapi aku tidak suka payung, apalagi memakai payung saat berjalan dalam dekapan hujan. Rasanya ada sesuatu yang memisahkan kedekatanku dengan hujan. Aku suka jika hujan mendekapku hingga basah, sebab aku bisa menangis bersamanya tanpa harus berurai airmata. Hujan itu misterius tapi menenangkan. Aku selalu mencintai hujan, merindukannya dan hanyut didalamnya saat dia datang. 

Ojeg Payung
Sore, hujan mengguyur dengan derasnya dan aku menggigil kedinginan karena aku sedang sakit. Terpaksa aku meninggalkan sesi kedua sebuah workshop yang kuikuti karena aku harus istirahat. Aku tak bisa memaksakan diri sebab tubuhku sedang menuntunku untuk memperbanyak istirahat. Saat menunggu hujan reda di pelataran gedung dekanat FISIP UI, dari kejauhan mendekatlah seorang bocah membawa dua buah payung. Bocah 'Ojeg Payung' akhirnya menemukanku, seorang yang tidak membawa payung sebab tidak suka pada payung dan saat ini membutuhkan payung. 

Berjalan beriringan aku dengannya sambil mengobrol hal-hal ringan seputar pekerjaannya sebagai ojeg payung. Pertanyaan-pertanyaanku sederhana layaknya sebuah obrolan dan bukan wawancara. Sebuat saja ia Budi, kelas 2 SMP atau kelas 8 sudah lama menjadi ojeg payung. Setengah dari penghasilannya ia berikan kepada ibunya dan setengahnya lagi ia tabung untuk kebutuhannya sendiri. Ia senang menjadi bocah ojeg payung sebab ia bisa menghasilkan uang sendiri. Sekali menjadi ojeg payung Budi bisa memperoleh uang Rp.30.000-Rp.80.000, itu bergantung pada intensitas hujan dan banyaknya pelanggan. Katanya, ia juga pernah sampai dapat Rp. 200.000 sehari, wow!


Masuk akal sih. 


Begini, Budi kan bawa 2 payung, kalau sekali jalan ia memasang tarif Rp.3000 maka dengan dua payung ia mendapat Rp. 6000, untuk dapat Rp.30.000 ia hanya perlu 10 orang pengguna jasanya. Semakin lama intensitas hujan, apalagi kalau hujan di siang hari dimana orang-orang hilir mudik untuk banyak keperluan, maka otomatis penghasilannya semakin besar. Bukan hanya itu, Budi juga ulet dan murah senyum. Banyak bocah yang juga berprofesi dadakan sebagai ojek payung, tapi Budi nampaknya punya aura tersendiri untuk dipilih calon pengguna jasa ojeg payung tanoa harus menawarkan payungnya dengan memaksa. Saat ini Budi sedang menabung untuk uang sakunya saat rekreasi bersama keluarga besarnya bulan depan. Saat kutanya bahwa ia mungkin membutuhkan banyak uang saat berekreasi, ia hanya tersenyum malu. Aku tahu, saat berekreasi ke tempat wisata anak-anak seringkali menghabiskan uangnya untuk membeli makanan-minuman, mainan dan membayar karcis wahana permainan. Hm, alhamdulillah, akhirnya aku bisa sampai di tempat teduh meski tak harus membawa payung. 

Terima kasih, Budi. Semoga tabunganmu bertambah.

Depok, 25 Oktober 2011

Sumber gambar:
linatussophy.wordpress.com

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram