le Grand Voyage


Film Muslim Terbaik





Film ini berkisah tentang 'Perjalanan Agung' yaitu berhaji yang dilakukan seorang ayah (Mohamed Najd) atas bantuan putranya, Reda (Nicolas Cazale). Film Islami asal Perancis yang mendapat banyak penghargaan ini, salah satunya Best Debut Film Venice bukanlah film gegap gempita. Melainkan berkisah tentang perjalanan ayah dan anak sejauh 3000 mil dari Perancis ke Saudi Arabia menggunakan mobil (mobil butut warna biru yang pintu kanan depannya berwarna orange).

Sang ayah sangat ingin berhaji tahun itu juga dan ingin melakukan perjalanan menggunakan mobil. Karena ia tidak bisa menyetir, sementara anak tertuanya sering ngebut saat nyetir maka ia meminta Reda, salah satu putranya yang sedang menghadapi ujian di sekolahnya, untuk menyetir. Reda yang harus mengikuti ujian dan tidak mau jauh dari pacarnya cantiknya yang non Muslim, Lisa, marah karena seharusnya ayahnya tak merepotkannya hanya untuk perjalanan haji yang sebenarnya bisa menggunakan pesawat. Alhasil, selama perjalanan mereka selalu bertengkar. 

Selama perjalanan melintasi Italia, Slovenia, Kroasia, Serbia, dan Bulgaria kemudian menyeberang ke Turki, Suriah, Yordania, hingga sampai di Arab Saudi dipenuhi pertengkaran kecil layaknya pertengkaran sehari-hari antara ayah dan anak lantaran berbeda pendapat/ gap antar generasi. Misalnya ayahnya membuang handphone Reda ke tong sampah karena Reda tak fokus menyetir karena selalu menerima sms dari Lisa dan ayahnya mengerem mobil mendadak hingga mobil itu nyaris terjungkal karena Reda tak mau mendengarkan nasehatnya untuk rehat setelah sanga ayah melihat mata Reda merah karena mengantuk dan kelelahan. 


Pertengkaran-pertengkaran kecil selama perjalanan selalu saja terjadi akibat perbedaan berfikir antar keduanya. Ayahnya begitu marah saat Reda terpancing untuk minum alkohol atas ajakan Mustafa, orang Turki yang menumpang mobil mereka namun menipu mereka dengan mengambil uang perjalanan mereka di hotel sehingga persediaan uang mereka menipis. Juga saat Reda bermesraan dengan wanita penghibur di depan kamar hotel karena ia mabuk. Di sisi lain Reda marah karena ayahnya yang kolot selalu menghentikan perjalanan semaunya, untuk shalat, mengatur makanan yang hanya berupa roti, keju dan telur rebus yang menurutnya kekurangan nutrisi. Juga saat ayahnya memberikan uang pada seorang janda padahal mereka sudah tak punya uang lagi. Hingga Reda marah besar dan meninggalkan ayahnya di gurun. Tak hanya itu, mereka juga banyak mengalami kesulitan selama perjalanan. Mulai dari perbedaan bahasa, ketiadaan air dan terjebak salju yang membuat ayahnya harus dirawat di rumah sakit untuk beberapa waktu, hingga kaburnya domba yang akan mereka sembelih untuk bekal perjalanan. Dalam menghadapi semua itu Reda selalu saja marah dan berfikir pendek, namun ayahnya tetap tenang.


Aneka kesalahpahaman kemudian menjadi saling pengertian saat Reda mulai merasa dekat dengan ayahnya, terutama ketika setiap waktu shalat ayahnya pamitan padanya untuk shalat dan tak memintanya untuk mengikutinya, fakta bahwa ayahnya mengembalikan foto Lisa dan memiliki sejumlah uang didalam kaos kaki untuk perjalanan pulang, juga cerita singkat ayahnya mengenai kekagumannya pada kakek Reda dan keinginannya berhaji sebelum mati. Pelajaran demi pelajaran hidup mereka temui selama perjalanan, bagi sang ayah juga bagi si anak. Reda misalnya begitu kagum saat mengetahui bahwa begitu banyak orang menuju mekkah untuk berhaji dan ketika waktu shalat tiba tak ada yang memaksa nya untuk ikut shalat. Setiap orang berjalan dengan panggilan Tuhan.

Reda kemudian baru menyadari arti penting ayahnya baginya saat berhari-hari ayahnya tidak pulang ke kemah sehingga ia harus mencarinya ditengah lautan manusia yang merupakan jemaah haji dan terjepit diantara mereka, hingga kemudian seorang petugas mengantarkannya ke kamar mayat. Reda pun menemukan fakta bahwa ayahnya telah meninggal. Di sinilah hikmah perjalanan panjang mereka menjadi titik balik kehidupan Reda. Perjalanan Agung ini adalah bukan perjalanan ayahnya, melainkan perjalanan Reda sendiri. Perjalanan spiritualnya.

Film ini mengingatkanku pada kisah Lukman dan putranya yang diabadikan dalam Al-Quran surah Lukman, dimana Lukman selalu menasehati anaknya dengan hikmah dan mengajarkan anaknya untuk mengambil hikmah dibalik setiap kejadian yang menimpa mereka. Film yang ringan, tidak banyak dialog, tidak banyak kejutan tapi sangat memukau. Film yang bagus sebagai media belajar dalam keluarga.

Depok, 19 September 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram