99 Cahaya di Langit Eropa



Buku yang memikat
Hanum Salsabiela Rais yang bekerja sebagai jurnalis Trans TV harus ikut suaminya, Rangga Almahendra, selama belajar di sebuah universitas di Wina, Austria. Selama 3 tahun hidup di Eropa dan sulitnya menjalani kehidupan sebagai Muslim di tengah gaya hidup para penganut Atheis justru mempertemukan mereka dengan saudara seiman dari berbagai bangsa yang menambah kecintaan mereka pada Islam. Pertama kali Hanum bertemu Fatma Pasha, seorang imigran asal Turki yang mengikuti suaminya mengadu nasib di Eropa yang kemudian menjadi teman Hanum selama kursus bahasa Jerman. Pertemanan mereka tak saja menjadikan Hanum merasa tak sendirian di tengah modernitas Eropa yang hedonis, juga memberi Hanum pelajaran hidup sejati: tentang cahaya Islam di Eropa. Fatma banyak bercerita pada Hanum mengenai kebesaran Islam di masa lalu, yang menjadi pemikat bangsa Eropa di Abad Kegelapan/ Abad Pertengahan yang terkungkung otoritas Gereja untuk meniru mengadaptasi peradaban Islam yang lebih maju karena ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, Fatma adalah guru tak terencana Hanum yang banyak memberikan keteladanan tentang menjadi "Agen Islam Sejati" dengan konsep jujur, damai dan penuh senyuman.

Hanum juga bertemua Marion, seorang muallaf berkebangsaan Prancis yang justru memeluk Islam karena sangat kagum pada Napoleon Bonaparte. Marion mengajak Hanum mengunjungi museum terlengkap di dunia, Louvre dan menunjukkan aneka peninggalan sejarah Islam pada masa kejayaan kekhalifahan, termasuk keindahan arsitektur dan seni Islam yang mempengaruhi banyak karya seni Eropa, diantaranya lukisan bunda Maria dan Yesus (Maryam dan Nabi Isa as). Marion juga menunjukkan kepada Hanum mengenai bagaimana perubahan pada diri Napoleon yang lebih religius setelah menaklukkan mesir, terutama setelah penasehatnya masuk Islam, yang membuatnya kian semangat mendalami Islam. Marion adalah mozaik cantik dalam kehidupan Hanum di Eropa.

Hanum Salsabiela Rais
Perjalanan Hanum dan Rangga ke berbagai tempat bersejarah yang menjadi saksi kebesaran Islam di Eropa membuat mereka menyadari bahwa kebesaran sebuah peradaban tak bisa langgeng jika dibangun dengan kekerasan dan paksaan. Mereka melihat semua itu dari saksi sejarah yang ratusan tahun membisu seperti Mezquita di Cordoba, Istana Al- Hambra di Granada, Hagia Sophia dan Masjid Biru serta Istana Topkapi di Turki, hingga ka'bah dan Masjidil Haram di Mekkah, Saudi Arabia. Perjalanan selama 3 tahun tak saja memberikan pelajaran tentang perntingnya perdamaian dan saling menghargai, juga tentang sejarah kelam pertikaian yang mengakmbinghitamkan agama sehingga menjadikan wajah Eropa modern cenderung tidak seimbang. Perjalanan ini juga yang kemudian membawa hidayah bagi Hanum untuk menjelaskan identitasnya sebagai perempuan Muslim : Berjilbab. 

Buku ini adalah buku yang 'lain' dari buku-buku tentang kisah travelling yang pernah kubaca dan kukagumi. Ada pesan dari sejarah Islam di masa lampau kepada umatnya dimasa kini untuk bangkit kembali dan menjadikan Islam sebagai cahaya dengan cara damai, sebagaimana cara-cara yang ditunjukan para Sultan di Cordoba yang membangun wilayahnya sebagai The True City of Light, cahaya yang menerangi jalan menuju peradaban modern saat ini. 

Allohu Akbar ! Allohu Akbar !
Maha benar Allah dengan segala Firman-Nya.

Depok, 17 September 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram