SRINTIL Sang Ronggeng DUKUH PARUK

Lukisan Ronggeng

Aku bukanlah kritikus sastra yang jiwa dan pikirannya dipenuhi dengan nilai-nilai ‘unggul’ dalam membaca sebuah kisah, kisah yang ditulis tentunya. Juga bukan seorang antropolog yang mampu menerawang sebuah kisah berdasarkan sejarah yang menopangnya, atau liku-liku nilai murni yang diselipkan penulisnya. Aku cuma pernah ingin menjadi Sosiolog, yang…huh… nampaknya juga tak bisa sebab aku, jiwa dan pikiranku, belum peka pada aras sosial yang semakin hari semakin menggelembung oleh nilai-nilai tertentu, atau justru menyempit. Nilai-nilai yang membingungkan, menghakimi, yang dicampur aduk, atau dibabat habis, nilai-nilai yang berperang. Aku juga bukan tipe orang yang berkesempatan ‘cepat tanggap’ dalam menikmati produk sastra. Karena itulah, aku selalu menikmatinya dalam kesendirian, jauh setelah orang-orang ramai memperbincangkannya. Dalam hal ini aku tak mau menghakimi takdir, atau kehendak Tuhan. Aku selalu menemukan hikmah dibalik itu semua, sebagaimana dalam beberapa hari ini.

Selama dua hari dua malam aku berhasil menuntaskan trilogi ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ punya Ahmad Tohari. Sebenarnya telah lama aku mendengar roman itu namun entah mengapa baru kali ini aku berkesempatan membacanya, setelah berhasil mengunggah ketiganya dalam versi e-book dari internet beberapa hari lalu. Si penulis, yang cerdas, menyajikan kisahnya begitu sederhana, dengan bahasa-bahasa ndeso yang menggelitik urat syarafku untuk sesekali tertawa atau tertegun. Cara bertuturnya begitu jujur dan tidak terikat oleh pakem ‘bahasa unggul’ dalam tata aturan dunia sastra. Tidak rumit. Ibaratnya kalau makan singkong ya direbus pun bisa, nggak usah manja seperti orang kota yang makan singkong saja harus keren, pakai parutan keju dan dimakan menggunakan garpu. Tidak pula puitis seperti puisi-puisi yang penuh bunga-bunga yang cenderung hiperbolis namun miskin makna. Ah, aku suka karya ini. Meski, aku menilai, bahwa pak Tohari ini tak berani mengungkapkan ‘hal-hal tertentu’ karena mungkin khawatir terhadap pemberangusan karya sastra ataupun dirinya sendiri di zamannya. Dari semua itu, sungguh, aku menyukai karyanya. 

Photo Ronggeng dan orkestra gamelan tahun 1900
Sosok yang paling menggugah adalah Srintil. Dia adalah bunga, fokus sekaligus ironi dalam kisah ini. Srintil tak saja mewakili citra perempuan sebagai bintang karena kecantikan, kemolekan dan keperempuanannya yang sanggup meluluhkan dunia. Juga mewakili perempuan sebagai manusia yang penuh ironi dan paradoksal. Sebagai pembaca, imajinasiku tak sanggup membayangkan meski sekedar wajah Srintil. Yang terbayang hanyalah latar dimana kisah ini dijalin, sebuah dusun bernama Dukuh Paruk di suatu tempat di Pulau Jawa, yang serba terbelakang, terpinggirkan bahkan dari hukum alam. Latar kisah ini bagiku tak ubahnya sebagai citra bagi tempat-tempat paling terpencil, terbuang, tak tersentuh, tak bercahaya diwaktu malam, dimamah sejarah tanpa jejak dan tak ada wujudnya di peta Negara ini. Kisah seperti ini mungkin masih ada di suatu tempat asing yang tak tersentuh pembangunan, atau sengaja diasingkan, dimana tubuh perempuan selalu membuat lelaki terkesiap dan jiwanya lumpuh seketika. Dimana perempuan dipuja-puja karena tubuhnya sekaligus dihina-dina karena dianggap murahan.

Kisah pertama
Kisah ini bermula saat lelaki tua bernama Sakarya menyaksikan bahwa cucu semata wayangnya, Srintil, menari selayaknya ronggeng padahal tak pernah ada yang mengajarinya, dengan diiringi tabuhan mulut ketiga temannya dibawah pohon nangka di suatu siang di musim kemarau tahun 1957. Sakarya yakin bahwa indang ronggeng telah bersemayam dalam jiwa raga Srintil. Ia memahami bahwa cucunya yang telah menjadi yatim piatu sejak kedua orangtuanya meninggal karena keracunan tempe bongkrek tahun 1949 itu memiliki kelebihan. Lantas Sakarya membicarakan perihal cucunya kepada suami-istri Kartareja, dukun ronggeng berpengalaman, untuk mengasuh Srintil dan menjadikannya ronggeng tenar. Sebagai tetua Dukuh Paruk, Sakarya merasa berbesar hati bisa menghidupkan kelesuan pedukuhan jika ronggeng kembali digelar setelah bertahun-tahun lamanya Dukuh Paruk terasa mati tanpa ronggeng dan calung.

Meski usianya baru 11 tahun, pasangan Kartareja meyakini bahwa Srintil memiliki segala pesona dan kemampuan seorang ronggeng. Pasangan itu pun berbagi tugas, dimana Nyi Kartareja mendidik Srintil termasuk memasang susuk pekasih agar Srintil tampak semakin cantik dan laris, juga mengajarinya bersikap layaknya ronggeng. Sementara Ki Kartareja mengumpulkan kembali para penabuh calung dan peralatan lain yang selama ini hanya tersimpan di para. Tak lama, warga Dukuh Paruk yang sesungguhnya masih saling berkerabat melakukan upacara untuk mengukuhkan Srintil sebagai ronggeng. Srintil diarak menuju makam leluhur mereka Ki Secamenggala dan dimandikan dengan air kembang tujuh rupa dan menari khusus untuk meminta restu leluhurnya. Serta merta para perempuan terpikat pada Srintil dan mereka gemas sehingga mereka rela melayani Srintil bak seorag Tuan Putri. Secara rutin para perempuan itu bergantian memandikan Srintil, memberinya hadiah dan mereka senang jika suami mereka menari bersama Srintil di pertunjukan ronggeng. Bagi seorang istri, jika suaminya bertayub dengan ronggeng menandakan bahwa suaminya jantan dan memiliki uang sehingga bisa dianggap meningkatkan derajatnya dihadapan perempuan lain.

Selanjutnya Srintil harus menjalani malam Bukak-Klambu, yaitu malam penyerahan keperawananya kepada laki-laki yang bisa membayarnya paling mahal. Ritual Bukak-Klambu membuat warga Dukuh Paruk riuh mengira-ngira siapa kiranya lelaki kaya yang mampu memenangkan sayembara merusak virginitas Srintil yang masih bocah dan belum mengerti apa-apa. Namun Srintil paham bahwa dirinya merasa ngeri menghadapi ritual itu, dan tahu bahwa ada seorang perjaka kecil yaitu Rasus yang sangat tidak suka Srintil menjadi ronggeng dan harus diperlakukan selayaknya barang dagangan. Bagi Rasus, ritual itu tak ubahnya pengesahan bagi praktek perjinahan yang kelak dijalani Srintil sebagai ronggeng. Diam-diam setiap malam Rasus mengintai kediaman ki Kartareja untuk memastikan perkembangan Srintil. Dia merasa marah atas semua itu dan merasa dirinya tak berguna karena ditakdirkan miskin sehingga tak bisa menyelamatkan Srintil dengan uang yang disyaratkan dalam sayembara. Srintil memahami semua itu dengan pikiran sederhananya. 

Maka pada suatu sore saat mereka bertemu secara tak sengaja di lokasi pemakaman, Srintil mengatakan bahwa dia akan menyerahkan keperawanannya kepada Rasus secara sukarela, namun Rasus menolaknya. Pada malam dimana pemenang Sayembara yang merupakan orang desa yang jauh akan melaksanakan haknya mempersunting Srintil, dimana tengah terjadi tawar menawar dengan mucikarinya, gadis itu mengendap ke belakang rumah karena takut dan cemas. Saat itu Rasus menghampiri Srintil untuk memberinya perlindungan dan sekedar menanyakan kondisinya, karena sesungguhnya Rasus begitu cemas. Tak disangka Srintil justru menelanjangi dirinya sendiri dan menyerahkan keperawanannya kepada Rasus, sebelum ia masuk kedalam kamarnya untuk ditiduri lelaki pemenang sayembara. 

Trilogi Ronggeng Dukuh Paruk
Srintil menjadi terkenal tak saja di Dukuh Paruk, juga orang-orang sekecamatan Dawuan mengenalnya, terutama kaum lelaki yang ingin menari dan tidur dengannya. Dari upah dan hadiah yang diterimanya, ia menjelma ronggeng kaya raya untuk ukuran orang-orang Dawuan. Setiap kali ke pasar Dawuan, ia selalu mendapatkan hadiah dari para pedagang perempuan yang memujanya. Sementara para lelaki yang tidak punya uang hanya mampu gigit jari. Sementara Rasus yang sesungguhnya mencari sosok Emaknya dari diri Srintil kian menyadari bahwa Srintil bangga sebagai ronggeng dan Rasus memilih untuk menjalani hidupnya. Rasus yang kemudian bekerja di pasar hanya bisa memandangi Srintil, dan tak bisa melakukan apa-apa saat suatu hari mereka bertemu Srintil bicara tentang perkawinan dan bayi. Mereka berdua sama-sama tahu bahwa karir Srintil sebagai ronggeng akan hancur jika ia memilih menikah.

Tahun 1960, setelah dua tahun tak pulang ke Dukuh Paruk, nasib kemudian mengubah Rasus menjadi tentara setelah secara kebetulan ia membantu para tentara membuat markas di Dawuan seiring maraknya perampokan. Mulanya Rasus hanya diangkat sebagai tobang yang diperbantukan di dapur, belanja bahan makanan, mencuci pakaian tentara dan angkut-angkut barang, namun karena jasanya membunuh perampok yang menyambangi Dukuh Paruk maka sersan Slamet berjanji pada Dukuh Paruk akan menjadikan Rasus tentara. Saat itu, Rasus mendapat pujian berlebihan dari Dukuh Paruk, termasuk Srintil yang menyediakan diri sebagai istri yang tak saja memanjakan Rasus, juga melayani Rasus dan neneknya dengan makanan mewah untuk ukuran Dukuh Paruk. Karena tahu Rasus akan menjalani pendidikan sebagai calon tentara, masyarakat Dukuh Paruk berjanji akan memenuhi segala kebutuhan nenek Rasus yang telah renta dan tinggal sendiri di gubuknya.

Srintil yang awalnya merasa bangga menjadi ronggeng dan menjadi kebanggan Dukuh Paruk tiba-tiba berubah pikiran. Srintil ingin menikah dengan Rasus dan ia merasa tak perlu lagi menjadi ronggeng. Rasus merasa senang sekaligus kecewa. Srintil telah menjadi ronggeng kebangaan Dukuh Paruk dan Rasus tak mungkin mengubah kenyataan itu. Rasus memilih pergi tanpa memberikan kabar apapun para Srintil dan menjalani pendidikan sebagai tentara. Saat tahu bahwa Rasus meninggalkannya tanpa pesan dan mengubah niat baiknya untuk meninggalkan dunia ronggeng, Srintil berjanji bahwa ia akan menjadi ronggeng terkenal sehingga Rasus kelak akan menyadari kekeliruannya karena telah menolaknya menjadikannya istri. 

Sumber gambar:
http://kathleenazali.c2o-library.net/2012/02/ronggeng-dukuh-paruk-seksualitas-penghayatan-sang-penari/ 
http://agusmlyna.blogspot.com/2015/01/v-behaviorurldefaultvmlo.html

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram