Berjejalan di Kereta Jakarta-Depok



Layanan Rp. 1.500
Pagi ini aku ke Depok, tepatnya ke kampus UI. Berhubung aku ganti jurusan untuk pilihan studi S2ku dan info di website tidak memadai, maka aku langsung mencari informasi ke departemen. Aku malas menunggu lama di stasiun, jadi aku beli tiket kereta ekonomi seharga Rp. 1.500. Aku tahu konsekuensi berjejalan dalam angkutan jelata ini, namun aku harus siap. Aku bukan anak raja yang berhak bermanja atau anak kaum kaya yang tak harus nelangsa, aku adalah sebagaimana mereka yang menggunakan jasa kereta ini, kaum kebanyakan yang berusaha berjuang mempertahankan hidup. Kereta penuh sesak, bercampur antara laki-laki dan perempuan, juga anak-anak dan kaum tua. Aku memilih berdiri di dekat pintu, selain bisa berpegangan juga bisa menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Aku takut limbung sebab aku begitu lemas. Sejak hari pertamaku haid di bulan ini, aku tak bisa makan. Nyaris semua makanan yang masuk ke perutku kumuntahkan, layaknya perempuan mengidam. Kondisi ini tentu memperparah tekanan darahku yang drop. Untung saja, aku masih punya semangat hingga dapat menjaga keseimbangan dan berusaha tidak muntah. Semua akan baik-baik saja...

Huh, berdesakan.
Aku tahu benar bahwa pemandangan yang kusaksikan ini bukan pemandangan indah layaknya di taman-taman atau kawasan elit ibukota, melainkan kawasan kumuh penuh sampah, tanah-tanah gersang yang tak dimanfaatkan, juga bangunan-bangunan yang tidak tertata. Benar-benar jelata! Ah, ini tidak seperti di Jawa. Ini seperti perjalanan menunju pulau tempat pembuangan. Disekitarku, dalam keadaan cukup segar, para penumpang berkonsentrasi pada keseimbangan masing-masing, meski ada beberapa anak muda yang bertindak tidak sopan, seperti membuang puntung rokok tanpa dimatikan terlebih dahulu serta membuang sampah sembarangan. Inikah tabiat kaum jelata?

Jika dibandingkan dengan kereta Ekonomi-AC jauh banget bedanya, apalagi dengan Pakuwan Ekspress, jauuuuuh banget bedanya. Meskipun demikian, aku nggak sedih-sedih amat. Disinilah aku belajar tentang realitas, tentang hak publik yang tak terpenuhi dan derajat yang jelas bagi pemiliki uang. Orang-orang yang menggunakan kereta jelata ini nampak sekali sebagai kaum yang miskin-papa-jelata-dan dari pinggiran yang menaklukan hidup sebagai pekerja kasar. Memang ada banyak yang berstatus mahasiswa, guru, pedagang dan sebagainya, tapi jumlahnya sangat tak sebanding dengan mereka yang memang papa dan hanya mampu membayar Rp. 1.500 untuk melakukan mobilisasi dari tempat asal ke tempat tujuan. Di kereta ini aku belajar bahwa jika keadilan tegak di negeri ini, tentu jurang pemisah antara si pembayar banyak dan si pembayar sedikit nggak begini-begini amat. Inilah realitas sosial yang harus kupelajari, kupahami dan kucarikan solusinya. Itulah gunanya kaum terpelajar yang mengenyam pendidikan universitas!

Seakan-akan Makan Steak
Setelah puas mengumpulkan informasi mengenai departemen Kesejahteraan Sosial di FISIP UI, aku benar-benar harus menuntaskan rasa laparku. Bukan untuk lidah sebenarnya, tapi untuk tubuhku yang menjerit karena kekurangan nutrisi sejak empat hari lalu. Masuklah aku ke salah satu kantin di lingkungan FISIP UI dan memesan salah satu menu berjudul 'Steak.....'. Tak ada pilihan sebab sebagian besar menu terbuat dari ayam. Aku berharap akan makan dengan lahap, sebab tampilan dan harga menunjukkan kalau kiranya makanan tersebut lezat dan memikat. Saat menu tersebut dihidangkan dimeja, aku langsung bisa menerka bagaiman rasanya. Masakan ini tak mengeluarkan aroma yang menggugah. Bumbunya kurang pas dan ayamnya adalah ayam potong yang tidak segar. Duh, bete deh. laper nih!!!! makanan mahal begini kok rasanya aneh bin ajaib. Untuk kampus sekaliber UI, kehadiran makanan dengan rasa aneh seperti ini bisa membuat semangat belajar drop. Menyantap makanan bukan asal kenyang, melainkan harus memenuhi standar gizi yang diperlukan tubuh juga membangkitkan selera sehingga membuat lebih bersemangat. Kalau aku jadi mahasiswa UI kelak, aku gak mau lagi makan di kantin ini, cuma buang-buang uang. Lapar, lapar, lapar!!!

Aku tahu, orang yang memasak makanan itu kecewa saat membwa piring dengan setengah daging yang tidak kusentuh. Aku mohon maaf karena tak menghabiskan masakanmu. Aku tahu bagaimana perasaan saat masakan kita tak disukai orang. Tapi itulah pelajaran utama berbisnis makanan. Kuharap lain kali masakanmu lebih enak dan diiolah dari bahan-bahan yang segar. 

Berjejalan lagi!
Balik ke Jakarta. Itulah satu-satunya yang ingin segera kulakukan setelah meninggalkan kampus UI dan membeli tiket, lagi-lagi untuk kereta ekonomis. Aku bukannya tidak mau membeli tiket Ekonomi-AC, tapi keret itu masih di Bogor, dan aku gak mungkin menyia-nyiakan waktu hanya bengong di stasiun. Dan ketika kereta datang, alamak!!!! penuh sesak macam kerajang jemuran ikan asin. Banyak yang memilih duduk diatas atap kerepa pula. Kukira siang bolong begini penumpangnya tak sebanyak pagi, namun perkiraanku salah. tadinya aku enggan naik dan hendak menunggu kereta selanjutnya. Sunggu membludak seperti angkutan mudik lebaran. Tapi, kapan aku sampai ke Jakarta? Baiklah, aku nekat. Ruang hanya tersisa untuk udara yang tak lagi berguna selain hanya memompa paru-paru. Aneka bebauan mulai dari parfum murahan hingga makanan menyatu di udara dan membuatku mual. Inilah realitas yang kuhadapi dan aku kini tahu betapa menderitanya menjadi warga miskin-jelata yang mengadu nasib di Ibukota. Untung saja lima belas menit kemudian seorang ibu muda yang akan segera turun memberiku tempat duduk. Hm, lumayan untuk mengurangi rasa pegal dan bisa tidur sejenak. 

Setelah semakin banyak penumpang yang turun, tibalah saatnya menyaksikan kekacauan akibat sampah yang ditinggalkan penumpang dari dalam kereta. Lalu aku dikejutkan oleh seorang lelaki yang menyapu lantai kereta sembari mencari botol-botol plastik. Setelah memasukkan botol-botol itu kedalam karung, ia kemudian menadahkan tangannya kapada penumpang dengan wajah memelas. Inikah wajah jelata? Ah, negeri ini, kapan slogan sejahtera dan berkeadilan sosial terwujud dan berkesinambungan? ini abad 21, tak lama lagi abad Doraemon atau abad teknologi mesin, apakah jelata ini akan tetap dibiarkan begini? Duh, aku malah jadi pusing sendiri. 

Jakarta-Depok, 20 Juni 2011
Lelahku menunggu kesempatan untuk memejamkan mata, tapi aku harus stay di perpustakaan, oh...


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram