SUNGAI DI DEPAN RUMAHMU



Dulu, saat aku masih remaja, aku seringkali merenungkan banyak hal dipinggir sungai tempat aku belajar berenang. Sungai yang jernih dan memantulkan bundar matahari di langit tinggi. Riaknya-riaknya yang kecil menerbitkan permata-permata berkilauan saat bersentuhan dengan gelombang cahaya. Aku seringkali mencari bebatuan unik didasarnya dan menjadikannya hiasan di kamarku. 

Dulu, saat aku masih remaja, aku seringkali mengkhayal di pematang sawah sambil menghalau burung-burung dan memimpikan mendapat telur itik tergeletak disekitarnya, atau buah-buahan yang matang di pohonnya sehingga bisa kupetik. Saat itu aku menyanjung kerjasama awan, angin dan matahari. Mereka menari serempak seperti dalam sebuah perayaan. Aku senang memperhatikan awan yang menaungi pesawahan dari kegarangan matahari. Dan aku tahu, pemandangan itu telah lenyap sejak 12 tahun lalu. Saat sebuah proyek negara menenggelamkan lokasi rekreasi sederhana orang-orang desa.

Saat aku tiba di kotamu beberapa bulan lalu, aku melihat kau dan masyarakatmu adalah masyarakat yang kosong. Kotamu yang terkenal hingga ke penjuru dunia ini tak sehebat yang digembor-gemborkan. Maaf jika aku bilang bahwa masyarakat di kotamu ini sakit. Pagi hari, aku melihat orang-orang hanya sibuk dengan hobi mereka, termasuk hobi membuang sampah ke sungai. Sungai di depan rumahmu. Kalian membuang apa saja ke sungai dan membebankan sungai sebagai pembersih sampah yang kalian produksi. Tidakkah kau sadar bahwa tempat tinggalmu ini adalah kota gagal, kota aneh yang dipenuhi diskriminasi. Di kotamu, berkumpul cerdik cendikia, orang-orang terkaya dan pejabat pemerintah. Tapi, kemana mereka? Apakah mereka bersembuntyi di belakang meja dan studi banding ke luar negeri atau sibuk merencanakan sebuah proyek? tak pernah sekalipun kulihat mereka mengunjungi kalian dan memberikan bimbingan layaknya pemimpin kepada rakyatnya.

Siang hingga sore hari, mereka sibuk melatih burung merpati untuk terbang dengan gesit, membangun sarang merpati dan kandang kelinci, atau sekedar duduk-duduk di bangku kayu. Anak-anak bermain di jalanan, mengalangi orang-orang yang berjalan atau kendaraan yang berlalu lalang, dan sebagiannya lagi hanya memandangi sungai dan jalan-jalan yang mereka kotori. Malam hari, setelah dagangan mereka habis terjual, puluhan kantong plastik sampah mereka buang kedalam sungai. Mungkin berharap segera ke laut dan laut membersihkan semuanya. Kau tahu, mereka membebankan proses pembersihan kepada alam.

Kotamu bau, sesak tak beraturan. Langit kotamu tidak biru dan suaranya dipenuhi kebisingan. Setiap hari bergitu dan semakin hari semakin bertambah buruk. Aku ingin bicara, tapi apa daya. Aku cuma rakyat biasa sepertimu, yang tak punya kuasa.

Aku sangat rindu kampung halamanku, desa yang sederhana namun begitu nyaman. Aku ingin, modernitas tak merengkuhnya hingga desaku akan menjadi korban seperti kotamu. Aku ingin, sungaiku tak menjadi seperti sungai di depan rumahmu. Meski airnya tak sebening dulu, namun warnanya terbentuk akibat tanah yang tergerus, bukan oleh sampah-sampah dari dunia modern seperti dunia di kotamu.

Aku tak tahu, sampai kapan sungai di depan rumahmu menjadi korban atas sikap modern masyarakatmu yang salah kaprah. 

Jakarta, 02 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram