Cerita Tentang Jakarta # 25

Beef Teriyaki
Hari ini, sejak pukul 10.30 WIB hingga waktu Maghrib, aku jalan-jalan dan makan-makan bareng kawan lamaku, teman kos sewaktu masih kuliah di Universitas Lampung. Beliau (teteh) lulus tahun 2004, tahun kedua aku kuliah, dan kembali ke Jakarta untuk menjadi guru. Kami berjumpa di Gramedia Matraman, Jakarta Pusat dan saling meledek penampilan masing-masing. Sembari berkeliling diantara rak-rak buku, aku dan dia berbagi cerita ringan mengenai kehidupan kami masing-masing. Setelah itu kami ke Plaza Atrium Senen untuk makan siang di restoran Jepang. Hm, yummi, tapi kenyang banget. Lantas kami memilah-milah high heels di toko seluruh toko sepatu di Atrium, sayangnya, meski semua toko telah kami masuki dan beberapa sepatu telah kami coba, tak ada sepasang pun yang nyangkut dihati. Jalan-jalan lagi ke Plaza Arion di Rawamangun, sama saja. Cuma keliling-keliling saja. Capeeeeeeek.

Tapi setelah ini ada misi penting. Jadi Mak Comblang buat si teteh dan seseorang. Episode perjodohan. Ada temannya kawan yang sedang mencari calon istri, sementara temanku sedang mencari calon suami, klop deh. Semoga mereka berjodoh. Semoga dengan mempermudah jodoh seseorang, jodohku akan dimudahkan. Amiin.

Bebek Goreng Cabai Ijo
Masih lelah karena seharian terus jalan-jalan di jalanan Jakarta, malam ini aku harus menemani seorang kawan (Tasya) di hotel tempatnya menginap sebelum keberangkatannya ke Philipina besok pagi. Katanya dia merasa grogi menghadapi jam-jam keberangkatan sendirian saja. Dia juga memintaku menemaninya ke Bandara Soekarno Hatta, mengantarnya hingga ia dipastikan masuk ke lambung pesawat. Belum makan malam, lapar menyerang. Setelah berjalan lama kami tak menemukan warung makan, akhirnya kami di makan warung jalanan di Jl. Kramat Sentiong, menunya bebek goreng cabai ijo. Hm, sedap. Sambalnya mantap banget, mak nyos. 

Kekacauan Jalanan
Oh ya, menyoal jalanan, sebagaimana hari-hari biasanya di Jakarta, Jalanan adalah lapangan bagi setiap pemain untuk berlomba. Para pengemudi kendaraan berlomba untuk menjadi yang tercepat dan tak terhalang rutinitas perubahan warna lampu di perempatan. Sedangkan para pejalan kaki berlomba untuk melintas tanpa harus menjadi korban kendaraan yang lalu-lalang seperti kesetanan. Di beberapa lokasi lampu merah yang ramai, memang tak ada tata nilai dalam berkendara dan entah kemana para polisi lalu lintas. Semua ingin mendahului dan berhenti melebihi jalur yang telah ditetapkan. Disini, pejalan kaki merugi. Tak cukup rasa kesal untuk menghadapi semua kekacauan di jalanan Jakarta, sebab nampaknya makin hari setiap pengendara makin gila dan mungkin menganggap bahwa merekalah raja jalanan. Di jalanan ini, tak ada sikap saling berbagi dan saling menjaga keselamatan masing-masing. Maka siapa yang lambat bergerak, matilah dia. 

Jakarta kacau, memuakkan dan menyeramkan. Aku ingin pulang!!!!!!!!

Jakarta, 04 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram