Pahitnya Kopi



Bagi petani kopi seperti keluargaku, gagal panen adalah kesedihan. Itulah yang kutangkap dari cerita pamanku mengenai kondisi para petani di desa kami, juga para petani kopi se kabupaten Lampung Barat. Pamanku mengatakan bahwa beberapa bulan yang lalu, saat bunga-bunga kopi tengah berevolusi menjadi buah kopi mungil di ranting-ranting, cuaca memburuk selama berminggu-minggu. Hujan lebat turun lebih lama, terkadang disertai angin kencang. Alhasil, buah-buah muda yang belum kuat itu dan bunga-bunga kopi yang tengah mekar bergururan, jatuh ke tanah. Tak ada yang sanggup melawan cuaca, kata pamanku.

Akibatnya, kondisi perekonomian di Lampung Barat lesu. Yang lesu tak saja petani yang harus memikirkan jalan keluar bagi kelangsungan hidup mereka, juga para penampung dan bos yang omsetnya menurun drastis. Hingga saat ini, harga biji kopi terbilang semakin tinggi, namun para petani tak punya barang. Oh, sungguh sedih sekali. Seharusnya panen adalah masa-masa yang membahagiakan, saat dimana anak-anak tersenyum sebab mereka akan mendapat tas, sepatu atau baju baru dan saat para istri tersenyum karena akan membeli perhiasan atau baju baru. Kandas semua dan kini hanya kesabaran yang membalut hari-hari mereka. Hidup sebagai petani tak ada asuransi seperti pegawai kantoran, jika mereka rugi ya rugi, dan tak ada uluran tangan dari negara atas nasib mereka.

Jika mereka menghadapi keadaan seperti ini, kopi rasanya begitu pahit.

Jakarta, 23 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram