Kau Harus Pulang, Rara (1)



Bulan lalu, saat aku berkesempatan pulang ke rumah, aku berkunjung ke rumahmu. Aku bertemu ibumu. Dia bertanya mengapa kau tak pulang bersamaku? Ibumu semakin tua dan membutuhkanmu dan beliau sangat merindukanmu. Benarkah kau tak pernah pulang, Rara? Apa yang terjadi denganmu sampai-sampai kau menolak pulang ke rumahmu sendiri, dimana keluargamu menunggumu dan merindukanmu. Apakah kau masih marah dan menyimpan kemarahan itu di hatimu selama bertahun-tahun?

Rara, ibumu begitu merindukanmu. Setiap pagi ia menyiram bunga-bunga yang kau tanam dengan kasih sayang, dan sore harinya beliau duduk di beranda rumah berharap kau pulang. Beliau juga selalu membersihkan kamarmu dan menjaga buku-bukumu dari gigitan tikus. Beliau juga sering berlama-lama menatap photo-photomu di album keluarga. Sesekali beliau menyeka airmatanya dan tersenyum penuh kepiluan saat memandangi photomu sewaktu wisuda. 

Sore itu, saat aku berkunjung ke rumahmu, ibumu tengah duduk di beranda sembari menunggumu. Saat aku membuka pagar, beliau bangkit dan memiringkan tubuhnya agar dapat melihat dengan jelas siapa yang datang. Saat beliau tahu aku yang datang, beliau duduk kembali dengan wajah kaku. Menurutku nyaris menangis. Aku memberi salam dan beliau masih ingat padaku. Katanya, "Ini Putri teman sekolahnya Rara waktu SMU ya? Rara tidak ikut pulang, Nak?" Dan saat itu aku tahu bahwa Kau lama tak pulang, Ra.

Aku mengaku pada ibumu bahwa kita sudah sangat lama tak bertemu sejak kau memutuskan untuk kabur dihari pernikahanmu. Aku tak tahu kau dimana dan bagaimana keadaanmu. Semua tentangmu seakan-akan hilang ditelan bumi. Kau pergi entah kemana dan tak pernah memberi kabar. Bagaimana keadaanmu sekarang, Ra? Kuharap kau tak lagi marah, toh kau sudah berhasil lari dari pernikahan itu.

Ra, ibumu tinggal dalam kesepian yang sempurna di rumah besar kalian. Tak banyak saudaramu yang mengunjunginya setelah kau mempermalukan mereka hari itu. Adikmu sibuk dengan jadwal kuliahnya dan seperti jarang pulang. Jarak antara Jawa dan Sumatera memang jauh dan memberatkan bagi adikmu untuk sering menjenguk ibu kalian. Kasihan ibumu. Bagaimana kalau beliau sakit parah?

Bersambung

Jakarta, 12 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram