High Heels dan Percaya Diri



Sebelum hari ini, aku memiliki pendapat bahwa high heels adalah sepatu/sandal berhak tinggi perempuan muda yang menambah percaya diri sehingga begitu banyak perempuan yang memakainya. Nyaris seluruh toko sepatu dan sandal wanita memajang high heels yang manis, imut dan gemerlap. Banyak perempuan kulihat memakai high heels yang tingginya lebih dari sepanjang jari tengah dan terkadang kecil seperti tangkai daun pepaya. Perempuan terutama di perkotaan bahkan memakai high heels untuk ke kampus dan ke tempat kerja. Penggemar high heels nampaknya semakin banyak sehingga high heels berbentuk unik bermunculan untuk menggaet para perempuan.

High Heels cantik
Pagi tadi aku mengantar kawanku, Tasya, ke bandara Soekarno Hatta sebab ia harus berangkat ke Philipina untuk melanjutkan studi S2. Karena aku memakai dress batik, kan aneh kalau aku pakai sepatu sport jadi aku memakau high heels (gak tinggi-tinggi amat kok) yang kubeli beberapa bulan lalu saat ada diskon 80% di Matahari. Sebelumnya, aku hanya sesekali saja memakai high heels, misalnya kalau kondangan. Setelah itu kembali ke sepatu atau sandal ceper. Aku gak berani pakai high heels yang tinggi banget, yang membuat pemakainya nampak seperti berjinjit.

Dari hotel tempat kami menginap menunju bandara sih belum kerasa dampaknya karena kami menggunakan taksi. Namun, ketika aku menemani Tasya menuju loket imigrasi bandara yang lumayan jauh aku baru meringis sebab kakiku rasanya sakit sekali. Penderitaanku ditambah lagi saat aku harus ke tempat tunggu bus damri menuju Gambir. Alamak! siapa sih yang menciptakan high heels, bikin perempuan tersiksa saja. Then, penderitaan baru bertambah berat manakala aku harus berjalan di jembatan penyebrangan di halte Senen sebelum aku melanjutkan perjalanan ke Salemba. Hufff, gile bener nih high heels!


Sambil menonton komedi di televisi pikiranku melayang pada kegiatan temanku memilih high heels untuk sebuah pesta yang akan segara dihadirinya. Kami berkeliling dari toko sepatu yang satu ke yang lainnya di Plaza Atrium Senen. Aku hanya melihat-lihat sebab aku sedang tak berniat membeli apapun (Aslinya sih gak punya duit, he..he..). Dibandingkan sepatu/sandal laki-laki, sepatu/sandal wanita memang lebih bervariasi dan tentu saja banyak pilihan high heels mulai dari yang tinggi haknya 5cm hingga yang entah berapa ukurannya (pokoknya > dari 10 cm). Aku sih gak paham-paham amat mengenai high heels dan jenis-jenisnya, yang pasti aku melihat bahwa high heels yang dipajang cantik-cantik dan bertabur hiasan layaknya alas kaki para putri dan selebritis.


Sebenarnya banyak pendapat mengenai high heels. Ada yang bilang perempuan yang memakai high heels terlihat lebih kuat, seksi, feminim, lebih tinggi dan tentu saja glamor sehingga mereka terlihat lebih percaya diri. Namun ada yang berpendapat bahwa mereka lebih suka jika melihat wanita menggunakan sepatu balet dan terutama para lelaki tak suka ia menjaid lebih pendek dari wanita yang menggunakan high heels. Kita dapat menjumpai wanita pengguna high heels dimana saja mulai dari pegawai negara, mahasiswa, pelajar, model, selebriti, chef hingga anak perempuan yang masih kecil. High heels untuk anak-anak memang gak tinggi, tapi ya nampaknya cukup membuat kaki mereka sakit. Yang paling sering membuatku merasa heran adalah para dancer yang menggunakan high heels dengan hak cukup tinggi tapi tetap fokus menari. Gimana rasanya kaki mereka (terutama betis) setelah menari ya? Tapi, mau gimana lagi jika menggunakan high heels membuat penggunanya merasa lebih percaya diri dan tentunya tren perempuan modern yang tak bisa dielakkan?


Katanya, menggunakan high heels yang terlalu sering dan pemilihan yang tidak sesuai dengan ukuran dan bentuk kaki akan membuat pemakainya menderita. Hal tersebut disebabkan oleh tidak lancarnya peredaran darah disekitar betis. Ya, secara sederhana rasa pegalnya seperti berjalan sembari berjinjit. Masuk akan sih sebab aku saja merasa jari-jari kakiku pegal padahal yang kupakai sendalnya, bagaimana kalau memakai sepatu? Atau saat aku memakai high heels aku tak merubah ritme berjalanku yang cepat? Tapi, kelak, aku tak ingin terlalu sering menggunakan high heels. Aku khawatir jari-jari kakiku akan menyatu dan menjadi seperti kaki katak.

Jakarta, 07 Juni 2011
Sepulang dari Bandara Soeta capek banget!


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram