Rencana-Rencana Jahat Ratu



Ratu, teman lamaku, mengundangku untuk bertemu di salah satu kafe di kawasan Teluk Betung. Aku memenuhi undangannya. Selain untuk memenuhi kebutuhan pertemanan, juga untuk memberinya ruang bagi cerita-cerita yang siap ia tumpahkan padaku layaknya hujan deras. Aku siap menjadi pendengar, siap menjadi museum bagi kisah-kisahnya. Seperti sebuah toples kaca bagi sekantong kacang goreng.

Ratu duduk di bagian pojok, dekat jendela. Aku segera menghampirinya dan nampaknya dia tak menyadari kehadiranku. Ratu melamun. Matanya memandang ke luar jendela, ke lalu-lalang kendaraan yang dibayangi pepohonan hijau. 

Tak lama Ratu tersadar akan kehadiranku dan segera saja dia berdiri dan memelukku. “Apa kabar? Thank you for coming.” Tanyanya sembari memperhatikan penampilanku. “Kurusan kamu sekarang, Ly.” Lanjutnya sembari mempersilakanku duduk. “And you are look so beautiful. You look like a Princess,  really pretty. I’m sure.” Kataku memujinya dan Ratu hanya tersenyum. Aku benar, lama aku memandangi wajahnya, Ratu memang terlihat semakin cantik. Wajahnya yang bening menyiratkan ketegaran dan kasih sayang. 

It is a good day. Lihat diluar sana, so clear. Cerah banget.” Ratu memintaku melihat ke luar jendela. “Tidak seperti hatiku. My heart was broken.” Tambahnya sembari memalingkan wajahnya, memandangku. Ratu memegang jemariku seraya mengatakan, “Ly, cuma kamu yang bisa menampung ini. Cuma kamu yang bisa mendengar. Listen me, okay. I trust you. Aku percaya kamu, Ly. Aku menitipkan semuanya padamu, please.” Dan aku hanya bisa mengangguk. Sebagai teman, aku hanya bisa memberikan yang terbaik bagi Ratu, sesuatu yang membuatnya nyaman. Dan saat ini, aku hanya bisa menjadi pendengar. “Ya. Tentu saja.”

Setelah seorang pelayan meletakkan dua cangkir Cappucino pesanan kami, Ratu mulai menuturkan kisahnya. Aku tercekat dan aku kaku layaknya selang air yang dipenuhi pasir. “Ayahku selingkuh dengan banyak perempuan, Ly. I can’t believe it. He lied to his family. How can?” Katanya sembari melap air mata dengan selembar tisu. “That impossible! Fucking him! Aku tidak rela jika para perempuan brengsek itu merampas semua harta keluarga kami. Itulah sebabnya aku memeras ayahku untuk menyelamatkan uangnya. Harta keluarga kami.” Pikiranku menyetujui apa yang Ratu lakukan. 

“Sabar ya.” Hanya itu yang bisa kukatakan padanya, sebab aku menanggung kepedihan yang sama dengannya, atau mungkin lebih pedih. “Entah bagaimana awalnya Papa memiliki perempuan lain, yang menjadi teman tidurnya, yang tidak dinikahinya, yang menggeser keistimewaan Mama. Aku bisa merasakan kegetiran hati Mama sebab aku perempuan.” Isaknya. “Kau lihat, kami punya segalanya. Kami punya uang berlebih, rumah mewah, kendaraan mewah, sekolah di universitas ternama dan properti keluarga kami selalu saja bertambah.” Ratu terdiam. “Tapi semua itu seakan tak berarti lagi manakala kehangatan kami seketika hilang dan berganti rasa sepi yang menusuk-nusuk, seperti nyamuk yang terjebak dalam balok-balok es. Aku kasihan pada Mama.”

And you know,  Lily, today is my birthday. But there is no anyone in my family ask to me, Happy birthday, Ratu, for example and gave me a special gift. Huh. No, no one.” Ratu  menutupi wajahnya dengan kedua punggung tangannya. “Happy birthday, Ratu. You’re the best. You’re a nice Princess in your family.  I very proud of you. Believe me.” Aku menggenggam tangan Ratu. “Someday, kamu akan tahu apa arti semua ini.” Ratu tersenyum, meski sebenarnya ia sedang berusaha menahan airmatanya. Matanya merah. 

Mataku pedih, ingin menangis. Aku bohong pada diriku sendiri dan pada Ratu bahwa aku baik-baik saja, “Everything will be okay.” Ratu mungkin lupa bahwa aku lahir sehari lebih awal darinya sehingga dihari ulang tahunnya, hari ini, adalah hari pertamaku di usia 27. That is my first 27, my great day.  Aku sangat sedih sebab dihari ketika aku beranjak kian dewasa, kedua orangtuaku mungkin melupakannya. Tak satupun dari mereka yang menelponku dan mengucapkan ‘selamat ulang tahun’. 

Padahal, hari  ini, hari yang kurencanakan untuk mengenalkan seseorang yang kuanggap tepat untuk menjadi calon suamiku pada mereka. Namun kemudian aku bimbang, aku  takut tak bisa keluar dari bayang-bayang kehancuran pernikahan kedua orangtuaku. Semakin aku berusaha memahami pilihan mereka, semakin aku terjepit dalam ketakutanku. Aku takut mengalami kegagalan yang sama. Ini buruk. 

Hari ini, yang seharusnya menjadi hari berkumpulnya aku dan keluargaku dalam rangka pengenalan dengan calon menantu mereka, justru kedua orangtuaku yang meninggalkanku dan melupakanku. Tak satupun dari mereka yang menelponku untuk membuktikan bahwa mereka tidak lupa berapa usiaku kini dan apa yang seharusnya dilakukan gadis seusiaku. 

“Lily, did you listen me?” Ratu menepuk bahuku. Aku meminta maaf padanya bahwa curhatnya telah menyeretku pada masalahku sendiri. “Alhasil, aku berhasil mengambil uang Papa dalam jumlah yang sangat banyak. Aku berhasil membujuk Papa untuk memberikan warisanku dengan alasan agar aku bisa mengelolanya sendiri, untuk belajar mandiri. You know, it is bullshit! Mana bisa aku mengelola perusahaan Papa. Aku hanya memainkan muslihat, daripada para perempuan durjana itu yang memilikinya.”  

“And…” Ratu menghentikan kalimat yang baru dimulainya, lalu menyeruput Cappucinonya. “Aku berhasil membujuk Papa agar beberapa apartemen dan beberapa rumah kami di Jakarta, dan dua unit villa di Bogor diganti kepemilikannya atas nama aku dan kedua kakakku. Kami berhasil. Tapi itu tak cukup.” Dan aku hanya bengong, memangnya sekaya apa keluarganya? “Aku benci melakukan ini, seakan-akan aku ini anak serakah yang tak percaya kasih sayang ayahku sendiri. But, I have to do that.”
            
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?” Tanyaku. Ratu terdiam dan memilin-milin ujung tisu. “Rencannya, hari ini, di hari ulang tahunku, aku ingin membuat masalah besar di keluargaku agar Papa sadar bahwa dia telah melalaikan keluarga, terutama aku si bungsu. Aku punya rencana jahat, Ly. Sangat jahat.” Aku penasaran dan apakah dia mengundangku agar aku membantunya menjalankan rencana jahatnya? Apakah mungkin pembunuhan? Ah, aku tak sanggup membayangkan Ratu akan membunuh ayahnya sendiri meski lelaki itu tak serupa seorang ayah lagi. “Tapi jangan kau kira aku akan melakukan pembunuhan terencana pada ayahku sendiri. I’m not a murderer. Aku hanya ingin menyadarkannya dan mengembalikannya pada kami, pada Mama. That's enough.” Ratu menyanggah prasangka burukku. Syukurlah.
             
“Tadinya, aku ingin mengaku bahwa aku hamil diluar nikah. Ya, pura-pura begitu lah. I think itu akan membuat shock Papa dan membuatnya sadar bahwa aku memerlukan perlindungan. I very need him, and everyone in his family need him, his secure.” Aku terkejut dan kupikir itu ide gila. “Hah? Itu ide gila, Ratu.” Kataku dengan suara keras. Ratu hanya tersenyum. “Ya.” Akunya.
             
“Kakakku menolak sebab rencana gila itu hanya akan menghancurkanku dan merusak nama baikku. Kakakku sampai bilang begini, Ratu, bagaimana mungkin kamu punya pikiran gila, bagaimana kalau berita bohong itu keluar di koran dan jadi bahan pembicaraan publik. Kamu tidak akan mendapatkan Papa dengan cara ini. Kamu hanya akan mempermalukan keluarga kita, membuat bisnis keluarga kita hancur dan kamu mau kamu digolongkan sebagai sampah masyarakat? Bla… bla… bla…, kamu tahulah itu cuma ocehan murahan kakakku. Harta, kehormatan. Huh.”
             
“Akhirnya aku sadar, bahwa rencana itu memang aneh dan tentu saja buruk. Aku tahu, seharusnya aku membuktikan bahwa meski keadaan keluarga kami hancur begini, tapi aku bisa menjaga kehormatanku. Aku virgin. Sementara Papa mungkin telah merusak kesucian seorang gadis. Mungkin saja perempuan selingkuhannya seusiaku. Hiks hiks. Aku harus bisa membuktikan bahwa persoalan semacam ini tidak boleh membuatku gelap mata, hingga menjerumuskan diri sendiri.” Ratu kembali menangis. Aku memberinya selembar tisu, lalu kemudian sekotak tisu. Ratu menangis tersedu. 
             
“Sabar ya. Setidaknya kamu masih punya Mama dan kakak-kakakmu. Kamu juga punya banyak rumah sehingga tak harus kehujanan. Kamu punya banyak uang untuk hidup sehingga tak perlu kelaparan jika Papamu tak kembali. Kamu bisa melakukan charity misalnya, untuk membuat harta keluargamu lebih berkah.” Kataku sembari menyembunyikan kesedihanku dan menahan air mataku sendiri agar tak mengalir.  Jika saja Ratu tahu bahwa keadaannya lebih baik dari keadaanku, tentu dia tak akan sesedih ini. Dia memiliki segala hal yang bisa membuatnya kembali bahagia meski tak akan pernah sempurna.
             
Jika saja Ratu tahu bahwa keluargaku telah hancur sejak aku masih sangat kecil, sejak aku masih belum mengerti arti sebuah perselisihan, sejak aku belum bisa menerima bahwa sebagian orangtua harus berpisah dari anak-anaknya. Tentu Ratu tak akan semarah ini. Aku tak punya apa-apa selain harapan dan keluargaku tak punya banyak harta yang sebagiannya mungkin hakku dan aku takut untuk berbuat muslihat untuk menguncang perasaan mereka. Bahkan, dihari dimana aku  merasa disakiti oleh mereka, aku hanya bisa menunggu mereka datang padaku. Aku tak bisa marah atau pun menuntut orangtaku.
            
Ratu telah menghabiskan semua tisu didalam kotak. Dia mendongakkan wajah dan membenahi rambutnya yang basah oleh keringat dan airmata. “Are you okay?” Tanyaku sembari mengintip wajahnya yang sembab. “Me?” Tanyanya padaku sembari menunjuk wajahnya yang sembab memastikan riasannya baik-baik saja. “You still okay. Still pretty.” Kataku menghiburnya, tak mau mengatakan penampilan sebenarnya yang mungkin akan membuatnya menangis lebih lama.
            
“Ly.” Ratu membuka tasnya dan mengambil sebuah amplop. “I never forget you. Today is your first day in 27. Congratulation.” Ratu memelukku. “That great day, you know. I’ll be fine. And you’ll be the best. Thank you.” Ratu memelukku lagi. “Ini…” Ratu menyerahkan amplop itu padaku. “This is for you and your sister.” Katanya sambil memintaku membukanya. “Apa?” Tanyaku.
             
“Buka aja.” Ratu tersenyum.
Aku ternganga. “Ratu? Bagaimana mungkin? Ini uang keluargamu.” Aku memasukkan kembali cek kedalam amplop dan memberikannya pada Ratu.  Amplop itu tergeletak ditengah meja. Ratu mendorongnya ke arahku. “Ini uang untuk biaya kuliah adikmu. Dan rumah kecil yang ada di Bandar Lampung ini untukmu. Mungkin saja nanti kau mau memulai hidup baru. Atau kamu bisa menggunakannya untuk apapun yang kau mau. Ini charity yang kau bilang tadi. Ah, masa kamu ngga ngerti maksudku.” Ratu tersenyum malu sementara aku masih melongo.
             
Apa benar ada orang sebaik Ratu, yang memberikan sebagian uangnya padaku secara cuma-cuma? Tidak mungkin. “Ratu, aku tidak bisa menerimanya. Berikan saja pada panti asuhan, mereka lebih berhak. Please.” Aku meraih tangan Ratu dan meletakkan amplop itu di telapak tangannya. Ratu mendelik. “Tidak berhak? Kamu ini polos, bego atau pura-pura sih?  Everything in the envelope is for you! And the check is for your sister! Understand?” Suaranya meninggi. Aku tiba-tiba sangat ketakutan ketika suara Ratu meninggi. Kulihat matanya mendelik, marah dan haus.
             
Ratu duduk dan wajahnya terlihat begitu kejam. Kemana Ratu yang dipenuhi air mata yang sedari tadi menangis dan mengadu padaku? “Ratu? What wrong? Tell  me something. What wrong with you? What happen?” Meski aku memaksa, Ratu tak menoleh. Ratu mengambil amplop lain dari tasnya. Amplop tebal berwarna coklat. Amplop yang seakan-akan mengerikan.
             
Ratu diam dan dengan perasaan tak menentu aku membuka amplop coklat dengan tangan bergetar dan tubuhku berkeringat dingin. Puluhan photo berhamburan. Photo adikku. Adikku dengan seorang pemuda. Ah, siapa pemuda ini? Apa hubungannya dengan adikku sehingga Ratu perlu menunjukkannya padaku? Aku memandang Ratu meminta penjelasan.
           
“Berikan saja uang itu pada adikmu. Dan katakan padanya menjauhlah dari pacarku atau adikmu akan menyesal. Kau sendiri tahu apa yang kulakukan pada ayahku, kan? Aku bisa melakukan apa saja dengan uangku pada adikmu.” Ratu bangkit, tersenyum sinis dan meninggalkanku.
             
Rasanya, aku berubah menjadi pasir. Adikku.....

Jakarta, 14 Mei 2011

Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram