Gairah Pasar Tradisional



Aku bukanlah orang konservatif yang tidak suka produk-produk modern. Namun, aku juga bukan orang 'sangat' modern sehingga merasa jijik bersentuhan dengan dunia tradisional. Sebagai manusia yang hidup dalam dua himpitan, antara dunia tradisional dan dunia modern, aku seringkali menikmati kedua produknya. Salah satu produk yang tentua tak lepas dari kehidupan sehari-hari adalah pasar. Pasar merupakan produk buatan manusia atas kebutuhan mereka melakukan transaksi baik tukar menukar barang maupun jual beli. Sesekali aku berbelanja dan menikmati kemajuan di pasar modern, dan sesekali aku menikmati eksotisme pasar tradisional yang tidak semua orang dengan senang hati bertransaksi di dalamnya. Aku pastikan, nyaris semua orang menyukai pasar modern yang keren, bersih, nyaman, sistematis dan menghibur. Namun, aku tahu, banyak orang yang datang ke pasar modern hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu, bukan untuk berbelanja. Belanja di pasar modern hanya bisa dilakukan oleh mereka dengan kondisi keuangan mapan atau untuk pasar modern tertentu hanya bisa disentuh keluarga kaya, dan keluarga paling kaya. 

Pagi ini, aku menyempatkan diri berbelanja di pasar Paseban, pasar tradisional kebangggan masyarakat Salemba, Jakarta. Aku menyengaja ke pasar untuk membeli ubi jalar. Sudah agak lama aku tidak menikmati ubi rebus, terutama ubi ungu kesukaanku. Di pasar Paseban, aku bisa memperoleh 1 kg ubi seharga Rp. 5.000, dan jika aku membelinya di pasar modern atau minimarket niscaya aku harus merogok kocek Rp. 10.000 bahkan bisa lebih untuk produk yang sama. Saat melihat-lihat aktivitas di pasar yang padat dan diramaikan suara tawar-menawar antara penjual dan pembeli, aku menyaksikan gairah hidup para pejuang. Ya, siapa lagi kalau bukan mereka yang berjualan dna berbelanja di pasar tersebut. Banyak produk yang dapat dibeli dengan harga murah, yang jika dibeli di pasar modern maka selisih harganya bisa dibelanjakan satu sampai tiga produk lain di pasar tradisional. Barang bagus dan harga murah adalah dua prinsip penting berbelanja di pasar tradisional. Pun dengan yang kulakukan. Saat memilih hingga menimbang ubi yang kubeli, aku bisa bercakap-cakap dengan sang penjual. Lihatlah, dengan membeli 1 kg ubi, aku mendapatkan informasi tak saja mengenai 'alasan' mengapa ubi ungu begitu langka di pasaran, juga prediksi kenaikan harga beberapa produk pertanian menjelang bulan Ramadhan tahun ini. Si bapak tak lupa tersenyum dan mengucapkan terima kasih karena aku telah membeli ubinya, dan aku mengucapkan terima kasih karena beliau telah melayaniku, sebagai pembeli, dengan murah hati. 

Interaksi sederhana seperti ini membuat hidup rasanya indah dan tak ada jurang antara penjual dan pembeli. Setiap orang yang menjadi penjual dan pembeli di pasar tersebut adalah sama-sama tengah berjuang untuk hidupnya, berharap sedikit keuntungan yang konsisten seperti air yang mengalir tak henti-hentinya dan berharap memiliki pelanggan tetap sebagai indikator keberhasilan interaksi sosial antar keduanya. 

Berbelanja di pasar tradisional dan di pasar modern memang berbeda. Perbedaan tersebut nampak begitu jelas mulai dari bentuk fisik pasar, harga produk, layanan, sistematika hingga jenis pembeli. Sayangnya, serbuah pasar modern tidak diimbangi dengan perbaikn pasar modern sehingga banyak pelanggan pasar tradisional yang melarikan uangnya ke pasar modern. Hal ini, jika dilihat dari kondisi perekonomian Indonesia, sungguh menganggu. Bagaimanapun juga, keberadaan pasar modern seharusnya mengimbangi daya beli masyarakat dan bukan memaksa masyarakat meninggalkan pasar tradisional dengan berbagai iming-iming. Selain itu, pasar modern adalah milik beberapa gelintir orang saja sehingga keberadaannya membuktikan bertambahnya kekayaan pemiliknya yang kaya. Sementara pasar tradisional adalah pasar milik ratusan pedagang yang masing-masing berjuang untuk memperbaiki perekonomian mereka. Pasar tradisional, bagaimanapun juga, merupakan bagian penting dari kehidupan sebuah masyarakat seperti di Indonesia, yang perekonomiannya belum merata. 

Membahas pasar sebenarnya memerlukan kajian panjang dan analisa yang matang, dan aku jelas saja bukan pakarnya. Analisaku hanya berdasar pengalamanku berbelanja di dua pasar yang berbeda tersebut. Aku punya keinginan dan aspirasi bagi perbaikan pasar tradisional dan pembatasan pasar modern.  

Jakarta, 29 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram