Menikmati Durian Indonesia


Buah Durian 
Tahun ini, aku gak bisa menikmati musim durian di Lampung. Kawan-kawanku yang berkunjung ke lokasi SHK PBL di Tahura WAR mengatakan bahwa musim panen tahun ini, mereka kelimpahan durian. Aku tahu disana pasti banyak sekali buah durian yang disediakan petani untuk dinikmati secara cuma-cuma, bahkan mereka biasanya mengizinkan pengunjung untuk menunggui durian jatuh di kebun mereka. Ah sedapnya. 

Pohon Durian 
Tapi malam ini aku sungguh beruntung. Dua orang kawan kosan membawa dua buah durian matang yang harusmnya aduhai begitu menggoda. Ukurannya kecil, kira-kira seukuran kepala bayi dua tahun, tapi isinya padat, manis dan lembut. Dua buah durian kami makan bertiga saja karena kawan-kawan yang lain sudah terlelap di ranjang masing-masing. Ada dua hal yang memenuhi ruang imajinasiku ketika menikmati buah durian yang lezat. Pertama, aku semakin mantap ingin menanam durian di kebunku dan menjadikannya komoditas ekowisata. Kedua, aku ingin agar pohon durianku nantu buahnya lebat dan unggulan tentunya.

Sudah ah, duriannya sudah habis. 
Nyam-nyam sedap sekali....
(Lihat kebunku penuh dengan pohon durian: hasil berimajinasi.com)

Berdasarkan pengalamanku, buah durian tak hanya bisa dinikmati jika sudah matang. Masyarakat petani bahkan memanfaatkan buah durian muda sebagai bahan baku lauk pauk/ sayuran. Biasanya daging durian mengkal, yang belum matang tentunya, diiris sesuai selera kemudian diolah sebagai lauk. Bisa digulai atau ditumis bersama petai, cabai hijau/ cabai rawit hijau. Para petani yang tinggal di lokasi pertaniannya biasanya memanfaatkan buah durian seperti ini sebagai lauk dan dimasak dengan resep yang berbeda-beda. Secara umum rasanya enak. Selain buahnya lembut di lidah dan mengenyangkan, juga bisa dijadikan menu khas Indonesia terutama di daerah-daerah penghasil durian.

Tempoyak 
Masyarakat tradisional Lampung dan Semendo biasanya mengolah buah durian yang matang menjadi "Tempoyak", yaitu fermentasi durian untuk dijadikan bumbu/ sambal. Bagi penikmat makanan tradisional Lampung, Seruit, Tempoyak adalah salah satu bahan utama yang tak boleh tak ada.  Kalau di Sumatera Selatan biasanya Tempoyak dijadikan salah satu bumbu Pindang Ikan (Aku lupa namanya). Tempoyak merupakan makanan khas yang pembuatannya hanya bisa dilakukan ahlinya. Kalau aku sih, jujur, belum pernah mencicipi tempoyak. Bukan tak ingin mencoba, tapi lidah dan hidungku baru saja beradaptasi dengan bau durian yang menyengat. Aku baru doyan makan durian di tahun kedua perkuliahan.

Dalam dunia kuliner modern, tentu saja para pakar kuliner bisa mengolah buah durian menjadi aneka makanan yang lezat mulai dari juice, pudding, cake, pancake, keripik,  Sayangnya, selama ini durian lokal kalah saing dengan durian Bangkok yang buahnya besar dan isinya (katanya) lebih lezat dan tersedia sepanjang tahun. Untuk menjadi negara utama penghasil durian, Indonesia harus bisa membantu para petani durian mengembangkan bibit unggul dan menjadikan buah durian asal Indonesia sebagai legenda dunia.

Jayalah durian (made in) Indonesia!!

Jakarta, 28 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram