Cerita Tentang Jakarta # 25


Pasar Tradisional
Minggu pagi ini adalah jadwalku ke pasar bersama Kak Riri dan Mb Fina. Ke pasar Ginjing. Pasar tradisional tempat biasa kami membeli kebutuhan pangan untuk empat hari atau seminggu. Sejak pertama kali aku berbelanja di pasar ini, tak ada satu pun hal yang mengalami fluktuasi kecuali harga. Lapak-lapak para penjual tetap sama dan tak pernah ada yang berubah, termasuk barang dagangan mereka. Cara mereka menawarkan dagangan tetap sama sebagaimana mereka mereka menata barang-barang dagangan. Benar-benar tak ada yang berubah. Di sebuah lapak langganan kami misalnya, di pedagang -suami istri- berada di tengah-tengah dagangan  mereka, didekat timbangan dan kotak uang. Mereka berdua dikelilingi aneka bahan pangan yang diserbu pembeli. Ada kentang, cabai, wortel, bawang, jagung, tomat, jeruk, sawi dan labu siam. setiap barang selalu berada di posisi yang sama, nyaris tak pernah ada yang berubah. Dengan antrian yang rapi, para pembeli memilih barang apa saja yang mereka beli dan mereka dilayani satu persatu hingga tuntas. Kebiasaan kami adalah jika kami telah selesai melakukan transaksi maka kami akan menitipkan barang-barang kami padanya dan kami akan mengambilnya kembali saat kami hendak pulang. 

Semakin ke dalam, dimana sesungguhnya lokasi pasar resmi berada, kami menemukan semakin banyak pedagang dengan aneka dagangannya yang -sebagaimana yang lainnya- selalu berisi barang sama dengan penataan yang sama di tempat yang sama. Agak membosankan memang, seakan-akan pasar ini tak pernah berubah sejak pertama kali beroperasi. Namun kupikir-pikir mungkin hal ini baik juga untuk mmeudahkan penjual dan pembeli dalam memperoleh barang-barang yang mereka butuhkan. Keajegan sepertinya telah menjadi pertanda bahwa ada transaksi yang berulang dengan penjual atau pembeli yang sama setiap harinya sehingga perubahan pada posisi barang-barang akan mengakibatkan pembeli kesulitan menemukan barang yang diinginkannya dna penjual kesulitan untuk mempertahankan pelanggan. 

Perubahan yang terjadi di pasar ini, mungkin juga terjadi di pasar-pasar tradisioanl lainnya di Jakarta, ketika harga-harga komoditas pertanian lokal meroket. Hal ini seringkali terjadi dan membuat para pedagang atapun pembeli cemas. Komoditas yang mengalami kenaikan signifikan adalah cabai rawit, kalau di Lampung cabai rawit jenis ini ngga laku, sampai-sampai pasar ini harus menggantinya dengan cabai rawit impor. Jika dibandingkan dengan cabai rawit lokal yang harganya masih berkisar antara Rp.90.000-Rp.100.000/kg, cabai rawit asal Thailand kini mulai digemari para pembeli. Selain harganya lebih murah, Rp. 45.000/kg, warnanya merah merata dan bersih. Komoditi ini sangat menggoda pembeli hingga tak peduli lagi pada bagaimana nasib para petani cabai rawit negeri ini. 

Aku tak heran dengan bermunculannya produk pertanian luar negeri di pasar-pasar tradisional. Beberapa produk seperti jahe dan wortel pun diimpor dari Thailand. Apa bedanya? jahe impor ukurannya lebih besar namun tidak pedas dan tidak harum, sedangkan jahe lokal ukurannya kecil namun snagat harum dan pedas. Wortel impor bentuknya besar, cantik, tulangnya empuk dan bersih, sementara wortel lokal berukuran besar memiliki tulang yang beras sehingga tak terlalu disukai pembeli. Meski cantik, menurutku wortel lokal lebih manis daripada wortel impor dan lebih padat seratnya. 

Jualan tradisional
Sebagai pembeli, aku memang tak sembarangan membeli kebutuhan pangan. Idealnya sebagai pendukung perekonomian dalam negeri aku harus mengutamakan produk lokal. Namun, apa mau dikata jika produk lokal tak ada atau harganya selangit, ya produk impor adalah pilihannya. Yang membuatku heran adalah, masa iya sih kita harus mengimpor aneka bahan pangan dari negara tetangga padahal negeri ini adalah negeri agraris? masa iya sih bencana yang menimpa Yogyakarta san sebagian Jawa Tengah -yang memang menghancurkan lahan pertanian mereka-membuat kita kekurangan stok bahan pangan seperti cabai sehingga harus mengimpornya dari Thailand? setahuku, para petani di negeri ini tak kekurangan sayuran yang bisa mereka pasok ke pasar. Apa yang ditanam petani sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan dalam negeri. Mengapa pemerintah tidak melindungi petani dalam  negeri dan malah mendukung impor bahan pangan dari Thailand sehingga membuat petani Thailand lebih sejahtera? penjanjian bilateral macam apakah yang membuat negara sebesar Indonesia harus mengimpor bahan pangan dari Thailand?

Pasar ini, pasar yang tak cuma berisi pedagang dan pembeli serta barang yang diperjual belikan, juga berisi politik yang menghancurkan. Himpinan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) kupikir tak punya taring untuk melakukan perlindungan pada petani dan komoditas pertanian Indonesia.

Ketika pulang ke kostan sembari membawa bahan pangan yang baru kami beli, aku  berfikir keras tentang kemungkinan nasib pasar ini di masa yang akan datang. Produk pertanian dari negara manakah yang akan menjadi primadona?  mengapa tidak produk sendiri? sebab kupikir bahan pangan yang memiliki unsur hara tanah negeri ini lebih lezat dibandingkan dari negeri entah berantah. Sudah berbulan-bulan aku tak menemukan jahe lokal yang harum dan pedas dan kini harus kuakui bahwa cabai rawit Thailand mulai menggoda nasionalisme kami...

Jakarta, 13 Februari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram