KORBAN SEMUA KONFLIK


Suasana politik dalam negeri kacau balau akibat banyaknya urusan yang tak diselesaikan pemerintah dengan baik dan adil. Saat rakyat menunggu bagaimana negara bisa adil dalam menangani kasus korupsi yang melibatkan Gayus Tambunan dan banyak bos perusahaan-perusahaan raksasa, sekonyong-konyong kerusuhan atas nama agama mengguncang. Tenggelamlah kasus Gayus dan kini setiap telinga menunggu kabar mengenai akibat dari kerusuhan 'atas nama agama' yang baru saja menciptakan kekeruhan di masyarakat. Kasus-kasus di negeri ini sepertinya dengan sengaja dibuat tak selesai dan ditumpuk sekenanya bagai kue lapis. Kini rakyat tak tahu harus bersikap bagaimana manakala fokus mereka untuk mendesak pemerintah menyelesaikan kasus penting ini harus tertunda gara-gara kerukunan antar umat beragam yang ternoda. Lagi-lagi yang jadi sasaran empuk dalam konflik ini adalah Umat Islam sebab korban kerusuhan ini adalah Ahmadiyah dan Kristen. Para pengacau menggunakan atribut ke-Islam-an dan meneriakkan kalimat-kalimat pujian pada Allah seakan-akan mereka tengah berjihad. 

Sebagai Muslim, tentu saja aku gusar dengan keberadaan Ahmadiyah yang merupakan aliran sesat yang membuat Islam seakan-akan bermuka dua dan tak memiliki Integritas. Aku wajib membela agamaku dan mencoba meluruskan pemahaman-pemahaman yang keliru mengenai Islam. Aku wajib memberikan keterangan bagi siapapun yang membutuhkan keterangan yang benar mengenai Islam sesuai dengan kemampuanku. Sebab Islam adalah tentang pengakuan satu Tuhan yaitu Allah dan utusannya yang terakhir yaitu Muhammad. Maka semirip apapun kehidupan keagamaan penganut Ahmadiyah, mereka tetaplah salah sebab telah menyalahi pondasi keimanan mereka. Sebagai saudara seiman, maka setiap Muslim berkewajiban meluruskan pemahaman saudaranya yang salah. Itulah gunanya ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan atas nama Islam.

Namun, aku mempertanyakan satu keganjilan dalam peristiwa ini. Benarkah kaum Muslim yang melakukan makar terhadap penganut Ahmadiyah? apakah atribut keIslaman seperti peci/kopiah, sarung dan teriakan takbir bisa membuktikan bahw para perusuh itu Muslim? sebab aku banyak menemukan mereka yang bukan muslim terbiasa menyerukan kalimat-kalimat pujian kepada Allah dalam keseharian mereka dan tetap saja mereka bukan Muslim. Harus ada asas keadilan disini. Jika semua ini adalah makar yang dibuat oleh pihak tertentu dan menjadikan kaum Muslim yang awam sebagai kambing hitam, maka apakah kesalahan sepenuhnya bisa dibebankan kepada para perusuh yang entah siapa mereka sebenarnya? mengapa pula kerusuhan atas yang disebut-sebut nama agama selalu terjadi manakala suasana politik nasional tengah memanas dan negara berada dalam posisi terpuruk dan tak punya muka dihadapan rakyatnya? mengapa persoalan ini tak pernah tuntas dan menjadikan umat Islam yang secara kuantitas merupakan mayoritas di negeri ini seakan-akan merupakan umat biadab yang bertuhankan Tuhan yang biadab? mengapa terjadi hukum rimba dan pembunuhan secara sadis dan sebenarnya siapa yang melakukannya? tangan-tangan Muslim kah yang melakukannya? mengapa saat itu terjadi polisi hanya diam mengawasi dan mengapa jumlah mereka sangat sedikit? apakah ini adil bagi umat Islam yang selalu dikambing hitamkan? bacalah Al-qur'an dan bacalah semua kitab semua agama yang diakui negara ini, benarkah Al-Qur'an mengajarkan kekerasan, pembunuhan dan intoleransi terhadap mereka yang berbeda? benarkah krisis seperti ini membuat sebagian dari kita tiba-tiba menjadi manusia apatis dan menyalahkan Tuhan? mengapa manusia yang salah lantas dengan santai mereka menyalahkan Tuhan dan berkata lebih baik dia tak bertuhan? mereka pikir mereka siapa?

Di negeri ini, konflik merupakan sebuah produk dari pabrik bernama politik. Konflik -atas nama dan berlatar belakang apa saja- selalu tiba-tiba terjadi dan membungkam kepanikan rakyat akan suasana politik bangsa yang memanas. Lihatlah pemberitaan di televisi, semuanya nampak tidak lagi independen dan seperti sengaja menghilangkan berita mengenai krisis  yang selama ini bangsa ini alami. Semua tenggelam bagai kota-kota di Jawa yang tenggelam oleh lahar yang mengamuk.

Aku tidak setuju pada tindakan kekerasan yang dilakukan atas dalih apapun sebab kekerasan tak akan pernah menyelesaikan persoalan yang terjadi. Kekerasan hanya akan menciptakan api kemarahan yang kian lama membesar dan membakar dan melumat habis segalanya. Setiap persoalan memiliki hak untuk diselesaikan sesuai hukum yang berlaku dan setiap orang di negara ini tidak berhak menghakimi warga negara lainnya dengan melakukan kekerasan fisik maupun psikis. Kini, kebingungan melanda masyarakat  dan para pembuat keonaran sedang menikmati hasil skenarionya. Kebencian telah merasuk sanubari rakyat dan diantara mereka yang berbeda kini semakin berhati-hati. Entah sampai kapan sistem bobrok di negara ini masih menggunakan 'agama' sebagai kambing hitam untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. 

Jika mereka ketahuan dan berhasil ditangkap, mereka harus bertanggungjawab atas kekacauan yang melanda negeri ini dan melakukan pengembalian atas kepercayaan antar rakyat yang hilang. 

Jakarta, 13 Februari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram