Cerita Tentang Buruh # 1

mesinmesin
kabelkabel
panepanel
ruangruang
senyum mereka
tawa mereka
tangis mereka
'sabar' katanya.
hitam
abu-abu
biru: cuma itu warnanya
kipas
kotak14"
pil KB: cuma itu penghibur mereka
anak-anak
kekasih
saudara: cuma itu harta mereka

keadilan
kenaikan upah
kesehatan
kesejahteraan
tanah di kampung : Utopia mereka
dan mimpimimpi
mungkinkah menjadi kenyataan?


Aku memiliki beberapa orang sepupu yang bekerja sebagai buruh (tak ada sebutan lebih baik bagi pekerja kecil di pabrik-pabrik selain 'buruh') pabrik di kawasan Pulo Gadung, Jakarta, yang sejak kedatanganku ke Jakarta 3 bulan lalu belum ketemui. Akhirnya, momen akhir tahun masehi ini mempertemukan kami. Sepulang dari Yogyakarta aku mengunjungi mereka. Perjalanan Salemba-Pulo Gadung via Trans Jakarta lumayan jauh dan yang pasti lambung bis panjang ini disesaki penumpang yang pulang bekerja. Salah seorang sepupuku menjemputku di terminal Pulo Gadung dan membawaku ke tempat tinggal mereka. Jika aku adalah aktivis buruh mungkin aku akan sangat paham kondisi yang dihadapi buruh dan tak sesedih ini menyaksikan kehidupan mereka di gurun Jakarta ini. Dalam perjalanan kulihat pabrik-pabrik besar yang masih beroperasi. Motor-motor milik pekerja masih terparkir rapi. Para pekerja itu begitu bekerja keras demi kehidupan mereka. Sepupuku membawaku berkeliling untuk melihat-lihat beberapa pabrik sembari menunjukkan pabrik tempat mereka bekerja. Mereka bekerja di pabrik yang berbeda, ada yang milik Indonesia atau milik asing. Dan akhirnya aku tahu bagaimana cara menggambarkan betapa sulitnya para pekerja ini menjalani kehidupan mereka dengan gaji yang pas-pasan atau bahkan terkadang tak cukup. 


Hal pertama yang kusaksikan adalah rusaknya sungai-sungai kecil di sekitar pabrik. Tanpa harus melalui uji lab pun warna air itu bisa membuktikan bahwa ada limbah yang mungkin dibuang oleh salah satu pabrik di sekitarnya, ditambah sampah-sampah yang dibuang oleh masyarakat ditambah lagi dengan sampah-sampah yang dibawa arus sungai dari daerah hulu. Memasuki kawasan pemukiman yang sebagian besarnya adalah kos-kosan para pekerja hatiku semakin miris dan ingin menjadi petani saja. Rumah-rumah berhimpitan, tak menyisakan ruang bagi pepohonan untuk tumbuh; sampah bertebaran dimana-mana tanpa ada yang peduli; anak-anak bermain di sedikit tanah lapang yang dipenuhi sampah; kos-kosan para pekerja berjejer panjang seperti kue lapis yang dilem oleh telur. Inilah kehidupan di jantung Indonesia, kehidupan para pekerja yang telah memeras keringat untuk menghasilkan komoditas bermutu bagi bangsa ini. 

Antara ruang satu dengan yang lainnya di kos-kosan yang berderet-deret ini nampak tak jauh berbeda. Yang membadakan adalah ukuran menentukan harga. Satu kamar berukuran 3x3 m dihargai Rp.150.000/bulan dan yang memiliki ruang tamu dan dapur dihargai Rp.300.000/ bulan. Isi rumah para pekerja ini sangat sederhana; karpet untuk alas duduk, televisi, kulkas, tempat tidur, lemari dan aneka peralatan sederhana yang menunjang kehidupan mereka sehari-hari. Mereka menjadikan beranda untuk tempat menjemur pakaian atau tempat parkir kendaraan bermotor masing-masing. Beberapa keluarga yang memiliki modal menjadikan sebagai kos-kosan mereka sebagai warung (sebuah lahan basah bagi uang recehan dari anak-anak kecil yang hobi jajan) dan penyedia kebutuhan rumah tangga para pekerja. 

Namun, sesederhana apa pun kehidupan yang mereka jalani tetaplah berat. Ini Jakarta. Di Jakarta semua dibeli dengan uang, termasuk udara bersih/segar. Meski mereka mendapat gaji sudah sesuai UMR plus tunjangan ini-itu tetap saja teu cekap. UMR nggak sampai 1,5jt dan tunjangan pun ngga besar-besar amat tak pernah sebanding dengan kebutuhan para pekerja dan keluarga mereka. Bahkan, besaran tunjangan tak sama di setiap perusahaan. "Perusahaan Indonesia dan China tuh pelit," kata mereka, "Klo Perusahaan Jepang atau Korea mendingan, nggak nyekek amat ka buruh." sambung sepupuku. "Tempo hari, kita pernah demo besar-besaran nuntut UMR kita dinaikkan. Gimana enggak, sama daerah lain kayak Bekasi atau Karawang, UMR kita beda sampai seratus ribuan, kita yang di Jakarta ini lebih kecil, kan nggak masuk akal, padahal biaya hidup lebih mahal di Jakarta." sambung sepupuku yang lain. "Sok lihat nih saya baru gajian aja udah abis begini buat sewa kamar, uang makan, uang bensin sama bayar uang bulanan anak di kampung. Nggak bisa nabung dan ya hidup mah gini-gini aja jadinya." dan simpatiku tak akan merubah semuanya. Rasa simpati tak akan merubah nasib mereka menjadi lebih baik. Yang mampu mengubah nasib mereka adalah kebijakan perusahaan dan perlindungan negara yang adil. 

"Nggak ikut organisasi buruh atau semacam serikat buruh?" tanyaku dan mereka menggeleng. Ya, aku paham, bahwa tak mudah bagi seorang pekerja untuk bergabung ke serikat buruh. Telah banyak bukti bahwa serikat buruh terkadang hanya mementingkan organisasi mereka dibandingkan dengan nasib buruh. Mereka juga kupikir tak mau ambil resiko pemecatan dari perusahaan dengan bergabung di serikat buruh. Jika dipecat memangnya mau kemana lagi? tanah-tanah yang luas di kampung halaman tak bisa lagi diharapkan, sebab sebagain telah diproteksi negara atas nama perlindungan alam.


Inilah kenyataan yang tengah bangsa Indonesia hadapi. keadilan dan kesejahteraan serasa jauh panggang dari api. Sulit untuk menjelaskan mengapa bangsa yang kaya ini memiliki begitu banyak rakyat miskin. Ini bukan hanya tentang kebijakan yang tak adil, bukan hanya tentang perusahaan yang memperbudak pekerjanya, mungkin lebih mungkin jika disebut 'bahwa sebagai manusia kita lupa bahwa dunia ini bukan milik kita dan semua yang kita miliki akan kita tinggalkan, tapi meski kita sadari semua itu kita tetap saja tak mau berbagi, kita menyayangi harta benda melebihi rasa sayang kita pada keberadaan rasa kemanusiaan dalam jiwa kita, kita ingin menumpuk semua milik kita seakan kita akan memakanya dalam sekali suapan, padahal disamping kita begitu banyak manusia yang kelaparan.' 

Dan ketika kulihat air yang menghitam di sekitar perusahaan itu aku tahu bahwa perusahaan tak melakukan mekansisme pengelolaan limbah, tak memberdayakan dana CSR, tak menjaga keseimbangan alam di lingkungan perusahaan mereka beroperasi dan tak mematuhi UU PPLH. Tapi siapa peduli? apa pekerja peduli dengan semua itu sementara kehidupan mereka terhimpit? wilayah ini begitu gersang, begitu jauh dari gambaran Jakarta dalam kaca-kaca 14 inci. Dan apakah pejabat negara pernah menginjakkan kakinya di daerah ini? tidakkah mereka merasakan bahwa banyak kenyamanan yang menjadi hak pekerja dibungkam dengan keterpaksaan untuk mencari sesuap nasi. Bukahkah para pekerja ini berhak atas lingkungan yang baik dan sehat untuk menunjang kinerja mereka di perusahaan? 

Ah, aku tak paham secara detail, aku hanya menggambarkan apa yang kulihat. Ada joke di sebagian kalangan buruh guna membunuh kebosanan mereka "sudahkah anda minum pil kb?" seperti tulisan berisi pertanyaan serupa yang mereka tempel di balik pintu kamar.

31 Desember 2010

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram