PERZINAHAN vs PEMERKOSAAN

Hamil

Seorang teman kost gemetar setelah menerima telepon dari teman-teman kosnya di kampung halamannya. "Ada adik kosku yang hamil diluar nikah, Mbak." Katanya padaku dengan wajah sedih. "Kami tahu bahwa gaya pacarannya bebas, dan herannya bukannya menyesal dengan kejadian itu dia malah mau melanjutkan perzinahan itu dengan mempelajari bacaan-bacaan tentang melaukan seks ketika hamil, dan sepertinya dia berencana melakukan aborsi." Wajahnya bertambah sedih, sebab bagaimanapun tak lama lagi ia akan menikah. "Aku ngga nyangka begini jadinya, Mbak. Kenapa ya dia sanggup melakukan itu? Dia mau aborsi lagi. Ngga kebayang deh gimana keadaan dia sekarang."

Mencoba membayangkan yang terjadi, tentang seorang gadis yang hamil diluar nikah karena berzina, membuatku melayang pada sebuah percakapan antara aku, kawanku dan teman kos kawanku. Teman kawanku itu saat ini sedang melanjutkan S2 di FH UI dan bercerita mengenai gaya hidup kawula muda Jakarta yang pada awal kedatangannya dari Sumatera Barat untk kuliah, membuatnya nyaris shock. Dia masih tidak percaya bahwa banyak mahasiswa di Jakarta telah melakukan seks bebas dan menganggap bahwa seks adalah inti dari cinta dari perempuan dan laki-laki yang sedang berpacaran. Cerita ini memang bukanlah cerita pertama yang kudengar. Sejak lama aku telah mendengar cerita serupa, bahkan beberapa  pelakunya adalah perempuan berjilbab. 

Sulit untuk disangkal, meskipun aku tak punya bukti sama sekali bahwa hal-hal menjijikan tersebut benar-benar terjadi dan dianggap lumrah oleh masyarakat.

Sekitar tujuh tahun lalu, saat aku sedang menghabiskan masa-masa terakhirku sebagai siswi SMU, seorang kawanku juga melakukan hal serupa. Kawanku, seorang perempuan yang manis dan santun, hamil diluar nikah menjelang ujian akhir sekolah. Kami semua tahu dan guru-guru tahu. Kami juga tahu siap lelaki yang menghamilinya, yaitu pacar temanku yang lain. Beberapa minggu setelah pembagian ijazah, aku mendapat kabar bahwa dia menikah dengan pacarnya. Aku tak tahu apakah pacarnya juga memiliki andil dalam perzinahan bergilir yang menyebabkan aib mereka terkuak, yaitu kehamilan si gadis atau hanya sekedar kambing hitam untuk menyelamatkan si gadis dari hukum masyarakat. Satu hal yang pasti, para orangtua dan masyarakat selalu saja menyelesaikan persoalan demikian dengan cara yang salah.

Sebagai Muslim, aku menolak cara para orangtua yang mendapati putri mereka hamil diluar nikah, menyelesaikan persoalan perzinahan dengan menikahkan pelaku perzinahan tanpa review sosial. Bagaimanapun juga, perzinahan merupakan dosa besar. Orang boleh mengatakan bahwa jika si laki-laki dan si perempuan melakukan itu karena mau sama mau dan tanpa paksaan, maka masyarakat tak berhak menghukum mereka, sebab itu hak mereka. Namun, aku meyakini bahwa tak ada cinta dalam perampasan kesucian laki-laki atau perempuan yang melakukan perzinahan. Penentuan hukuman bagi para pezina dalam Islam tentu bukan tanpa maksud, sebab hal tersebut akan berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup pasangan pezina dan keturunan yang dihasilkannya, juga kelangsungan hidup sebuah masyarakat.


Masyarakat kini tak peduli lagi pada para pelaku zina selain menggunjing mereka namun mengakui pernikahan mereka, tanpa memberlakukan hukuman. Akibatnya, kehidupan sosial menjadi kacau balau. Sebab dengan menikahkan si pelaku perzinahan, persoalan belumlah selesai. Pernikahan yang dilangsungkan ketika mempelai perempuan dalam keadaan hamil adalah tidak sah, yang artinya sepanjang hidupnya pasangan tersebut melakukan perzinahan. Dan ketika si anak hasil perzinahan lahir, kepada siapkah dia memanggil ayah, sebab dia dibentuk sebelum kedua orangtuanya menikah. Selanjutnya, pernikahan seperti ini akan mengacaukan masa depan si anak. Di Sumatera Barat, anak yang lahir dari hasil perzinahan semacam ini tidak memiliki ayah dan ketika dia menikah harus memanggil wali hakim. Naas sekali plus mempermalukan si gadis!

Bayi korban aborsi
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa perzinahan banyak melahirkan anak-anak yang dibunuh sejak mereka masih berupa bayi kecil dalam kandungan ibunya. Jumlah bayi-bayi kecil dirampas hak hidupnya oleh orangtua mereka yang lebih mementingkan rasa malu dihadapan manusia daripada bertanggungjawab atas kehidupan yang Tuhan berikan akibat perbuatan mereka sendiri jauh lebih besar daripada korban perang. Menurut BKBN, ada 2.000.000 kasus aborsi di Indonesia per tahunnya yang artinya ada 2.000.000 bayi meninggal secara tidak wajar. Data statistik mengenai aborsi di luar negeri pada 1996, khusunya di Amerika, melaporkan bahwa ada 2. 000.000 korban aborsi setiap tahunnya dan jumlah itu melebihi korban perang manapun di seluruh dunia. Bahkan jumlah kematian akibat aborsi adalah 10 kali lipat daripada kematian akibat kecelakaan, kanker, bunuh diri dan pembunuhan. Sekarang, saat setiap pasangan tak menikah melakukan perzinahan dan melakukan aborsi atas darah daging mereka, berapa jumlah kematian bayi-bayi tak berdosa itu? Cinta, yang menjadi bingkai sebuah perzinahan ternyata bukan saja menyebabkan dua manusia menjadi amoral dan tidak bertanggungjawab, juga menjadikan mereka 'pembunuh'.

Di sisi lain, masyarakat sering menghakimi perempuan korban pemerkosaan sebagai perempuan kotor. Di negara-negara Arab, gadis-gadis yang menjadi korban pemerkosaan adalah gadis-gadis yang tak bisa dinikahi sebab mereka dianggap kotor, meskipun masyarakat tak pernah melekatkan predikat kotor pada si pemerkosa. Bahkan, seringkali gadis tersebut dibunuh oleh keluarganya sendiri untuk menjaga nama baik keluarga. Di Indonesia, hal demikian masih sering terjadi meskipun perempuan korban pemerkosaan dibiarkan melanjutkan hidup. Namun, dalam kasus pemerkosaan dimanapun di dunia ini, hanya sedikit saja para pemerkosa yang dihukum.

Dua kasus yang berlainan ini mendapat respon yang berbeda-beda. Namun, meskipun tindakan pemerkosaan merupakan tindakan kriminal, seringkali hukuman sosial yang diberikan kepada korban pemerkosaan lebih kejam daripada kepada pelaku perzinahan. Akibatnya, kini banyak perempuan dan laki-laki yang beranggapan bahwa cinta dalam sebuah pernikahan tak butuh virginitas, melainkan kepercayaan. Hukum Tuhan telah ditinggalkan dan para pelaku zina dan masyarakat yang mengampuninya, adalah penyebab hancurnya tatanan moral masyarakat. Dan selalu saja mereka berkilah bahwa semuanya atas nama cinta dan hak asasi manusia. Entahlah, dunia ini sudah kacau balau.

Kisah-kisah yang kudengar ini, yang membuatku merasa takut, mungkin sedang berlangsung di berbagai tempat di dunia ini. Dosa-dosa disemai dalam senyuman dan canda tawa, dan dituai dalam bentuk tangisan dan kekejaman tak terkendali. Dosa, yang kini dianggap remeh sebagian besar manusia sebagaimana mereka menganggap remeh kebenaran, sedang menyelimuti bumi dan siap menjatuhKan bala tanpa pandang bulu. 

Kepada perempuan: cinta bukanlah proses merampas kehormatan dan kehidupan, bukan pula sikap bodoh dalam membangun masa depan, tak pula kebutaan yang membuat duniamu tanpa lentera. Cinta sejati adalah cinta yang sopan dan bertanggungjawab.

Jakarta, 16 April 2011
-setelah menampung curhat teman kosan-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram