Mengapa Kita BERBEDA AGAMA?



"Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama: mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan" Narasi di awal film "?" membuat MUI berpendapat bahwa film terbaru besutan sutradara Habung Bramantyo ini haram.

Sepanjang pengetahuanku -aku masih harus belajar karena minim pengalaman- ada banyak buku, film hingga dakwah yang dilakukan para pemimpin umat Islam melalui lembaga tertentu yang secara halus menyatakan bahwa umat Islam dilarang menghormati perbedaan agama dan dilarang berkeyakinan bahwa setiap orang berhak atas pilihan keyakinananya masing-masing. Kontroversi terbaru mengenai hal ini adalah akan segera keluar fatwa haram dari MUI mengani film terbaru yang disutradarai Hanung Bramantyo yang berjudul "?". MUI beranggapan bahwa film ini akan memberi pelajaran yang salah pada masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, dalam menyikapi perbedaan keyakinan dan pilihan beragama. Hanung mengaku bahwa dia belum memberi judul film terbarunya ini, dan dia ingin penontonnya yang memberinya judul. Menurutku, terlepas dari 'konteks' film yang kontroversial menurut sebagian kalangan ini, film ini merupakan satu pelajaran penting bagi masyarakat Indonesia yang saat ini mengalami krisis toleransi dan krisis kepercayaan kepada sesamanya. Setiap mereka yang berkesempatan menontonnya pasti memiliki cara pandang yang berbeda. Bagaimanapun, perbedaan pandangan tersebut pasti berasal dari proses pembelajaran si penonton berdasarkan keyakinannya dan pengalaman hidupnya.

Berkenaan perbedaan agama, baik perbedaan tersebut terdapat dalam sebuah keluarga, hubungan pertemanan hingga dalam sebuah masyarakat, aku memiliki beberapa cerita sederhana. Salah seorang seniorku sewaktu kuliah, memiliki keluarga besar yang masing-masing anggota memiliki keyakinan yang berbeda. Salah satu orangtuanya, sebelum menikah, merupakan pemeluk Nasrani dan menjadi Muslim saat hendak menikah. Sedangkan ia sendiri merupakan seorang Muslimah yang taat. Setiap kali keluarganya merayakan sebuah perayaan seperti lebaran dan natal, seluruh keluarga berkumpul. Mereka makan dalam satu meja dengan hidangan yang sama. Mereka berdoa dengan keyakinan masing-masing dan menjalin keakraban sebagai sesama anggota keluarga dengan harmonis. Dalam menjalankan keyakinannya masing-masing, mereka tak pernah saling memusuhi melainkan memberikan kebebasan. Setahuku, sampai saat ini keluarganya baik-baik saja. Ada banyak cerita lain dalam kehidupanku mengenai kerukunan umat beragama.

Menyoal film "?" seperti dibahas disini: http://amriawan.blogspot.com/2011/04/film-hanung-bramantyo.html, aku berharap setiap penontonnya menemukan hikmah positif dan MUI yang selama dianggap sebagai representasi umat Islam di Indonesia tidak ceroboh dalam menetapkan fatwa haram terhadap karya atau apapun dianggap mengancam akidah umat Islam.

Di sekitarku, banyak orang yang kukenal memiliki paham yang sama dengan narasi diatas dalam menyikapi perbedaan keyakinan. Banyak Muslim yang mengatakan bahwa semua agama adalah sama, sebab agama hanyalah jalan menuju satu tujuan yaitu Tuhan yang sama. Bahkan banyak yang menganggap bahwa Tuhan yang satu itu ada dimana-mana dan menciptakan perbedaan cara beragama dan beribadah untuk memberi warna pada kehidupan. Secara pribadi, aku sangat tidak setuju dengan mereka yang berpendapat demikian. Toleransi dalam Islam tidaklah dapat diterjemahkan secara serampangan. Islam tidak menjelaskan bahwa semua agama sama dan setiap orang beragama berada dalam jalan kebenaran. Dengan jelas Islam menerangkan bahwa Islam merupakan agama penyempurna dari Islam (tidak disebut Islam karena tidak diturunkan di tanah Arab dan tidak dalam bahasa Arab) yang pernah diturunkan kepada nabi-nabi sebelum Muhammad, yaitu dalam kurun waktu sejak turunnya Nabi Adam sebagai manusia sekaligus Nabi yang pertama hingga Isa as. 

Dalam Al-Qur'an tak pernah ada penjelasan mengenai 'bahwa semua agama sama'. Islam menjelaskan dalam QS Al-Kafirun bahwa seorang Muslim haruslah teguh dalam beragama dan memberikan kebebasan kepada mereka yang tak mau berIslam untuk beragama sesuai dengan keyakinannya. Tidaklah berdosa bagi seorang Muslim untuk bersikap toleran kepada non Muslim, namun mereka memiliki kewajiban berdakwah kepada mereka dengan bahasa yang baik, bukan dengan teror dan kekerasan. Bukti ini bisa dilihat dalam Al-Qur'an melalui cara Allah memanggil manusia. Kepada mereka yang beriman kepada Allah (Muslim), Allah memanggil mereka dengan panggilan, "Hai orang-orang yang beriman....", sedangkan bagi manusia secara keseluruhan Allah memanggil mereka dengan panggilan "Ya ayyuhannaas (Hai sekalian manusia)....".

Demikian sebuah ayat tentang pembebasan yang diberikan Allah kepada manusia, "Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberikan Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi ( tidak bisa baca tulis). “Apakah kamu mau masuk Islam”. Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk (hidayah), dan jika mereka berpaling (tidak mau masuk Islam), maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya” (QS 3:20)

Dalam masyarakat Islam awal, khususnya dimasa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW, umat Islam dan umta lainnya hidup berdampingan. Mereka menjalankan ibadah masing-masing namun hidup dengan damai dalam dalam hubungan sosial seperti dalam pemerintahan, pengadilan, ekonomi hingga pendidikan. Keharmonisan antara umat Islam, Nasrani dan Yahudi pun tergambar dalam kehidupan di tanah suci Palestina di Yerusalem dalam masa pemerintahan sahabat Nabi Umar bin Khathab yang selanjutnya diteruskan oleh Salahuddin Al Ayyubi -dia sangat dihormati oleh para pendekar salib- Setiap umat beragama memiliki tempat ibadah masing-masing dan akur dalam kehidupan sosial. Keharmonisan lain ditunjukkan dalam kehidupan masyarakat Islam yang berpusat di Mesir dalam kepemimpinan Umar bin Abdul Aziz. Ia dan istrinya Fatima, merupakan pemimpin yang sederhana, taat beribadah dan sangat menyayangi rakyat. Dalam kepemimpinannya, rakyat merasa aman dan berkecukupan, sampai-sampai zakat yang terkumpul di kas negara harus disalurkan ke negara lain karena seluruh rakyat merasa berkecukupan dan tidak mau menerima zakat. Mereka tak mau bepura-pura miskin. Mereka merupakan masyarakat dermawan dan hidup sederhana sebagaimana pemimpinnya, Umar dan Fatima.

Gambaran masyarakat seperti ini memang tak ada di zaman ini, bahkan di negara tempat Islam diturunkan dan Nabinya dilahirkan. Bahkan masyarakat di negara-negara tersebut memiliki kondisi berkebalikan dengan masyarakat di zaman kegemilangan Islam. Di Indonesia, negara dengan Umat Islam terbesar di dunia, kehidupan semacam itu bahkan bagai mimpi. Umat Islam hanya bangga hidup dengan identitas keagamaan namun malu dalam merealisasikan konsep Islam. Bahkan sebagian umat Islam mengkambing hitamkan hukum Islam untuk menindas mereka yang berbeda. Ini ironis, namun harus disikapi dengan bijak.

Indonesia adalah bangsa unik dengan beragam perbedaan, dan keunikan itu tak pernah terdapat di bangsa manapun di bumi ini. Perbedaan keyakinan merupakan sesuatu yang lumrah dalam masyarakat yang multi budaya. Jika hari ini mayoritas penduduk Indonesia bergama Islam, bukan berarti bahwa mereka berhak memaksakan kehendak kepada yang tidak bergama Islam. Islam adalah agama yang damai. Maka yang harus dilakukan umat Islam adalah menyampaikan Islam dengan hikmah dan penuh kedamaian. Hanya ilmu dan kesadaran yang akan menyampaikan mereka kepada Islam. Jadi buat apa memaksa? Penanaman pemahaman ini memang tak mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Bagi masyarakat awam yang beragama dengan cara taklid buta, film "?" mungkin berbahaya bagi keyakinan mereka, namun bagi mereka yang terbiasa belajar dan beragama dengan landasan ilmu, tentunya film "?" merupakan satu media pembelajaran yang tak mungkin mampu menggoyahkan keyakinannya.

Sebagai lembaga yang dianggap sebagai representasi umat Islam di Indonesa, aku berharap MUI dapat lebih cermat dalam memandang persoalan-persoalan sosial yang mengemuka mengenai Islam dan umat Islam di negeri ini. Ada begitu banyak persoalan yang seharusnya menjadi fokus MUI. Misalnya mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram bagi kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan dan tidak bertanggungjawab oleh perusahaan-perusahaan yang pada akhirnya berakibat buruk pada alam dan masyarakat Indonesia? Mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram bagi ulama-ulama yang merokok didalam masjid? Mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram bagi praktek kerja paksa pada anak-anak di bawah umur di perkebunan-perkebunan di seantero nusantara? Mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram bagi pendirian bagunanan yang tidak sesuai tata kota sehingga menghancurkan lingkungan? Mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram atas rencana pendirian geduang DPR yang baru? Mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram hidup bermewah-mewah bagi para pemimpin negeri? Mengapa MUI tak mengeluarkan fatwa haram bagi perusahaan-perusahaan yang mencemari sungai-sungai dengan limbah? Mengapa MUI hanya sibuk mengeluarkan fatwa haram tanpa terlebih dahulu meyadarkan masyarakat tentang cara beragama yang baik dan benar? 

Mengapa MUI nggak PeDe mengeluarkan fatwa haram bagi hal-hal yang berkaitan dengan kesenangan para pemimpin yang tak berpihak pada rakyat? Menurutku film "?" tak mungkin seburuk banyak film lain yang tak mendidik. MUI, seharusnya fokus.

Jakarta, 14 April 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram