Gak Jadi ke BELANDA


Orang-orang berharap (aku juga sangat berharap) bahwa aku sungguhan melanjutkan studi S2 di luar negeri. Aku tidak sesumbar untuk itu, dan bukan aku yang mengatakan bahwa aku akan benar-benar sekolah di luar negeri. Sebuah hasil wawancara tertanggal 7 Januari 2011 di Harian Radar Lampung membuatku terkejut.

Awal Januari, seorang wartawan Radar Lampung, Eka, menelponku dan mengatakan ingin wawancara denganku untuk rubrik baru di koran tempatnya bekerja. Oke, kataku dan wawancara pun berlangsung via telepon karena aku di Jakarta untuk sebuah pelatihan. Siang itu juga, pamanku menelponku karena kaget profilku muncul di koran tersebut. Kukatakan bahwa itu bukan apa-apa dan aku meminta mereka bersikap biasa sebab 'tampilanku' di koran tersebut sebagai hal yang biasa. Lagipula, dalam wawancara tersebut aku tidak mengkritik pemerintah sebagaimana yang dikhawatirkan keluargaku. Sesungguhnya, aku pun penasaran sebab aku tak melihat bagaimana berita tersebut dimuat. Tak ada koran Radar Lampung di Jakarta dan kucari-cari via internet aku tak menemukan hasil yang kumaksud.

Hari ini, saat aku melakukan pencarian untuk kesekian kalinya, aku menemukan berita tersebut dan ternganga dibuatnya. Oh, ini toh beritanya. Saat kubaca, seingatku tak ada kata-kata yang ditambahkan oleh si wartawan untuk melebih-lebihkan peranku. Ya, semuanya baik-baik saja. Aku terkejut justru saat membaca hasil wawancara si wartawan dengan direktur WALHI Lampung. Dengan jelas disebutkan bahwa aku akan melanjutkan pendidikanku ke luar negeri. Luar Negeri. Ow ow, bagaimana kalau kemudian mereka tahu aku tidak ke luar negeri dan aku memilih di dalam negeri? Tapi mungkin memang pak Direktur berharap aku jadi kuliah di Belanda hehehe.


Duh, jadi risih sendiri. Ini mengingatkanku pada begitu kerasnya usahaku untuk mendapatkan beasiswa IFP sebagai tiket untuk melanjutkan studi, terutama ke luar negeri. Sejak jauh hari aku menetapkan Belanda sebagai tujuan studiku. Namun, ketika aku telah diterima dan ketika aku sedang menjalani pelatihan bahasa, semuanya berubah. Pikiranku dipenuhi hal lain yang kupikir menjadi prioritas daripada aku meninggalkannya untuk kuliah ke luar negeri. Pikirku, aku akan punya kesempatan lain untuk studi ke luar negeri. Kawan-kawanku di Lampung tahunya ya aku akan melanjutkan studi ke luar negeri meski sebelumnya aku tidak mengatakan hal tersebut sebagai sebuah kepastian. 

Kali ini gak jadi, lihat tahun depan deh. Pasti bakalan ada sesi ke Luar Negeri. 

Jakarta, 26 April 2011


Wijatnika Ika

2 comments:

  1. Teh,,sbr y,terkadang memang pemikiran org lain thd harapn n kputsn qt tdk sperti apa yg qt pkrkn *baca:perpsektif mrk beda* ,,tp percayalah,Allah sll mbrkn yg tbaik bwt umatnya >.<

    #teh ika plg k lampungkah?

    ReplyDelete
  2. insya Allah, kalau ada kesempatan pulang dulu ke Lampung. Kangen banget dengan Lampung....

    ReplyDelete

PART OF

# # # # #

Instagram