Cerita Tentang Jakarta # 23


menunggu di dermaga
dan di bandara yang hiruk pikuk
aku hanya akan singgah sejenak
di desa tempat dahulu bertumbuh
mengumpulkan restu
untuk terbang jauh seperti burung
menjadi petualang dan pembelajar
bagi cita-cita yang menunggu digenapi
-Jakarta, 00;15 WIB-

Dua minggu menjelang berakhirnya PAT, aku dan kawan-kawan di rumah kos benar-benar kehilangan selera makan. Bukan karena perut kami tidak merasa lapar, melainkan karena kami benar-benar merindukan kampung halaman dimana keluarga dan sanak saudara berada. Jakarta rasanya semakin sesak dan membosankan, ibarat permainan komidi putar yang tak pernah bisa dihentikan hingga para pemainnya mual dan muntah-muntah. Roda-roda kendaraan yang menggilas hari-hari mencengangkan di Jakarta nampak seperti jutaan batu yang dilemparkan dari langit. Sungguh membosankan.

Masih terekam jelas di benakku bagaimana kali pertama aku bertemu dengan kawan-kawan fellow IFP angkatan 9 pada 20 September 2010. Saat itu, aku benar-benar tahu bahwa aku bukanlah siapa-siapa selain seorang perempuan beruntung yang dapat melanjutkan sekolahnya tanpa merepotkan orangtuanya. Diantara mereka ada beberapa yang luar biasa, yang patut dijadikan teladan.

Selama berteman dengan mereka, aku tak bisa menyembunyikan perasaanku. Aku adalah orang realis, yang melihat segala hal dari sisi yang realistis. Aku tak pernah bisa menyembunyikan kegembiraan, kesedihan atau pun kekecewaan selama aku berinteraksi dengan mereka. Sesekali aku dan beberapa kawan terlibat dalam diskusi sehat, namun sesekali juga terlibat dalam perdebatan mengenai satu hal atau sebuah kepribadian yang kurang disenangi. Pada akhirnya aku tahu bahwa satu sama lain saling menilai kekurangan dan menerima kelebihan masing-masing, saling membicarakan dan saling mengkritik "seharusnya dia...". Yang paling kuingat dari semua pernyataan adalah, bahwa setiap orang harus bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Interaksi yang berlangsung selama lebih dari 7 bulan secara perlahan-lahan memperlihatkan 'siapa sesungguhnya' teman-teman baruku. Misalnya ada teolog yang menguasai konsep Islam secara komprehensif tapi berprilaku cukup tidak islami selain tampilannya yang berjilbab dan ada teolog yang menganggap dirinya The Best sehingga selalu menasehati kawan-kawannya dengan bahasa yang pedas dan cenderung merendahkan. Dia pernah bilang, "Aku ini ahli '......' lho, makanya kamu harus tanya sama aku," sementara ia suka sekali marah ketika ada yang menilai dirinya. Ada pembelajar yang punya banyak pengalaman namun dia kemudian terkesan sombong dan memilih teman, namun selalu membela diri manakala seorang teman mengkritik caranya bergaul. 

Ada si 'tukang nyeletuk' yang selalu memotong pembicaraan orang lain dan menganggap bahwa pendapat dia yang paling benar. Di dalam kelas misalnya, dia selalu nyeletuk di tengah pelajaran atau presentasi seakan-akan dia tahu segala sesuatu. Kami seringkali terlibat diskusi, namun dia merasa bahwa cara belajarnya lah yang benar dan pendapat dia yang benar. Terkadang, dia suka sekali mengomentari cara berpakaian kawan-kawan yang lain termasuk aku namun dia tidak mengaca diri tentang selera berpakaiannya yang monoton dan menunjukkan kesan bahwa dia adalah orang super cuek di dunia.

Plus, ada yang bilang padaku bahwa aku tak seharusnya berpenampilan terlalu alim. What? bukankah penampilan teralim adalah bergamis dan bercadar, dan aku jauh dari kesan itu. Aku telah berusaha menyesuaikan cara berpakaianku dengan pekerjaanku, kondisi sosial terbaru dan keterlibatanku dalam sebuah kegiatan. Aku, dengan jilbabku, hanya berusaha memenuhi undangan Tuhanku untuk menjadi perempuan terhormat dengan tidak mengumbar aurat sesuai denga hukum-hukumNya yang dianggap mengekang perempuan, bukan sesuai keinginanku. Mengapa ada orang yang menghalangi pilihanku untuk menjadi perempuan terhormat dalam pandangan Tuhanku?

Selain itu, ada kawan yang suka sekali mengkritik. Apapun yang dianggapnya tidak sesuai dengan prinsip hidupnya, selalu menjadi sasaran kritiknya. Untung saja secara akademis dia cerdas dan nilanya tinggi, sehingga sesekali kritikannya yang pedas itu ada benarnya. Ada yang sengaja memisahkan diri dari keriuhan pertemanan para fellow dan menyendiri dalam dunianya. Dia menganggap dirinya tak mungkin bisa diterima oleh kawan-kawan fellow dan menganggap bahwa kehidupan sosial fellow lain berbeda dengan kehidupan sosialnya. Tapi dia menolak dikatakan memiliki kecenderungan Asosial. Seringkali, aku juga melihat bahwa setiap fellow menganggap bahwa dirinya lah yang terbaik dan pilihannya lah yang terbaik sehingga memunculkan kecenderungan enggan saling berbagi. Ketika aku berkata kepada salah satu fellow bahwa sungguh aku tak bisa berkonsentrasi sehingga nilanya cenderung meluncur turun, dia bukannya membantuku dengan ya misalnya mengatakan 'apa yang bisa saya bantu?', tapi dia malah mengatakan bahwa aku harus menemukan caraku sendiri dan sejak saat itu aku tak mau lagi bertanya padanya tentang hal-hal yang berhubungan dengan studi Bahasa Inggris yang menyebalkan.

Aku, teman-teman di kelasku 'mungkin sangat tahu' tentang habit belajarku. Buruk sekali. Aku adalah satu-satunya yang tidak mengalami kemajuan dan mendidikku dengan cara top-down sama saja dengan membekukan keinginan belajarku. Aku adalah tipe deadline dan benar saja aku selalu menemukan caraku di saat-saat terakhir, seperti seseorang yang berputus asa menunggu pecahan batu setelah ia memukulinya selama 99 kali namun baru menemukan cara memecahkan batu dengan benar pada pukulan ke 100. Sejak Januari, aku mulai sering tidak masuk kelas dan belajar sendiri di rumah kost. Aku memutuskan untuk menghibur diriku daripada aku duduk di kelas dengan buku terbuka dan telingaku sama sekali tak mendengar apa yang diterangkan si guru. Kebosanan dan keputusasaan seringkali membuatku tak memiliki semangat. Aku malu pada diriku sendiri dan pada guru-guruku sebab aku tak menunjukkan kemajuan.

Seorang kawan berkata, "Semua itu bukan alasan, Ka. Kita semua memiliki persoalan yang sama kok." Dan aku tahu dia berbohong demi mematahkan alasan-alasanku. Tidak pernah ada kesamaan dari perbedaan. Namun seorang kawan lain menasehatiku dengan bijak, bahwa diapun mengalami persoalan yang sama denganku namun ia tak menunjukannya dan tetap bergembira. Aku tahu, sesungguhnya dia berkata demikian hanya untuk menghiburku. Aku melihat matanya dan cahaya di wajahnya, matanya menunjukkan kekhawatiran yang dalam namun dia berusaha menutupinya dengan senyuman. Aku tahu bahwa beban itu terpancar di wajahnya. 

Kini, semua riak itu berhenti dan seakan-akan selama sekitar 7 bulan semuanya dalam keadaan tenang. Setiap fellow menuju fasenya masing-masing. Beberapa telah berada di negara tujuan, dan sisanya menunggu keberangkatan. Mungkin, bagi sebagian dari mereka yang memiliki segalanya dalam hidup mereka, apa yang kukisahkan ini sama sekali tak berarti dan bisa saja dianggap sebagai 'keluhan anak kecil'. Bagiku, setiap hal yang kuingat dan setiap kejadian dalam hidupku adalah barisan kata-kata yang sebagiannya harus kukenang. Bisa saja suatu saat nanti aku bisa memetik hikmah dari kejadian-kejadian tersebut dan menjadi mesin yang menggerakkan semangatku untuk meneruskan perjalanan yang entah kapan berujung.

senyum dan sesekali tawa renyah
kemarahan dan seringkali gunjingan
makan-makan dan secangkir kopi
juga cerita cinta
berakhir hari ini.
kini aku tahu bahwa kita memang berbeda
dan kita akan membangun bangsa dengan tugas berbeda
kita akan bertemu
dalam impian-impian yang terwujud
di masa depan.
di dermaga ini dan di bandara yang hiruk-pikuk
aku melipat bukuku 
dan akan menulis cerita yang lain

Jakarta, 29 April 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram