Balada HUJAN ULAT BULU


(1)
Seorang anak bertanya kepada bapaknya yang tengah termenung-menung memandangi dua pohon mangga miliknya tinggal ranting yang kurus kering. "Bapak, mengapa Tuhan menurunkan hujan ulat bulu ke desa kita dan membuat kita tak bisa panen buah mangga tahun ini?" sia anak menggaruk betisnya yang bentol-bentol akibat terkena bulu si ulat bulu. "Bapak juga tak tahu nak, mungkin Tuhan sedang menguji kita." Dan di anak mengernyitkan keningnya. 
"Bapak, mengapa Tuhan menguji kita dan membuat kita tak bisa makan buah mangga secara gratis lagi? memangnya apa salah kita pada Tuhan?" si bapak hanya tersenyum. "Mungkin kita kurang bersyukur." Kata si bapak. 
"Ah, masa sih, Pak? aku kan selalu berdoa dan berterima kasih pada Tuhan setiap hari seperti yang bapak dan pak guru ajarkan." Si anak mendekat pada si bapak dan memandangi dua pohon mangga yang habis dilahap si ulat bulu yang jumlahnya ribuan. "Nak, mungkin kita pernah menyakiti seseorang yang suatu kali menginginkan buah mangga kita tapi kita tak memberinya. Mungkin inilah sedikit peringatan dari Tuhan atas pelitnya kita kepada sesama. Beginilah rasanya ketika Tuhan mencabut nikmatNya dari kehidupan kita. Kita berdo'a saja semoga dua pohon mangga milik kita ini dan milik tetangga kita akan bertunas dan berdaun lebat seperti sedia kala." Si anak tersenyum.

(2)
Si anak pulang dari sekolah dan langsung menemui si bapak sedang menonton televisi. "Bapak, katanya hujan ulat bulu terjadi di mana-mana. Ulat bulunya banyak sekali." Si bapak mengangguk. "Tuhan itu Maha Bijaksana, Nak. Dia memberi pelajaran pada kita melalui hal-hal yang terkadang sulit kita pahami. Oleh karena itu kamu harus belajar sungguh-sungguh supaya nanti kamu jadi sarjana bisa membantu desa ini." Si bapak mengelus kepala si anak. Si anak tersenyum.  "Bapak, kata kakak aktivis yang datang ke sekolahku, ulat bulu ini berkembang biak karena udara yang panas. Kenapa begitu, pak?". Si bapak berfikir sejenak lalu menjawab, "Mungkin, karena beberapa wilayah di Jawa ini rusak karena bencana seperti hutan di Merapi di Jogja sana, dan beberapa bencana di derah lain membuat iklim berubah dan populasi ulat bulu berpindah tempat untuk berkembang biak. Nah, karena mereka suka dedaunan, mereka lari ke desa kita dan sekitarnya yang merupakan sentra pohon mangga. Mungkin saja begitu." Si anak mengangguk-angguk. Tetapi sesungguhnya ia tidak mengerti mengapa pasukan ulat bulu itu datang tiba-tiba.

(3)
Sepulang mengaji di Masjid, si anak menceritakan kisah tentang Nabi Ayub yang baru saja didengarnya dari guru mengajinya. "Bapak, kata pak guru, salah seorang Nabi yang kaya dan memiliki kebun yang sangat luas juga pernah mengalami hujan ulat yang merusak tanaman di kebunnya. Bukankah Nabi orang baik? mengapa orang baik mendapat ujian yang berat dari Tuhan?" si bapak mendekat. "Nak, Tuhan memberikan ujian kepada siapa saja, baik Nabi atau orang biasa seperti kita. Seperti ketika kamu sekolah, untuk naik kelas kamu kan harus menjalani ujian dan harus mendapat nilai terbaik. Nah, yang ikut ujian sekolah kan tidak hanya anak-anak yang nilainya kecil dan anak-anak yang tidak baik. Tapi semua anak yang bersekolah harus mengikuti ujian untuk kenaikan kelas. Begitu juga dengan kehidupan. Setiap orang harus menjalani ujian dari Tuhan. Nah, sekarang kita menghadapi ujian hujan ulat bulu. Tuhan sedang menguji kita tentang bagaimana cara kita bersikap menghadapi ujian ini. Apakah kita marah pada Tuhan, apakah kita menyalahkan orang lain, apakah kita berusaha menyelamatkan lingkungan kita dari ulat bulu atau apakah kita hanya diam dan menungunggu orang lain yang membunuhi ulat bulu itu." 

(4)
Si anak dan si bapak berkeliling desa, melihat petugas pemerintah dan masyarakat bergotong royong menghalau ulat bulu dari pepohonan dan rumah-rumah penduduk. Pepohonan yang dulu rindang dan hijau kini kering dan tampak menyedihkan. Si bapak duduk di atas sebuah batu dan berkata kepada si anak, "Nak, lihatlah, ketika ada bencana semua orang bergotong-royong dan saling membantu. Padahal sebelumnya setiap orang bekerja untuk dirinya sendiri." Si anak mengangguk, "Apakah ini hikmah dari Tuhan?"

(5)
"Bapak, dengarlah gemuruh itu." Kata si anak ketakutan. "Tenang, Nak. Itu para ulat bulu yang sedang memakan daun-daun di pohon-pohon di sekitar kita. Ulat bulu perlu makanan untuk tumbuh dan berkembang biak." Si bapak menenangkan si anak. "Tapi, mengapa mereka banyak sekali dan menghabiskan semua daun  di sebatang pohon mangga hanya semalam saja? bukankah tubuh mereka kecil?" Si bapak mendekat pada si anak dan mengecup keningnya. "Inilah pelajaran penting bagi manusia. Ternyata manusia tidak suka jika makhluk lain seperti ulat bulu menghabiskan tanaman yang berguna baginya. Seperti kita tidak suka ulat bulu itu memakan daun pohon mangga milik kita." Si anak tidak mengerti dengan penjelasan si bapak. "Begini, Nak. Manusia dan alam saling membutuhkan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, manusia mengambil semuanya dari alam, kayu, rotan, batu, dedaunan, hingga buah-buahan. Ada banyak manusia serakah yang lupa bahwa di bumi ini ada makhluk lain yang juga membutuhkan apa yang dibutuhkan manusia. Apakah mereka marah pada manusia, bapak tidak tahu. Nah, hujan ulat bulu ini merupakan sebuah peringatan pada manusia, jika manusia marah dan menderita karena kehidupan mereka terganggu oleh kerakusan ulat bulu, maka begitu juga dengan para ulat bulu itu ketika kita menganggu tempat tinggalnya dan mengambil makanan mereka." Si anak mulai mengerti, "Jadi, impas ya, Pak?". "Hm, bukan begitu. Bencana ini untuk mengingatkan manusia bahwa kita harus hidup seimbang, sederhana dan selaras dengan alam."

(6)
Sepanjang perjalanan pulang dari sekolah, si anak dan beberapa temannya memandangi pohon-pohon mangga yang tidak lagi berdaun. Pandangan mereka sedih, sebab mereka tak lagi punya tempat bermain panjat pohon dan tahun ini mereka tak bisa menikmati manisnya buah mangga dari pohon mangga kesayangan di halaman rumah mereka. Si anak berdo'a, "Ya Tuhan, turunkanlah hujan dan tumbuhkan lagi daun-daun pohon mangga agar desa kami kembali hijau, amiin." Dengan penuh senyuman, si anak pulang ke rumahnya dan bersiap menerima pelajaran baru dari bapaknya. 

Jakarta, 13 April 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram