TELEPON CINTA


11.10 wib, saat aku sedang berlatih listening skill, ponselku berdering, dari seorang perempuan yang tinggal jauh di pelosok Lampung. Perempuan itu berusia sekitar 33 tahun, yang diperbantukan sebagai relawan guru di SD alternatif di wilayah kelola Organisasi Rakyat bernama Sistem Hutan Kerakyatan Pesawaran Bina Lestari (SHK PBL) di dusun Margo Mulyo, kec, Padang Cermin kabupaten Pesawaran, Lampung. Beliau menyapaku dengan hangat dan penuh kerendahan hati. Beliau mengaku menelponku karena kangen, setelah beberapa bulan lamanya aku tidak mengunjungi mereka. Orang-orang disana bertanya-tanya mengapa aku tidak mengunjungi mereka sekian lama setelah sebelumnya aku nyaris mengunjungi mereka setiap bulan, dalam cuaca cerah atau pun buruk. Sembari mendengarkan pembicaraannya yang ditatanya dengan hati-hati, aku mencoba mengingat kembali pengalamanku saat belajar di daerah itu. 

Beliau bercerita tentang kondisi sekolah yang beberapa hari lalu diliburkan setelah ujian mid-semester dan perkembangan anak-anak didiknya yang menggembirakan. Juga tentang kondisi para petani di wilayah itu yang mengalami kesulitan akibat cuaca yang tidak bersahabat. Secara umum dapat digambarkan bahwa wilayah tersebut sebagaimana wilayah lainnya mengalami 'ketidakberuntungan' akibat cuaca yang berubah-ubah secara ekstrem. Sejak beberapa bulan yang lalu wilayah itu selalu diguyur hujan yang disertai angin kencang, dan ia merasa takut, aku tahu bagaimana rasanya itu karena aku pernah mengalaminya saat mengunjungi wilayah itu tahun 2007, yang membuat bunga kopi dan coklat rontok, dan kedua tanaman itu hanya memiliki sedikit buah atau tak berbuah sama sekali. Musim panen tahun ini diperkirakan gagal dan petani akan mengalami kerugian yang lumayan besar. 

Keadaan ini tak saja menimpa wilayah tersebut, juga nyaris seluruh wilayah di Lampung, sebagaimana yang pernah diceritakan adikku. Keluarga besarku juga terancam mengalami kerugian di musim panen kopi tahun ini. Ah, sangat kebetulan, ketika para petani membutuhkan banyak uang untuk kehidupan mereka, Tuhan memberikan cobaan yang berat dan kemungkinan uang yang terkumpul hanya sedikit akibat stok kopi yang berkurang secara signifikan. Harga kopi yang naik sungguh meggembirakan, tapi itu merupakan kegembiraan yang utopis manakala benda yang dihargai begitu mahal tersebut sangat langka. 

Mendapat telepon dari beliau membuatku merasa diingat, dibutuhkan dan jelas aku merasa senang. Aku menghargai semua itu. Kehadiran mereka dihatiku cukup membuat hatiku hangat dan merasa aku memiliki masa depan dan kelak aku bisa berkarya bersama mereka. Beliau juga bertanya apakah aku akan kembali ke Lampung dan mengunjungi mereka? wow, ini adalah kejutan. Jika aku memiliki kesempatan, tentu saja aku akan mengunjungi mereka dan menyempatkan berkeliling ke gubuk-gubuk mereka dan berfoto bersama mereka atau memasak bersama dan berkeliling kebun untuk melihat perkembangan di wilayah tersebut. Tiada yang lebih menggembirakan bagiku ketika mengunjungi mereka selain melihat tanah-tanah yang kembali tertutupi rerumputan dan diikat oleh akar-akar pepohonan yang saling berjalinan didalam tanah dan pohon buah-buahan yang mulai tumbuh tinggi atau diantaranya yang mulai berbuah, kopi dan coklat ayang tengah berbunga atau berbuah lebat, air sungai yang deras dan bersih, udara yang segar, dan elang yang terbang bebas diatas rimba, dan aroma keliaran rerumputan yang menyembunyikan ulat dan binatang melata. Luar biasa.

Bu Rumaini, terima kasih telah mengingatkanku pada kenangan yang membuatku bersemangat untuk melanjutkan hidup dan meraih mimpi-mimpiku. I love you all.... 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram