Tzu Hsi: The Powerful Empress of China

Empress Tzu Hzi/ Ci Xi of Qing Dynasty

Membaca Empress Orchid dan sekuelnya The Last Empress, membuatku terkesiap dan tiba-tiba ingin ke China. Penulisnya, Anchee Min -yang tinggal di Amerika karena tak sanggup melawan tekanan pemerintah China- bahkan mempertaruhkan nyawanya untuk menulis karyanya ini. Diantaranya, dia harus berjuang menahan serbuan bahan pengawet yang terdapat ribuan manuskrip tua di perpustakaan pemerintah China dan Kota Terlarang saat mempelajari data-data tentang perempuan paling berpengaruh di China menjelang awal abad 20 ini. Dia harus menyalin data-data tersebut dengan sangat cepat karena sungguh terlarang bagi siapapun di China untuk masuk ke perpustakaan tersebut guna mempelajari sejarah perempuan yang dianggap berbahaya oleh pemerintah China.

Empress Orchid dan The Last Empress menceritakan perjalanan seorang perempuan muda bernama Anggrek yang berasal dari salah satu provinsi termiskin di China, Anhwei dalam menjadi Ratu terbesar dan terlama China menjelang awal abad 20. Anggrek merupakan putri sulung gubernur Anhwei dan berasal dari Klan Yehonala berpangkat Biru. Setelah ayahnya meninggal dan keluarganya jatuh miskin dan saat itu kemiskinan akut melanda China membuat mereka nyaris menjadi gelandangan. Setelah menguburkan ayahnya, ia dan keluarganya pindah ke Beijing. Saat bekerja di toko sepatu di Beijing, milik seorang perempuan mantan dayang Ibu Suri Chu Ann -ibu kaisar Hsien Feng yang sedang memerintah- ia kemudian mengikuti seleksi calon pengantin bagi Kaisar karena tak sudi dinikahkan dengan sepupunya yang idiot hanya demi membayar uang sewa rumah kepada pamannya. 

Empress Tzu Hsi dalam lukisan Stephen Reid
Kesibukanya inilah yang membuat pengasuhan Tung Chih lebih banyak dilakukan Nuharoo sang Permaisuri. Tak lama kemudian Kaisar meninggal dan ia harus menghadapi teror Permaisuri Nuharoo yang ingin menggulingkan kekuasaan putranya yang masih kecil yang selama ini sengaja mendidiknya untuk menjadi pemimpin yang lemah dan malas. Dengan alasan untuk melindungi putranya dan menjaga keutuhan China yang saat itu tengah menghadapi perang dengan Inggris dan Jepang, ia bekerja siang malam sebagai negarawan dan melupakan kesenangan seperti yang selalu dijalani Nuharoo. Para pejabaat kerajaan menganggap tindakannya sebagai sebuah pelanggaran besar, selir selalu dianggap bodoh dan hanya bertugas menyulam kain untuk diri mereka sendiri dan menyenangkan Kaisar. Mereka juga tak mau dipimpin oleh seorang perempuan. Namun, atas bantuan adik Kaisar, Pangeran Kung dan Jendral Yung Lu, dia berhasil memimpin China dan melakukan banyak perubahan.

Saat itu China dalam kondisi sangat sulit. Disatu sisi ia dituntut untuk mempertahankan paham tardisional dan menolak modernitas, sebagaimana yang dianut sebagian besar pejabat kerajaan. Di sisi lain, China telah jauh tertinggal dari negara-negara seperti Eropa dan Amerika yang telah mengalami kemajuan pesat dalam teknologi dan pendidikan. Selain itu dia juga harus menghadapi serangan pemberontak "Taiping' yang mendesaknya menolak bekerjasama dengan bangsa asing -mereka bahkan membakar sebagian Kota Terlarang-, membuat traktat-traktat perdamaian, menandatangani surat keputusan hukuman mati bagi para koruptor hingga mendamaikan perselisihan musuh dalam selimut dalam Istana. Kepemimpinan putranya yang payah membuatnya harus berjuang keras sebab China berada diambang kehancuran dan sebagai Ibu Suri ia harus menunjukkan kualitas kepemimpinannya kepada rakyat China. Saat putranya meninggal akibat penyakit kelamin -sejak kecil ia telah dididik untuk memakai pelacur oleh Permaisuri Nuharoo-, di usianya yang masih 29 tahun, membuatnya terpaksa menjadikan seorang bayi -putra salah seorang pangeran- bernama Pu Yi sebagai pengganti Tung Chih. Namun pada akhirnya Pu Yi tak dapat memimpin China, sebab saat itu Anggrek sudah meninggal, dan tak ada yang mendidik Pu Yi untuk menjadi seorang pemimpin.

Ratu Tzu Hsi/ Ci Xi  adalah politisi perempuan masa feodal China yang bertarung dalam kecamuk antara detik-detik terakhir Qing Dinasti dan China Republik

Di awal keruntuhan China, Jepang berhasil merebut China dan Pu Yi dijadikan kaisar boneka di Manchuria. Saat revolusi meletus di China dan negara itu berubah menjadi Republik, China benar-benar kacau. China menyalahkan Anggrek telah membawa China pada kehancuran, meski mereka tahu bahwa kehancuran China merupakan efek dari buruknya tata pemerintahan di China sejak ribuan tahun sebelumnya. Hal inilah yang kemudian menjadikan Anggrek sebagai tokoh yang terlarang dibicarakan di China dan dalam buku-buku pelajaran di sekolah sosoknya disebut sebagai pengacau

Kedua buku ini hadir untuk memperlihatkan fakta sebaliknya dan memperlihatkan kepada masyarakat China bahwa pemerintah mereka telah melukai sejarah China dan membuang salah satu pahlawannya. Di China kedua novel ini dilarang terbit, namun mendapat sambutan hangat di banyak negara termasuk Indonesia. Membaca keduanya bukan saja menambah pengetahuan tentang kehidupan China kala itu, dengan data yang begitu detail tentang tahun terjadinya peristiwa-peristiwa penting, kemewahan kaum bangsawan China, wilayah-wilayah di China yang kontras -lainnya kaya dan yang lainnya sangat miskin-, sistem pendidikan, sastra, makanan, pakaian dan kepercayaan tradisional.


Kota Terlarang  (the Forbidden City) -tempat tinggal Anggrek sejak menikah dengan Kaisar hingga kematiannya- kini merupakan kota kuno yang dijadikan museum oleh pemerintah China. UNESCO telah menempatkan Kota Terlarang sebagai situs bersejarah dengan bangunan berstruktur kayu terbesar dan terluas di dunia.  Kota itu masih kokoh, megah dan indah hingga saat ini.

Jakarta, 9 Maret 2011
Sumber gambar:
http://www.allposters.com/-sp/Painting-by-Stephen-Reid-of-Empress-Dowager-of-China-Tzu-Hsi-After-a-Chinese-Drawing-Posters_i3598198_.htm 
http://www.smithsonianmag.com/history/cixi-the-woman-behind-the-throne-22312071/?no-ist 
https://www.nobilified.com/female-portraits/oriental-empresses/empress-dowager-cixi-qing-dynasty

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram