MALALAI JOYA: Harimau Betina Afghanistan


Perempuan muda, Malalai Joya, menulis sebuah buku mengeni pengalaman hidup dan politiknya sebagai perempuan sekaligus anggota termuda parlemen Afghanistan. Buku tersebut diberi judul A Woman Among Warlords. Joya (nama samarannya) merupakan anak pertama dari sepuluh bersaudara dan yang tertua dari tujuh anak perempuan sebuah keluarga terhormat di Afghanistan. Joya lahir di desa Ziken distrik Anardara, yang merupakan wilayah bergunung-gunung di Afghanistan barat pada April 1978. Joya lahir di masa penjajahan Soviet dan tumbuh dalam perang yang berlangsung terus-menerus dari satu penjajah ke penjajah lainnya, dari penjajahan Taliban hingga Amerika.

Afghanistan merupakan negara yang menjadi jalur lalu lintas antar negara dan merupakan persimpangan Asia Tengah, berada diantara India dan Rusia, serta Persia dan China. Salah satu kota tua, Herat dan Kandahar, merupakan kota kuno yang dulu pernah dijarah Jengis Khan saat pasukannya hendak menghancurkan Damaskus yang merupakan pusat pendidikan umat Islam yang paling ternama kala itu. Kondisi Afghanistan yang kacau karena perang yang tak kerkesudahan dan korupsi yang merajalela membuat Joya banyak belajar politik dari Ayahnya yang merupakan salah satu generasi yang dikenal sebagai "periode konstutusional" pada 1964-1973.

Selama perang ini, Joya dan keluarga besar-besarnya hidup berpindah-pindah agar selamat, seperti ke Pakistan dan Iran hingga kembali lagi ke Kabul. Di Pakistan, Joya sekolah di sebuah sekolah yang didanai sebuah organisasi bawah tanah yang sangat peduli pada pendidikan anak-anak perempuan. Ketertarikannya terhadap gerakan sosial diawali oleh sebuah pertemuan dengan Meena, seorang aktivis perempuan yang selama hidupnya berjuang membela hak-hak perempuan seperti hak pendidikan. Kematian Meena pada 1987, setelah ia diculik dan dibunuh oleh kaum fundamentalis membuat semangat Joya untuk terjun ke gerakan sosial semakin kuat.


Joya kemudian aktif dalam kegiatan politik dan menjadi guru. Kegiatan tersebut membuatnya sering pergi dari rumah dan para tetangganya sempat mengiranya bukan gadis baik-baik. Di Afghanistan, perempuan baik-baik merupakan perempuan yang tinggal di rumah dan jika keluar rumah menggunakan burqa yang berat dan panas. Begitulah Taliban, membuat perempuan tak bisa melakukan apapun, tetapi laki-laki boleh melakukan apapun. Seakan-akan Taliban merasa mereka sebagai tangan Tuhan sehingga bisa membuat hukum semaunya. Aktivitas politik Joya semakin meningkat, terutama setelah Amerika berhasil melemahkan Taliban dan pertama kalinya dalam sejarah Afghanistan perempuan memiliki hak dipilih dan memilih dalam pemilu. Sebagai politisi yang kritis, tak jarang Joya mengalami percobaan penculikan hingga pembunuhan. Bahkan seringkali Joya diserang oleh lawan politiknya yang notebene laki-laki di dalam ruang rapat parlemen. Kejadian-kejadian tersebut membuat Joya dijaga ketat oleh polisi dan oleh para pendukungnya diberi pengawal kemanapun ia pergi. Untuk alasan keamanan, bahkan Joya merahasiakan identitas suami dan keluarganya, dan menyamarkan diri dengan memakai burqa setiap kali bepergian.


Perjuangan Joya mendapat dukungan dari berbagai pihak di seluruh dunia, bahkan seorang fotografer menggelar pameran photo-photo kegiatan Joya. Joya juga banyak mewakili negaranya untuk bicara di forum internasional, bahkan bertemu dengan mahasiswa Harvard, untuk mengkampanyekan anti perang dan menyatakan betapa jahatnya Amerika yang telah menjadi penjajah baru di Afghanistan. Sebagai politisi muda, Joya digelari "the bravest and the most famous woman in Afghanistan." Sebuah poster bahkan menyebutkan Joya sebagai Che Guevara dari Afghanistan.

Membaca kisah Joya, seperti membaca kisah banyak perempuan aktivis sosial di Indonesia yang tersudut di ruang-ruang sempit demokrasi Pancasila yang dirantai para pemimpin politik yang licik dan para koruptor. Bagiku, kisah ini menjadi sebuah pelajaran penting untuk tetap menjaga semangat agar terus berjuang di ranah masing-masing. Aku berharap, aku bisa menjadi seperti Joya, perempuan kuat, pemberani dan sanggup mengabaikan kesenangan sendiri demi menegakkan keadilan di negeri ini.

Jakarta, 29 Maret 2011

Bahan bacaan: 
http://newamericamedia.org/2011/04/afghanistans-che-guevara-is-a-woman.php 
http://www.malalaijoya.com/remarks.htm
http://voiceseducation.org/content/malalai-joya-bravest-woman-afghanistan 
http://www.huffingtonpost.com/suzanne-persard/malalai-joya_b_4160220.html
http://www.independent.co.uk/news/world/malalai-joya-the-woman-who-will-not-be-silenced-1763127.html
http://www.afghanwomensmission.org/2009/10/a-woman-among-warlords-the-extraordinary-story-of-an-afghan-who-dared-to-raise-her-voice/
 
 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram