Hari-Hari Tua Mustofa


Mustopa benar-benar menyadari dirinya telah menjadi tua. Kulitnya tipis dan mengendur, menciptakan kerutan-kerutan yang kenyal disekujur tubuhnya. Kelopak matanya tipis dan matanya tak lagi bercahaya. Ia mengakui, setidaknya kepada kedua puterinya, bahwa dirinya telah kehilangan pesonanya. Dengan rasa malu yang begitu besar dan membuatnya tersiksa sepanjang sisa hidupnya, yang coba Ia tutup-tutupi dari kedua puterinya, Ia mengundurkan diri dari keramaian di desanya dan pertolongan kedua puterinya. 

Ia menepi di tempat yang menurutnya berada di ujung kehidupan. Ia menyendiri seakan-akan Ia tak membutuhkan orang lain dan orang lain tak membutuhkannya. Ia menunggu harinya, saat Tuhan memanggilnya pulang. Setiap kali memandangi dirinya di depan cermin, terutama cermin besar di ruang tamu rumah Sukmana, Ia mengakui bahwa warna kulitnya yang tak lagi cerah merupakan pertanda bahwa Tuhan tak akan memberinya umur panjang. Baginya umur panjang cukup penting sebab ia ingin melihat cucu-cucunya tumbuh dan berkembang. Ia ingin melihat bagaimana Harum dan Zuli membesarkan cucu-cucunya dan bagaimana para menantu yang belakangan mulai membuatnya bangga memperlakukan puteri-puterinya. 

Di depan cermin besar itu, yang dianggapnya menertawakannya karena rasa penasaran pada perubahan kulit dan wajahnya sendiri, Ia memperhatikan dengan seksama lapisan terluar dari tubuhnya yang berpuluh tahun lamanya terpanggang sinar matahari, terpapar lumpur dan terguyur hujan. Ia benar-benar melihat perubahan besar dalam dirinya, perubahan yang merupakan jawaban atas pertanyaannya ketika muda, ketika Ia masih memiliki pesonanya.

Perasaan telah menjadi sangat tua pada tubuhnya dan pada usianya membuat Mustopa lebih banyak mengisi waktunya dengan bercakap-cakap dengan tanaman-tanaman di kebunnya saat ia menyiangi rumput-rumput yang mengganggu. Ia merasa dirinya menjadi gila karena bicara dengan tumbuhan, meski sebenarnya menurutnya sah-sah saja bicara dengan tumbuhan, dan Ia melakukan itu karena Ia tak memiliki teman bicara yang sepadan. Ia tak tahu harus bicara pada siapa soal uangnya yang jarang dibelanjakannya dan rasa kangennya pada rengekan kedua puterinya saat mereka masih kecil, saat mereka meminta uang jajan, dan saat itu Ia mengelabui puteri-puterinya bahwa Ia sedang tak punya uang dan malah menyuruh mereka mengatasi keinginan mengunyah permen dengan memakan makanan yang ada di rumah sebagai upaya mendidik mereka agar tidak menjadi perempuan yang boros. 

Kini kedua puterinya memberinya banyak uang yang Ia tak tahu harus digunakannya untuk apa uang itu. Ia tak mungkin membeli kemeja atau sarung baru sebab setiap bulan Harum atau Zuli  selalu membelikan pakaian baru untuknya sampai Ia merasa bosan dan ingin sekali menolak kebaikan hati puteri-puterinya atau menantu-menantunya namun Ia tak sanggup menyakiti hati mereka. Pakaian-pakaian itu bertumpuk di lemari dan jarang dipakainya. Ya, Ia tak punya teman bicara yang sepadan dan ketika keinginan untuk bicara datang, ya bicara tentang apa saja, Ia ingin sekali bertemu dengan menantunya dan berbincang-bincang dengan kedua menantunya atau salah satunya. Disadarinya bahwa kedua menantunya, juga kedua puterinya tengah sibuk membangun dunia mereka dan mendidik anak-anak mereka. Juga cucu-cucunya yang sibuk membangun dunia mereka dan menyelesaikan urusan sekolahnya atau belajar memaknai kehidupan yang mereka miliki. 

Ia benar-benar merasa sangat tua dan sendirian, terutama ketika melihat keponakannya yang jumlahnya banyak tumbuh menjadi lelaki atau perempuan muda yang rupawan, yang tubuhnya tinggi besar, yang telah berusaha hidup mandiri dan tak membutuhkan pertolongannya. Juga Sukmana dan Komala yang semakin jarang bertengkar seiring bertambahnya kiriman uang dari Harum dan Zuli, yang sering mereka sebut sebagai keponakan terbaik yang sangat tahu membalas budi, dan anak-anak mereka yang tak merepotkannya lagi selain masih merepotkan dalam hal biaya kuliah. Komala menghormatinya, mungkin karena iparnya itu menyadari bahwa tak lama lagi Ia akan mati, dan tak pernah mengoceh perihal biaya-biaya rumah tangga yang membengkak seiring melambungnya harga bahan-bahan pokok secara tiba-tiba. Komala tak lagi bicara padanya dengan suara yang nadanya sengaja ditinggi-tinggikan untuk memancing amarahnya atau untuk memberi tahu tetangga bahwa dirumahnya ada seorang benalu yang merepotkannya. 

Komala lebih sering memuji-muji Harum dan Zuli dan mengatakan kepada para tetangga, yang sering berkumpul untuk membuat rujak saat tengah hari, bahwa kedua keponakannya itu telah menopang hidup keluarganya dengan baik dan mereka telah menjadi orang sukses. Komala lebih sering memperdulikan pujian para tetangga pada pakaian barunya yang dibelikan Harum ada Zuli, yang dikirimkan melalui pos, dan memamerkan jasanya dalam pengasuhan Harum dan Zuli ketika mereka masih kecil. Dan dalam perbincangan para perempuan yang tak memiliki pekerjaan itu atau karena mereka sedang tidak ke kebun atau ke sawah tak sekalipun ia mendengar Komala menyebut bahwa yang berjasa atas keberhasilan Harum dan Zuli adalah dirinya, ayah mereka. 

Ketika ia bicara pada tanaman di kebunnya yang sesungguhnya telah dibeli Harum dari Sukmana untuknya, sesekali ia menangis seperti anak kecil yang membutuhkan pelukan ibunya. Ia berhenti mengoret atau mencabut rumput, dan menyandarkan punggungnya pada batang kopi yang sedang berbunga yang bunganya begitu putih dan harum, mulailah Ia bicara mengenai keasingannya pada dirinya sendiri yang telah begitu tua dan lemah dan tak ada seorang pun yang merawatnya. Ia menyebut dirinya sendiri lelaki tua bangka yang tak beruntung, yang ditinggalkan di tepi kematian oleh keluarganya, yang mungkin meninggal secara tiba-tiba dan jasadnya tak ditemukan siapapun kecuali ketika jasad itu telah membusuk. Ia ngeri membayangkan kematian yang menimpa dalam keheningan hutan dan kesendirian yang membuatnya mengerut seperti bayi yang takut pada suara guntur. 

Ia tahu bahwa semua tanaman yang diajaknya bicara tak menjawabnya dan ketika Ia bosan ia menuju saung dan mulai merebahkan diri, menatap lekat langit-langit yang bersih dari sawang dan mengira-ngira rupa malaikat pencabut nyawa ketika hendak menjemputnya. Ketika Ia merasa tubuhnya telah dingin, ia menuju sumur yang dibuatnya sendiri, yang merupakan mata air yang dibendung dan airnya dialirkan pada sebuah bendungan baru yang dibuatnya terpisah dari mata air pertama untuk mengatasi pengaruh kekeruhan saat musim hujan, yang terletak hanya 5  meter dari saung. Ia mencuci wajahnya, dan berwudhu. Ia selalu yakin bahwa mendekat pada Tuhan adalah obat terbaik di hari tuanya sembari menunggu Tuhan memanggilnya pulang. 

Saat menghadap Tuhan, memujinya dengan pujian yang diajarkanNya, subhanalloh alhamdulillah lailahailallah allohu akbar, Ia selalu mendoakan kedua puterinya, kedua menantunya dan cucu-cucunya dan meminta Tuhan membawa mereka untuknya menjelang kematiannya. Saat Ia merasa sedang bicara pada Tuhan lah  Ia merasa memiliki waktunya sendiri yang terbebas dari kesesatan hari-harinya dalam dekapan kesesatan dunia, saat yang dianggapnya paling tenang dalam hidupnya, saat Ia merasa bahwa Tuhan memahami isi hatinya dan kegundahan masa tuanya dan penyakit batuk-batuknya yang tak kunjung sembuh, dan Ia sangat yakin Tuhan akan segera mengabulkan doa'nya. 

Mustopa terbangun dari tidur lelapnya, yang menganggu mimpinya bertemu Tuhan, saat hujan lebat tiba-tiba menghantam saung seperti ribuan panah yang menusuk-nusuk daging muda. Ia bangkit dan berjalan ke jendela. Dilihatnya hujan begitu lebat hingga mengaburkan pandangan. Langit begitu gelap dan jauh. Dingin merambat mengelilingi kehangatan didalam saungnya. Ia menuju jendela sembari merapatkan jaketnya. Saat ia membuka pintu, tiba-tiba air menyembur wajahnya. "Kejam sekali hujan ini." Ujarnya sembari menutup pintu, lalu menuju dapur. Ia menghidupkan api di tungku dan merebus air. 

Hujan semakin deras dan langit bergemuruh. Setelah menghangatkan diri dengan secangkir kopi dan sebuah singkong bakar, Mustopa tidur kembali. Ia meringkuk dalam selimut tebalnya. Ia bermimpi bertemu dengan kedua putrinya, menantunya dan cucu-cucunya. Ia ingin berkata bahwa ia sangat merindukan mereka. Mereka tersenyum dan mengatakan hal yang sama. Sebuah tangan dingin membawanya.

Dua hari kemudian Mustopa ditemukan meninggal dunia, dalam dekapan selimut hangat di dalam saungnya. Hujan sudah lama reda. 

Jakarta, 10 Juni 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram