Pergumulan IDE di IFP-PRE ACADEMIC TRAINING


Jakarta 20 September 2011
Semalam aku dan Vita langsung menuju ke hotel Sri Varita di bilangan Salemba. Dalam jadwal, kami akan menginap selama seminggu untuk mengikuti kegiatan orientasi sebelum kami memperoleh kosan. Aku sekamar dengan seorang teman bernama Dewi dari Palu, Sulawesi Tengah. Ia seorang perempuan yang cantik. 

Hari ini, senin yang penuh kebahagiaan, adalah hari pertama Pre-Academic Training (PAT). Setelah menuntaskan sarapan pagi, aku menuju sebuah ruangan yang telah ditata sedemikian rupa. Telah duduk belasan peserta yang belum kutahu siapa nama dan darimana asal mereka. Keberadaan mereka di ruangan itu membuatku terkejut. Inilah mereka. Ini mereka. Mereka yang akan menjadi keluargaku selama 6 bulan kedepan dan hingga kami semua menjadi 'sesuatu' yang layak bagi pemberi dana-kepercayaan, kepada kami. Inilah untuk pertama kalinya aku akan menerapkan apa yang disebut 'toleransi yang sesungguhnya' atas perbedaan pandangan, agama, suku, kebiasaan, rencana-rencana hidup, dan hal-hal yang belum pernah kupahami sebelumnya. 

Acara dimulai. Lalu kami saling memperkenalkan diri masing-masing. Kami semua berasal dari berbagai provinsi di Indonesia, dari NAD hingga Papua, dari Kalimantan hingga Jawa. Semua. Semua yang menggambarkan 'Inilah Indonesia'. Kami mulai saling bertukar senyum satu sama lain. Dan aku mulai akrab dengan seorang perempuan berjilbab, berkulit putih dan sipit bernama Ikfina dari Jepara. Ia menjadi yang paling dekat denganku hari ini. Kami mulai saling mengenal dan menanti-nanti keajaiban macam apa yang menunggu kami.

Lalu Aku bertemu dengan perempuan cantik dan berwibawa pemilik Tanda Tangan 'sakti' bernama Mira Sambada yang ternyata begitu ramah. Lalu Mbak Nurwening 'si pemberi informasi' yang email-emailnya selalu kunantikan. Plus Mbak Marni yang terlihat begitu baik hati. Mereka semua begitu baik. Kawan-kawanku itu, seperti biasa dengan prinsip 'zero' dan 'gelas kosong' aku mengenal dan menilai mereka sebagai kawan baru. Aku ingin mengatakan bahwa mereka semua baik dan layak menjadi rekanku dalam menuju kapal impian, sebagaimana aku ingin mereka menganggapku layak menjadi rekan mereka dengan tujuan yang sama.

Yang terkenal hari ini;
Daeng si pribadi lucu, kocak, unik dan senantiasa membuat rekan-rekannya tersenyum.
Kadek yang serius, baik hati dan selalu berbagi tentang pengalamannya di Luar Negeri.
Umar Werfete yang selalu mendokumentasikan momen-momen mengejutkan.
Hendro Cahyono yang membuat kantuk menguap dengan kelucuannya.
Novita Sianipar yang serius dan terlampau rendah hati.
Harli yang agresif.

PAT opening

Diantara seruput kopi panas dan kantuk, perkenalan diantara peserta berjalan dengan baik. Kecangguangan menguap layaknya embun yang meninggalkan bumi saat menyambut matahari dengan penuh senyuman. Sekat-sekat individual menguap, dan aku melihatnya. Mereka -kami semua- memancarkan kekaguman pada rekan-rekan kami yang lain. Yang unggul, luar biasa, kuat dan nasionalis. Perkenalan ini membawaku pada apa yang disebut 'toleransi'. Jurang perbedaan yang dalam diantara kami telah dipersatukan dengan impian-impian yang jauh melampaui tingginya awan-gemawan. Inilah pintu menuju hakikat kehidupan. Kehidupan yang dinamis dan senantiasa bergerak. Meski kami tak pernah tahu apa yang akan terjadi esok hari dan di masa depan, namun kami yakin bahwa langkah kami hari ini adalah setitik pasir bagi rumah kebahagiaan yang akan kami nikmati di kemudian hari. Saat mereka tertawa, aku tersenyum. 

Inilah dunia yang lama kunantikan. Yang menggantikan keburaman duniaku di belakang sana, yang telah kulipat dan kuikat kuat-kuat. Saat mereka tersenyum, aku turut tersenyum. Bahwa hidup memang telah ditakdirkan sebagai perjuangan dan jika aku ingin bahagia maka aku harus memperjuangkan apa yang kuinginkan itu. Dari mereka semua aku belajar, bahwa usia, pengalaman, hidup, keluarga, etnis, agama, sex, dan latar belakang pekerjaan bukanlah penghalang bagi penghargaan yang begitu besar atas diri sendiri. Setiap orang harus keluar dari kotak ketertindasan atas dirinya sendiri agar mampu membebaskan manusia lainnya dari ketertindasan.

21 September 2010
Hari kedua PAT makin menyenangkan. Informasi memasuki halaman-halaman otak bagai es jeruk yang menyegarkan tenggorokan yang kering kerontang. University, University, University.  Berbagai presentasi mengenai studi di luar negeri seakan-akan membangunkan macan tidur, untuk bangun dan berlari menyambut takdirnya. Mana yang akan menjadi pilihanmu? nampaknya semua masih mereka-reka universitas terbaik tempat mereka belajar. Keputusan belun final, jadi masih ada banyak kesempatan. Riuh rendah tawa mewarnai kepenantan kami bagai pelangi yang menghibur bumi setelah hujan reda. Aku berharap, inilah jalan bagi jalan yang Alloh tunjukkan padaku.

22 September 2010
Apa yang terjadi hari ini? lelahku nyaris habis dan aku kian bersemangat. Kepenatan yang menyelimutiku terkelupas satu-satu, bagai air yang membersihkan lumut di permukaan bebatuan.

Apa yang penting dari tujuan kami melanjutkan pendidikan, ke luar negeri pula? Apakah sekedar untuk prestise sosial? Kebanggaan? Pematangan pengetahuan? Memperkaya pengalaman dan pergaulan internasional? Kesombongan dan ketinggian hati? Pembuktian bahwa bumi ini 'bulan'?/ Pembuktian bahwa benar dalam beberapa hal Indonesia jauh tertinggal dari negara-negara maju atau meninggalkan beberapa negara terbelakang?/ Semata-mata untuk bangsa?

Jawaban yang tepat atas pertanyaan tersebutlah yang kelak akan menuntun kemana kami akan melangkahkan kaki dan jelas tidak mengambil keputusan yang keliru. Belajar di luar negeri bukanlah hal yang mudah dan tak semua yang berbau luar negeri adalah bagus, hebat dan patut diperbandingkan dengan apa yang dimiliki Indonesia. Belajar di dalam negeri pun bisa menjadi keputusan yang baik dan tepat jika memang pilihan studi sesuai dengan tujuan kita membangun bangsa ini.

Beruntunglah, Mbak Mira Sambada, Mbak Nurwening dan Mbak Marni selalu memberi kami motivasi dengan cara yang unik. Bahwa kami akan memperoleh keberuntungan kami secara penuh jika kami menaruh kebanggaan sejajar dengan kerendahan hati. Sesungguhnya kami bukanlah apa-apa. Kami adalah sedikit individu yang telah dipercaya untuk mengemban kepercayaan panelis. Bahwa kami layak dipercaya untuk tumbuh menjadi calon pemimpin yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa ini.

Baiklah. Petualangan baru dimulai. Kelelahan masih menunggu untuk menyurutkan langkah dan mengerutkan semangat. Berjuta langkah menanti di depan mata.....


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram