Pisang Goreng 'KREMES'




Pagi ini aku belajar kembali bagaimana membuat pisang goreng yang baik. Bagiku, makanan bukan sekedar benda yang dapat membuat perut kenyang dan tubuh berenergi. Makanan merupakan anugerah sang pencipta. Makanan merupakan bahan bakar bagi tubuh untuk tetap menegakkan punggung dan melakukan aktivitas kehidupan. Makanan yang kumasukkan ke tubuhku merupakan manifestasi rasa sayangku pada tubuhku dan rasa terima kasihku padaNya karena telah menjaga tubuh ini. Karena itulah makanan itu harus halal dan baik. 

Aku adalah tipe orang yang menilai kualitas makanan dari penampilan. Jika penampilan meyakinkan maka aku akan mencobanya. Penampilan sebuah makanan mewakili kreativitas pembuatnya dan rasa cintanya pada siapapun yang akan memakan makanan itu. Aku tidak suka makanan dibuat sesukanya, dihidangkan sesukanya dan memiliki rasa sesukanya. Apa yang akan dikatakan organ tubuh bagian pencernaan dengan makanan demikian?

Nenekku mengajariku bagaimana cara memasak yang baik, sesederhana apa pun masakan itu, mulai dari memilih bahan, mengirisnya, memilih bumbu, cara mengaduk, cara menciumi baunya saat dimasak, cara menghidangkan dan cara memakannya. Bahan makanan harus dipilih dari bahan yang baik -halal, baik (nggak busuk, nggak menimbulkan penyakit), dan segar-. Kemudian cara mengiris bahan makanan bergantung pada jenis makanan apa yang akan dibuat. Misalnya jika aku mau membuat pisang goreng, maka aku harus membuat potongan sesuai jenis pisang dan seberapa matang pisang tersebut.  Pisang yang umum digoreng adalah pisang kepok, pisang lilin, pisang raja, pisang tanduk, dll. Nah, kalau mendapati pisang ambon atau pisang lainnya yang lembek dan kalau digoreng menyerap banyak minyak -ini nggak baik buat kesehatan- maka pilihannya adalah pisang tersebut dibuat sale -pisang yang dijemur hingga lembab dan berbentuk pipih- baru digoreng. Pisang kepok -karena bentuknya yang oval- bisa diiris menjadi tiga bagian tanpa putus dan dibentuk menjadi kipas. Pisang lilin -lihat ukurannya- bisa dibuat serupa kipas yang kecil atau yang besar. Kalau pisang raja biasanya dibelah dua saja, jadi potongannya memanjang. Kalau pisang tanduk biasanya diiris serong -agak tipis dan panjang-.

Pisang bisa langsung digoreng dengan atau tanpa tepung. Jika digoreng tanpa tepung -misalnya karena pisang masih mengkal- maka aku harus mencampurkan beberapa sendok air matang bercampur garam dan bawnag putih bubuk ketika pisang digoreng. Hasilnya, hmmmmm gurih. Nah, kalau mmeilih menggoreng pisang untuk menggunakan tepung, aku biasanya menggunakan campuran tepung terigu dan tapioka dengan porsi seimbang, diberi sedikit garam dan sebutir telur. Hasilnya, pisang renyah dan gurih akan menggoyang lidah.

Pagi ini, aku membuat pisang lilin goreng. Bentuknya kupu-kupu dan aku berusaha membuat pisang goreng kremes dan ya hingga adonan terakhir aku belum berhasil membuat pisang goreng kremes sebagaimana yang kuinginkan. Hm, mungkin masih harus terus bereksperimen. Satu pelajaran penting lainnya, gorenglah pisang dalam api sedang, kata nenekku. Menggoreng pisang dalam api sedang dapat membuat pisang matang merata, rasanya lebih enak dan tampilannya cantik.

Dalam hal ini aku sering menemukan beberapa kawan kalau membuat pisang goreng kok asal banget, seperti tak punya selera terhadap seni membuat makanan dan nggak sayang sama tubuhnya sendiri. Pisang dipotong semaunya, digoreng semaunya dan hasilnya: tampilannya aneh -sebagian gosong sebagian lain tidak-, rasanya ga merata dan penggorengan menjadi kotor. 

Aku masih terus bereksperimen membuat pisang goreng yang baik dan lezat. Sebab aku sungguh berkeinginan menjadi koki yang hebat bagi keluargaku kelak.  Aku juga selalu mengingat sebuah pelajaran penting: apa yang kamu makan akan menjadi darah dan dagingmu dan akan mencerminkan kelakuanmu. 

Salemba-Jakarta, 26 Feruari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram