MASIHKAN KITA INDONESIA?


07 Oktober 2010
Pulang dari LBI PPB UI dalam keadaan begitu lelah. Baru belajar 4 hari rasanya sudah 2 minggu. Ditengah ketidakepedulian negara akan hak pendidikan rakyatnya, aku masih saja mengeluh, padahal semua yang kuperoleh saat ini diberikan secara cuma-cuma. Maafkan aku, kawan-kawan. Aku tak tahu mengapa begitu sulit menjalankan amanah ini dalam suasana Jakarta yang mencengkeram rasa nyaman yang telah ajeg dalam jiwa kampunganku. Ini baru Jakarta, belumlah lagi dunia internasional yang kompleks dan mengejutkan.

Benar bahwa pengalaman adalah guru yang paling berharga. Sebagaimana pengalaman kecil di hari ini, yang membuatku merasa gamang menggantungkan kecintaan dan kebanggaan yang begitu tinggi pada Indonesia, sebagai sebuah bangsa. Selama hidup aku meyakinkan diriku bahwa tanah airku sungguh tak terkotak-kotakkan oleh ruang. Aku telah meyakinkan diriku bahwa dimana asma Alloh berkumandang disanalah tanah airku, tanah seorang Muslim. Bagaimanapun juga, aku lahir di negeri ini, negeri yang sangat kaya, subur dan indah. Aku beruntung dilahirkan di negeri ini, negeri yang tak kurang suatu apapun. Betapa Baiknya Alloh menakdirkanku lahir di negeri indah ini. Namun, langkah kecilku untuk tetap membuat negeri ini sebagai sepotong tanah surga yang terlempar ke dunia, sungguh mustahil. 

Negeri ini begitu luas dan aku sama sekali tak paham kecuali sangat sedikit, hanya sepetak kecil tanah di kampungku yang membuatku masih kampungan. Sebagai generasi penerus bangsa ini, sebagaimana yang selalu dikatakan oleh para pemimpin bangsa, bahwasanya masa depan bangsa ini terletak di tangan pemuda. Karena itulah, aku merasa miris dengan ketidakmampuanku mengorganisir kaum muda (sepuluh orang saja) untuk menjadi pemuda yang 'sesungguhnya layak disebut pemuda' bagi bangsanya. Serta pada sebagian besar pemuda yang hanya berleha-leha, hanya bicara, hanya mengkritik, hanya mengumpat, hanya menuntut, tapi tak menyatukan langkah untuk melakukan perubahan signifikan. Mungkin aku juga termasuk dalam kumpulan pemuda yang 'harus diselamatkan' nasionalismenya, sehingga dapat berguna selayaknya generasi sebuah bangsa terhormat dan bermartabat.

Setiap pagi, saat menuju UI, aku melalui Jl. Salemba Tengah Baru di sepanjang bantaran sungai XX (Entah sungai apa namanya......). Jalan yang kulalui dihimpit oleh pepohonan tinggi seperti jambu, mangga, sawo, dan jenias kayu-kayuan, yang menjadi penguat tebing sungai. Serta rumah-rumah sangat sederhana yang pengelolaannya sungguh sangat tidak indah. Kehidupan yang rapi dan jorok berpadu di wilayah ini. Entah kenyamanan macam apakah yang membuat mereka begitu betah tinggal di pinggir bantaran kali yang kotor, teramat kotor. Lalu melewati beberapa warung sederhana yang menjual aneka menu sarapan pagi seperti nasi uduk dan gorengan, serta kopi dan rokok.  Di tempat inilah para mahasiswa (entah kuliah dimana.....) sarapan pagi sambil bercengkrama dengan sesamanya. Mereka duduk-duduk dengan nyamannya di kursi-kursi kayu di pinggir jalan yang penuh polusi, makan dengan lahap meski di sekelilingnya berceceran sampah dan berterbangan lalat-lalat, serta asyik mengobrol sambil menikmati sebataong rokok. Apakah ini habit mahasiswa di Jakarta yang berasal dari kalangan menengah ke bawah?

Saat pulang dari UI dan melewati jalan yang sama aku mengalami suasana yang serupa. Pemuda-pemuda itu meramaikan warung-warung sederhana di jalanan itu. Kemudian sesuatu memenuhi pikiranku. Oktober adalah bulan sumpah pemuda. Apa yang mereka pikirkan tentang sumpah pemuda? apa yang tengah mereka rencanakan untuk memperingati hari sumpah pemuda? apakah mereka masih ingat isi sumpah pemuda? apakah mereka tidak lupa bahwa 28 Oktober adalah hari sumpah pemuda? apakah mereka merasa betapa pentingnya peringatan itu bagi para pemuda? jika kukatakan mereka itu mash polos, sungguh tidak mungkin. Jika kukatakan mereka itu tak peduli, mana kutahu mereka peduli atau tidak. Jika kukatakan mereka itu malas, mana kutahu apa yang sesungguhnya tangah telah mereka capai dan berikan untuk bangsa ini. Jika kukatakan mereka itu liar, hm, mereka nampaknya cukup sopan. Wajah mereka bukan wajah-wajah pemuda yang nakal dan urakan. Lalu apa? aku tak tahu, aku tak mau menghakimi.

Bicara pemuda adalah bicara bangsa. Di dunia ini, tak ada satu bangsa pun yang dapat menegakkan martabatnya tanpa peran pemuda. Pemuda ibarat darah bagi tubuh sebuah bangsa. Maka jika pemuda lemah, loyo, malas, tak punya kreativitas, tak punya inovasi, berleha-leha, tidak bermasyarakat dan hanya mengikuti egonya, mati rasa, maka tamatlah sebuah bangsa. Karena itulah jauh-jauh hari Soekarno mengatakan bahwa ia hanya memerlukan 10 orang pemuda saja untuk mengguncangkan dunia. Soekarno begitu paham bahwa apa yang dilakukan pemuda dapat berpengaruh signifikan pada kehidupan. Lalu apa yang terjadi saat ini di Indonesia yang jumlah penduduknya didominasi kaum muda? tak perlu jauh-jauh menghitung, atau menginventarisir karya pemuda dari seluruh Indonesia, di Jakarta saja sebagai ikon bangsa, apa yang telah dilakukan pemuda? misalnya pemuda-pemuda yang saban hari kulihat itu.

Pemuda, terutama mahasiswa, merupakan anggota masyarakat yang intelektual sehingga perannya sangat dibutuhkan dalam mewujudkan tatanah kehidupan yang berimbang. Sejatinya, pemuda tidak menjadi beban dalam kehidupan bermasyarakat melainkan menjadi aktor perubahan. Pemuda harus memberikan teladan kepada masyarakat, dalam hal apapun. Jika pemuda tak melakukan tindakan-tindakan solutif atas persoalan bangsa, maka bagaimana mungkin kita berharap pada perubahan yang dinahkodai masyarakat awam?

Satu contoh kecil saja. Setiap hari, para pemuda yang kulihat itu nampaknya begitu menikmati kondisi 'seadanya' di tempat mereka biasa sarapan pagi, ngobrol atau merokok. Jalanan yang kotor dan berpolusi, sampah berserakan di selokan, lalat-lalat beterbangan tak tentu arah, sungai yang berisi sampah, bantaran sungai yang disesaki sampah, warung-warung yang nampak tidah higienis, dan tentu saja tak ada aroma yang dapat menyegarkan selain BAU.  Kurasa setiap hari mereka melakukan aktivitas yang sama. Mengapa mereka tak melakukan perubahan? mengapa mereka tak sedikit saja membantu masyarakat sekitar membersihkan wilayah tersebut? mengapa mereka nampak nyaman saat melemparkan begitu saja bungkus makanan ke selokan atau jalanan? benarkan ini sikap pemuda terpelajar yang menimba ilmu di jantung Indonesia?

Begitu sulit pemuda dari berbagai wilayah di Indonesia menegakkan sumpahnya. Sumpah Pemuda. Sumpah yang mereka kumandangkan sebagai bukti bahwa perjuangan menegakkan kemerdekaan Indonesia tak mungkin tercapai tanpa persatuan dan kesamaan strategi. Kemerdekaan begitu mahal, lebih mahal dari benda berharga manapun di dunia ini. Semangat itu, khawatirnya, hanya menjadi slogan saja bagi pemuda saat ini. Pemuda yang tak paham bagaimana melanjutkan perjuangan mereka dengan mengisi kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan itu dari penjajahan baru (neo kolonialisme).

Untuk hal kecil dan remeh temeh seperti tertib 'membuang sampah pada tempatnya saja begitu sulit dilakukan', maka bagaimana mungkin pemuda akan bicara mengenai keadilan hukum, ekonomi dan lingkungan? bagaimana pemuda mau bicara mengenai pemberantasan KKN? bagaimana mungkin pemuda akan bicara mengenai mengembalikan martabat dan kehormatan bangsa ini dihadapan bangsa lain? bagaimana mungkin pemuda tak merasa malu meminta para 'veteran pejabat' harus berlaku adil pada bangsa ini? atau misalnya meminta presiden untuk bersikap patriotik dan selayaknya sebagai pemimpin sebuah bangsa besar? never, tak akan pernah terjadi.

Pemuda selalu mengumandangkan lagu semangat ini;

bergerak dan melaju
menuju Indonesia baru
singsingkan lengan maju
hancurkan semua musuh-musuh

kita pasti menang
melawan penindasan
kita pasti akan menang

Namun, lagu itu, nampak hanya hadir dalam aksi-aksi jalanan yang memperlihatkan bahwa pemuda itu hebat dan nasionalis. Di lapangan kehidupan, mana? ngurus sampah bekas bungkus makanan sendiri saja gak becus, bagaimana bisa mengatakan 'aku bisa mengurus negara'? Hm, zaman yang membingungkan.

Dalam kaitannya dengan peringatan hari sumpah pemuda pada 28 Oktober, maka selayaknya pemuda memiliki konsep untuk melakukan hal-hal sederhana sebelum melakukan gebrakan yang signifikan. Mungkin salah satu caraya adalah dengan bergotong royong membersihkan sungai-sungai di Jakarta dari sampah. Indah bukan jika sungai-sungai  di Jakarta bebas sampah? apalagi klo bantarannya ditanami bunga-bunga, serasa di negeri-negeri dongeng di Eropa.

Hanya dengan cara inilah pemuda dapat mengembalikan kehormatannya di hadapan generasi tua yang korup dan layak mengatakan bahwa mereka berbangsa, bertanah air dan berbahasa satu yaitu Indonesia.

bangun pemuda pemudi indonesia
lengan bajumu singsingkan
untuk negara
masa yang akan datang
kewajibanmu lah
menjadi tanggunganmu terhadap nusa
menjadi tanggunganmu terhadap nusa

Untuk semua generasi muda Indonesia:
-selamat Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2010-

Pengalaman hari ini sungguh sangat berharga.......


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram