Aku dan Cerita Tentang Kopi # 2



Aku terkenang pada euforia petani pasca reformasi tahun 1998. Saat itu, seingatku, politik nasional sedang kacau sementara rakyat kecil membutuhkan makan, untuk bertahan hidup. Jika kota-kota hancur karena penjarahan, maka desa-desa hancur karena 'booming' alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian. Aku ingat saat orang-orang bicara mengenai kesempatan mereka meraih keuntungan dan "Saatnya petani bahagia," kata mereka, terutama ketika masa pemerintahan BJ Habibie harga biji kopi kering di pasaran mencapai Rp.15.000. Hm, petani bersorak-soray dan para bos kopi kaya mendadak. Aroma kopi memenuhi udara dan senyum menghiasi wajah para petani. Mereka punya banyak uang dan mereka bisa membeli apapun yang mereka mau. Sebagian dari mereka membangun rumah yang besar dan mahal. Mereka bahagia dan mereka berterima kasih atas perubahan yang mereka anggap menguntungkan.

Saat itu aku masih duduk di bangku SMP. Aku belum tahu banyak tentang makna reformasi, yang aku tahu aku melihat euforia di wajah bapak dan paman-pamanku. Mereka bilang, mereka bisa membuka kembali lahan yang sempat terbengkalai di hutan lindung. Nyaris seluruh penduduk desa bersiap membuat lahan mereka kembali produktif dan kucium bau tanah memenuhi udara. Lahan yang kumaksud berada di hutan lindung (register...) aku lupa nomornya, yang kutahu kami biasanya menyebutnya dengan Pakuwan. Pakuwan berupa perbukitan dengan puncak yang disebut gunung Remas. Dari tempatku tinggal hanya berjarak 7 km dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki selama 2-3 jam atau dengan mengendarai sepeda motor.

Sebagai bagian dari keluarga petani, aku memiliki kenangan penuh atas wilayah ini meski aku tak pernah melakukan pekerjaan layaknya yang dilakukan anak-anak petani lainnya. Aku ikut ke kebun hanya untuk kesenanganku sendiri, misalnya untuk menikmati pemandangan alam, mencium harum bunga kopi, menyukai tunas-tunas kecil di batang kopi yang berlumur, bermain-main di sungai yang jernih dan penuh bebatuan, memperhatikan rumpun bambu yang memiliki tunas baru yang disebut rebung/ iwung, menengadah ke langit dan mencari-cari suara elang, mempertimbangkan rasa sakit yang meliputi persendian saat mendapati tanjakan, memperhatikan ilalang yang menari atau belukar di kejauhan yang mungkin saja menyembunyikan binatang buas, mendengarkan keheningan di lahan-lahan kosong, menikmati aroma getah rerumputan yang baru di babat, menikmati aroma tanah yang membius, memperhatikan buah-buah kopi yang merah menggoda atau yang berjatuhan dan membusuh dipermukaan serasah yang lembab, memperhatikan semut-semut yang membangun kerajaan mereka, mencari jamur, mencari jambu, mencari jeruk dan memanjat pohon mangga hutan yang batangnya luar biasa besar dan tinggi, atau hanya sekedar memperhatikan apa yang dilakukan para orangtua. Baiklah, akan kuceritakan dengan penuh mengenai wilayah ini. 

Awalnya lahan yang hendak dijadikan kebun dibabat terlebih dahulu dan dibakar hingga seluruh permukaan lahan tertutup abu (sangat berguna bagi tanah karena menyuburkan), lalu tanah dibiarkan selama sekitar 3 bulan sebelum ditanami (katanya supaya tanah sempat bernapas) petani membangun gubuk panggung sebagai tempat berteduh dan membendung mata air. 

Sebelum mereka menanam kopi, mereka menanam tanaman palawija terlebih dahulu atau tanaman buah-buahan atau pisang yang diharapkan akan berguna (sebagai bahan pangan) selama mengurus tanaman kopi muda. Para petani tak mengerjakan pekerjaan ini sendirian, biasanya, mereka saling membantu antar sesamanya dan bergiliran agar pekerjaan menjadi ringan dan diantara mereka terbangun satu ikatan pertemanan dan sikap saling tolong menolong. Tahun 1998 wilayah ini nyaris habis dibabat oleh pendatang baru yang entah dari mana asalnya yang juga membuka kebun kopi. Cara membuka lahan memang tidak dengan sistem tebang habis melainkan dengan tebang pilih sebagaimana sistem Pekarangan di pulau Jawa. Tapi ya, bagaimana pun juga tutupan hutan mulai berkurang dan dari kejauhan gunung Remas tampak merah karena nyaris sebagian besar lahan dibuka untuk kebun kopi. Dan ketika para pecinta lingkungan dan pemerintah berteriak-teriak meminta petani menghentikan aktivitasnya, apa mau dikata, mereka toh tak bisa memberi makan para petani itu dan keluarganya. Mereka juga tak memberikan solusi yang membangun bagi para petani yang memang tak punya pilihan lain selain membuka lahan daripada menjadi pengemis di Jakarta.


Saat kopi muda mulai tumbuh dan jumlah daunnya bertambah, saat itu kebun para petani mulai rimbun oleh tanaman palawija yang mulai bisa dipanen atau rumpun-rumpun pisang yang berbuah lebat dan membuat para petani tersenyum atau tanaman jagung yang menyenangkan hati jika dipandang atau padi huma yang siap dipanen. Seiring waktu, saat kopi mulai terlihat tegak dan gagah, para petani biasa mengelilingi lokasi kebunnya dengan perasaan senang dan bangga. Jika seorang petani bertemu dengan petani lainnya, mereka akan saling bertukar kabar tentang kondisi kebun mereka, juga tentang fluktuasi harga kopi di pasaran. Kemudian pada petani mulai menghitung, kapan kiranya merekan akan panen untuk pertama kalinya atau yang biasa disebut Ngagung. Ngagung merupakan sebutan bagi  pemanenan buah kopi untuk pertama kalinya sejak ditanam atau ketika pada hitungan tahun tertentu buah kopi akan lebih lebat dari biasanya.

Rp.15.000 merupakan nilai yang sakti ketika itu. Ketika sebelumnya, selama 32 tahun, rakyat berada dibawah bayang-bayang kesuksesan penguasa dan keluarganya dan penjilat-penjilatnya, kini mereka lah yang berkuasa atas tanah yang diberikan Tuhan. Mereka tak peduli teriakan penggiat lingkungan yang merasa miris dengan hutan-hutan biru berubah menjadi merah, dan sungai-sungai yang jernih menjadi kecoklatan dan udara yang segar menjadi panas dan ketika buah kopi dipanen, udara dipenuhi aroma asap, asap dari mesin penggiling kopi dna dari wajan besar tempat biji kopi diganggang. Halaman-halaman dipupuri kopi yang tengah dijemur, meja-meja di rumah-rumah dipenuhi gelas-gelas kopi, dan berkarung-karung kopi di bagian gudang atau di salah satu bagian rumah yang lain. 

Para petani menghela napas lega, sebab mereka memiliki masa depan dan anak-anak mereka akan terus melanjutkan sekolah dan istri mereka akan membeli baju baru atau sebentuk perhiasan atau menu makan mereka akan lebih bergizi dari sebelumnya, mereka bisa mencicil utang atau kini mereka yang berbaik hati memberi pinjaman, iuran untuk perbaikan Masjid yang rusak dan TPA yang kekurangan mushaf Al-Qur'an, atau iuran untuk memperbaiki saluran air, atau membeli televisi yang lebih besar ukurannya atau mengunjungi sanak-saudara di pulau Jawa atau membenahi nisan anggota keluarga yang telah lebih dulu pulang. Sungguh, warna kehidupan telah berubah dan setidaknya untuk beberapa tahun setelah itu senyum manis dan penuh harapan senantiasa menghiasi wajah dan hari-hari mereka. Petani kopi merasa bahagia dan berterima kasih pada Presiden yang baru.


Jakarta, 18 Februari 2011

sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram