Aku dan Cerita Tentang Kopi # 1


Hitam dan pahit, begitulah aku mengenal kopi sejak aku kecil. Sebenarnya ini tentang segelas kopi hitam. Aku tahu tentang rasa dan rupa kopi hitam sebab aku adalah anak dari keluarga petani yang sebenarnya memiliki kebun kopi. Ingatan awalku tentang kebun kopi adalah saat aku masih sangat kecil. Saat itu aku masih satu-satunya anak di keluargaku dan kami masih tinggal di Liwa, ibukota kabupaten Lampung Barat (yang waktu itu masih menginduk ke kabupaten Lampung Utara, mungkin sekitar tahun 1987). Liwa adalah tanah kelahiranku. Bapakku memiliki sebuah kebun kopi (sungguh aku tak tahu berapa persis luasnya) yang ketika itu cukup dibilang mampu menopang kehidupan keluarga kecil kami lebih dari cukup. Bapakku seorang pekerja keras dan aku tahu beliau menyediakan segala kebutuhanku dengan sepenuh cinta. Ibuku mencoba membantunya, sebisanya, sebab beliau tidak lahir dari keluarga petani. Ah, aku lupa bagaimana kehidupan kami ketika itu. Pasca tahun 1990 yang sangat menyedihkan, semua ingatan masa kecilku sebelum itu hilang, kecuali beberapa hal saja. 

Saat itu, aku tak tahu persisnya berapa usiaku, hari hujan lebat dan ibuku tak ada dirumah. Rumah kami adalah rumah panggung khas Lampung atau Semendo terbuat kayu yang kuat dan dindingnya dari papan yang halus berwarna coklat, hm, nyaris menyerupai warna lempung. lantainya licin karena ibuku mengepelnya setiap hari, dan kadang-kadang mengepelnya dengan lilin agar lantainya bening dan halus. Aku ingin mencari ibuku ke kebun kami, kalau tak salah ibuku tengah mencari udang dan ikan di sungai bersama salah seorang bibiku. Aku mencari ibuku dalam rintik hujan, dengan membawa payung pelangi. Aku mendapati ibuku di sungai dan beliau malah menyuruhku pulang agar aku tidak demam. Tapi, aku melihat sesuatu di kejauhan. Aku melihat serombongan binatang yang aku tak tahu namanya. Sampai saat inipun aku tak bisa menyebutkan nama binatang tersebut. Harimau? Zebra? aku lupa. Aku melihat serombongan binatang yang berlarian menuju gua. Ya, aku melihatnya dari kebun kopi milik bapakku. Kebun kopi yang aku tak ingat lagi bagaimana bentuknya. Aku lupa semuanya. Aku hanya ingat kebun di kopi milik bapakku ada serumpun pohon salak yang tak kunjung berbuah hingga aku bosan menantinya berbuah.

Satu hal lagi yang mengingatkanku tentang kebun kopi milik bapakku: gajah. Ya, kini aku tahu bahwa sebuah kebun pasti berada di hutan, bukan di pinggir desa atau di desa. Lampung Barat merupakan kabupaten dengan hutan-hutannya yang cantik dan lebat telah memikat banyak orang untuk membuka kebun kopi. Saat itu, entah petang entah malam entah subuh, serombongan gajah berada di kebun dan itu dekat sekali dengan rumah kami. Saat itu bapakku mengambil golok dan pentungan, juga ibuku, juga beberapa keluarga di sekitar kami di rumah mereka masing-masing. Semua memukul kentongan untuk mengusir gajah dan menyiapkan golok kalau-kalau gerombolah gajah itu menyerang rumah penduduk. Keningku terkena alat pentungan dan bapakku menyuruhku tidur di ruang tamu jika aku takut tidur sendirian di kamar sementara mereka menghalau gajah-gajah tersebut. Lalu aku lupa semua kejadian setelah itu.

Tahun 1990 kami pindah ke desa Sukapura, tempat yang akhirnya menjadi saksi pertumbuhanku dan cita-citaku dan peristiwa menyedihkan yang sangat menyakitiku hingga saat ini. Bapakku sakit keras dan entah siapa yang mengurus kebun kopinya di Liwa. Suatu hari, saat aku telah berusia 15 tahun, aku baru tahu bahwa ternyata ada seseorang yang menjual kebun kopi milik bapakku tapi tak memberikan sepeser pun uang hasil penjualan itu. Orang itu menipu bapakku, menipu keluarga kami, dan telah mencetak satu kenangan buruk dalam pikiranku. Kami tak punya kebun lagi dan bapakku sakit. Keluarga kecil kami mulai berantakan. Dan rumah panggung itu pun dijual ibuku tak lama setelah ia memutuskan meninggalkan kami semua dan membuat hari-hariku dipenuhi tangisan dan hari-hari bapakku dipenuhi rasa putus asa. Dua hal yang paling berharga dalam hidup kami sebagai keluarga telah hilang. Seperti uap di segelas air kopi panas. 

Kami masih punya kebun kopi di Desa Sukapura, beberapa bidang kebun yang tersebar di beberapa tempat. Kebun-kebun itu masih milik kakek dan nenekku yang kelak mereka wariskan kepada anak-anaknya, kepada bapakku dan paman-pamanku dan bibi-bibiku. Hal menyedihkan terjadi kembali terkait kebun-kebun kopi itu. Beberapa bidang kebun kopi terpaksa dijual untuk mengobati biaya berobat kakekku yang mengidap penyakit paru-paru. Hingga setelah kebun-kebun itu diwariskan, terjual sedikit demi sedikit untuk alasan yang kadang-kadang tak kumengerti. Properti keluarga kami terkait kebun-kebun kopi semakin berkurang. Aku tahu, perlahan-lahan keluarga besar kami mengalami kebangkrutan. Ah, kebun-kebun kopi yang manis mulai terasa pahit. Seperti buah kopi yang berkulit manis, kemudian menjadi sangat pahit jika telah menjadi bubuk. Kopi memang unik. 


Kopi, aku tak tahu kapan pertama aku aku mencoba-coba meminum air kopi, kopi hitam yang kental dan manis. Hingga aku berusia 17 tahun, kurasa, aku tak pernah membuat segelas kopi untuk diriku sendiri. Aku meminum kopi milik bapakku atau paman-pamanku. Sebagai keluarga petani, aku cukup hapal tentang jadwal minum kopi bapakku atau paman-pamanku. Pertama kali segelas kopi disuguhkan pada pukul 5 pagi sebagai menu sarapan pagi -bersama pisang goreng- sebelum mereka berangkat ke kebun, kemudian pukul 10 pagi saat istirahat, kemudian pukul 12 siang saat istirahat untuk makan siang, kemudian pukul 4 sore saat pulang dari kebun, kemudian pukul 7 malam saat menonton televisi, dan terkadang pukul 12 malam saat musim pertandingan sepak bola. Petani lebih banyak minum air kopi daripada manusia dengan profesi lain. Kujamin itu, bahkan dari pengusaha kopi paling kaya sekalipun.


Oh ya, aku punya beberapa photo saat bapakku dan kebun kopi miliknya di Liwa, juga photo beberapa pamanku dan seorang bibiku juga dengan kebun kopi milik mereka, photo tua yang membuatku geli saat memandanginya, melihat wajah bapakku selagi muda, wajah yang teduh dan sabar, juga wajah paman atau bibiku yang lucu.

Jakarta, 15 Februari 2011

.

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram