Dari LAMPUNG ke JAKARTA




Ah, lebaran tahun ini rasanya begitu singkat. Aku tak lagi sempat mengunjungi kawan-kawan masa kanak-kanakku sebab harus kembali ke Bandar Lampung. Bahkan aku tak bisa menghadiri pernikahan sahabat baikku sejak masih kanak-kanak. Semuanya harus diselesaikan 'secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.' Libur lebaran tahun ini hanya untuk keluarga.

Aku berdo'a: Ya Alloh, teguhkanlah aku di langkah ini....

Aku membereskan semua barang-barangku. Satu koper besar. Maklum aku anak kos yang tak ubahnya manusia yang hidup berpindah. Buku-buku telah kukirimkan ke rumah. Juga telah kubersihkan kosan yang telah kutinggali selama setahun terakhir. Bersama temanku yang akan berangkat ke Jogja untuk kuliah S2 di UGM, aku memupuk semangat. Kami adalah dua sahabat yang sepertinya memiliki nasib serupa. Dan kali ini nasib serupa kami adalah melanjutkan studi magister. Ia sama-sama melamar beasiswa IFP bersamaku, tetapi ia gagal dan terpaksa melanjutkan S2 dengan biaya sendiri. 

Lalu aku ke Jakarta.
Selamat datang di dunia UNIK, tempat bertemunya bermacam-macam individu dengan beragam karakter dan beragam kapabilitas yang suatu saat akan mengguncangkan bangsa ini. kata-kata ini kupatrikan dalam hatiku dalam perjalanan menuju Jakarta. Benakku tiba-tiba berisi kegaduhan tentang ide membangun masa depan bangsa dari berbagai sudut pandang. Kupikir-pikir, benar sekali rasanya bahwa diriku ini hanyalah perempuan muda yang belum punya banyak pengalaman. Mereka itu siapa ya? mereka mungkin merupakan kejutan.

Perjalanan empat puluh menit, Lampung - Jakarta, kunikmati dengan penuh rasa syukur. Jika bukan Rahmat dan KehendakNya, betapapun besarnya usahaku untuk menjadi bagian 'keluarga' ini tak akan mungkin terwujud. Langit Bandar Lampung tertinggal di belakang, nun jauh disana bersama gumpalan awan tebal kehitaman yang sesekali diselingi petir. Hamparan hijau di permukaan bumi yang sejenak lagi akan diselimuti kabut secara penuh membuatku terharu. Subhanalloh....Allohu Akbar.... la haula wa la quwwata illa billah..... Sembari menghapus airmata, kukuatkan diriku, meninggalkan segala hal yang telah kubangun di Lampung, untuk kehidupan yang lebih baik dan untuk Lampung tempatku kembali pulang setelah perantauan panjang.

Jakarta. Kota metropolis yang selama ini tak pernah masuk dalam daftar rencana kunjunganku akhirnya akan menjadi rumahku selama enam bulan kedepan. Di kota serba ada dan serba kacau itu, aku akan belajar keras demi masa depan yang sangat kuinginkan. Kehidupan yang lebih baik untukku, keluargaku dan bangsaku. Memang bukan pertama kalinya aku ke Jakarta dan melakukan kegiatan di Jakarta. Kali ini, segala sesuatunya berbeda. Enam bulan di Jakarta bukanlah hal mudah dan menyenangkan.Udara Jakarta akan menyusutkan paru-paruku dan membuatku merasakan menyempitnya kehidupan.

Dari udara, tampak jalanan sekitar Jakarta masih mengular. Layaknya spesimen baru berwarna keemasan yang bersinar-sinar meminta perhatian langit, bergerak, tak terputus dan menghangatkan malam yang dingin. Pesawat yang membawaku mendarat dan kurasakan sorotan lampu-lampu di Soekarno-Hatta. Inilah gerbang yang membuka pintunya untukku. Aku berjalan, bersama yang lain, menuju pintu yang lebih sempit, namun menyiapkan cahaya terang. Berjalan sembari berdo'a bahwa keberuntungan ini benar-benar memihak masa depan yang lebih baik, untukku, untuk mengakumulasi perjuanganku, menjadi sesuatu yang layak kubanggakan saat kunyatakan bahwa aku telah berjuang untuk hidup dan inilah hasilnya.

Hari ini telah kulalui dengan baik, meski sempat ada sedikit air mata yang mengalir dan rasa yang menyesakkan dadaku. Tak mengapa. Aku begitu paham dengan artinya perjuangan dan artinya keberhasilan. Aku hanya harus melaluinya dengan sukses. Jakarta, aku datang padamu dan menyusup dalam pelukanmu. Apapun yang akan terjadi nanti, aku telah memutuskan untuk masuk semakin dalam.

Hari ini aku bertemu satu dari 49 rekan penerima beasiswa IFP. Namanya Vita, dari Sumatera Utara. Dia juga menjadi perpanjangan tangan Tuhan yang menolongku dengan uang Rp. 15.000. 

Jakarta, 19 September 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram