Balada Penumpang Perempuan di Trans Jogja


aku bersyukur di lahirkan sebagai perempuan
sebab Tuhan memberikan kekuatan 
jiwa perempuan better than laki-laki
sebab itu juga mungkin kini dunia dipenuhi perempuan
dan kaum kaum ibu melulu melahirkan perempuan
karena cuma perempuan, yang sanggup
menanggung semua beban dunia....


Trans Yogya, sepulang dari Taman Pintar - Yogyakarta

Kieu, aku membeli beberapa buku dan wow berat. Waktu Ashar sudah berlalu dan aku memutuskan untuk pulang ke kostan kawanku di asrama mahasiswi Lampung di Seturan. Nah, berhubung di Yogya nggak ada angkot, maka mereka yang nggak punya kendaraan pribadi ya naik Trans Yogya. Untuk tiba di Shelter Seturan di dekat kampus UPN maka aku harus naik ke bus 1A dan dilanjutkan dengan bus 3A. Berhubung liburan, maka transportasi publik ini selalu kebanjiran penumpang. Memang nggak separah di Jakarta sih, tapi ya yang namanya empet-empetan tetep bikin paru-paru sesek

Ini tentang cerita anak muda, perempuan muda, ya aku ini, siapa lagi memangnya? naik ke bus 1A yang waduh penuh banget sampai empet-empetan macam ikan asin yang dijejer di dalam toples persegi panjang. Yo wis, berdiri, mau apa lagi? sebab liburan begini mana ada bus yang kosong. Lama.....lama....lama....lama....sampai lama banget nggak dapat tempat duduk juga. Duh pegel banget nih bahu sama tangan. 

Giliran ada bangku kosong, pas bus berhenti di shelter demi shelter untuk turunin atau naikin penumpang, aku nggak kebagian lagi tempat duduk. Padahal disitu ada beberapa anak muda/ anak kuliahan, yang pasti tahu bunyi hukum sosial di dalam angkutan publik macam ini; Dahulukan perempuan terutama perempuan hamil dan orangtua. Ya ampun, laki-laki macam begini dimana- mana sama aja. Nggak malu ya mereka sama diri mereka sendiri? nggak kebayang ya dibenak mereka bagaimana jika pemuda-pemuda macam mereka tak memberikan tempat duduknya pada ibu/ nenek/ pacar atau saudara perempuan mereka yang posisinya sama denganku dan perempuan-perempuan lain di bis ini? nggak kepikir ya sama mereka  udah mempermalukan diri sendiri, misalnya dengan membiarkan ibu-ibu berdiri sementara mereka duduk? nggak malu ya jadi anak muda yang nggak bersikap santun sama yang lebih tua? nggak malu ya anak jadi muda sekolahan tapi sikapnya macam anak muda yang lahir di hutan? kesopanan dan kesantunan telah meninggalkan generasi ini....


Kepegalan ini, pundakku dan tanganku, dan sebuah kursi yang sebentar lagi kosong, eit...ada seorang ibu masuk dan nampaknya menginginkan kursi yang ada di dekatku. Si kernet udah tahu klo aku butuh duduk, wajahku udah pias ciga ikan di asinkan, tapi dia paham bahwa anak-anak muda yang duduk-duduk itu tak mau memberikan tempat duduknya pada kami. Dan, biarlah si ibu duduk. Setidaknya jika tua nanti aku akan diperlkaukan sama sebagaimana aku memperlakukan ibu tersebut. Nggak papa aku berdiri sejak dari Malioboro hingga Seturan, sebab aku masih muda dan memliki energi untuk berdiri, dan aku bisa bersabar dengan keadaan macam begini. Ya, sebab aku/kami dilahirkan sebagai perempuan dan Tuhan memberikan kekuatan jiwa yang lebih baik dari laki-laki, sebab Tuhan telah membuat plan panjang bagi perjalanan hidup manusia seperti yang tengah kujalani ini, untuk perempuan menghadapi saat-saat seperti ini.....


lihatlah, sebab aku dilahirkan sebagai perempuan
maka aku sanggup menghadapi segala...

Jakarta, 29 Desember 2010
 

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram