Cerita Tentang Jakarta # 20


Tidak semua rencana berjalan sebagaimana mestinya sehingga jika tidak melakukan persiapan lain bisa membuat hati kecewa. Selama PAT, aku tahu, aku tak mengalami banyak perkembangan menggembirakan. Aku sibuk dalam duniaku yang menyedihkan dan tak bisa mengikuti semua pelajaran dengan baik. Meski aku telah berusaha untuk melakukan yang terbaik, tetap saja aku tak bisa melakukannya. Hingga aku menjadi cengeng, menangis sendirian. Setiap orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri, itu hal yang mungkin selalu kuabaikan dan aku menuntut lingkunganku mengerti keadaanku padahal mereka ngga tahu keadaanku. Aku belum mampu melepaskan ketergantunganku pada masa laluku, pada hari-hariku yang hilang dan seakan tak pernah sempurna meski aku telah mendapat lebih. Kepalaku masih dipenuhi keinginan anak kecil yang semestinya dipenuhi oleh mereka yang memiliki kewajiban atasnya dan aku, seakan-akan, tidak berusia 25 tahun, terus menengok ke masa lalu dan menginginkan haknya diberikan. 

Dan kini, kenyataannya, hak itu tak pernah diberikan dan aku terpuruk sendirian. Kini, atas semua itu, aku harus bertanggung jawab atas diriku, atas kelemahanku dan atas kekuranganku, bahwasanya mungkin aku akan gagal memperoleh hal yang paling kuinginkan di dunia dan juga mungkin akan memupus keinginan penting lainnya.

Hal yang paling menyita pikiranku sekarang adalah bagaimana caranya meningkatkan skor. Skor itulah yang menjadi masalah, sebab urusan skor berakar pada urusan keterampilan berbahasa asing alias Inggris. Aku bukan jagonya disini, sejak dulu, sejak pertama kali belajar bahasa Inggris. Dan hal kedua yang paling kupikirkan adalah bagaimana aku bisa bahagia meski jika, hal ini sangat tidak kuharapkan, tidak jadi study abroad. Hal ini akan sangat menyedihkan sebab ini mengindikasikan aku teramat lelet dalam belajar. Cuma aku sendiri yang tersesat dalam beranda in country

Oh, ini memang nampaknya akan sangat menyedihkan meskipun aku ngga tahu apa yang sesungguhnya akan terjadi. Menyedihkan, menyedihkan, menyedihkan, ah, aku tak tahu lagi bagaimana membahasakannya dan memberi label pada kondisi hatiku saat itu. Rasanya aku ingin diam dan tak bicara pada siapapun, namun, sungguh aku tak mau menunjukkan kesedihanku pada siapa pun, biarlah kesedihan ini kutanggung sendiri sebagaimana kesedihan-kesedihan yang lainnya, yang mengikutiku sepanjang hidupku. Kini aku ingin menganggap bahwa study in country melalui beasiswa ini bukanlah hal yang menyedihkan. Bukan hal menyedihkan, bukan hal menyedihkan, bukan hal menyedihkan. Aku harus siap dan mulai sekarang harus siap. Mari menolehkan kepala ke Yogyakarta, sebagaimana merupakan tujuan study in country, dan mungkin takdirku ada disana. Saatnya untuk memupus sedikit harapan, meski aku tak akan pernah bisa memupusnya, untuk study abroad di universitas yang telah kupilih. 

Jakarta, 17 Februari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram