Ikan goreng sambal picung


Picung/ Kluwek

Hm, nikmat sekali makam malam kali ini. Menunya adalah ikan nila goreng sambal picung -sayang sekali nggak ada gambarnya, keasyikan makan- yang membuatku kembali ke masa-masa silam bersama nenekku. Nenek-kakekku dari pihak ayah berasal dari daerah Tasikmalaya, Jawa Barat, yang tentu saja memiliki kesukaan pada makanan Sunda dan keahlian memasaknya. Salah satu makanan khas Sunda yang juga sangat kusukai adalah ikan nila goreng sambal picung. Picung adalah sejenis buah -yang aku juga nggak tahu bentuk pohonnya seperti apa- yang bisa dimasak saat buahnya masih muda -berwarna putih  keungu-unguan- atau ketika sudah tua -berwarna ungu tua- yang biasa dikenal bernama kluwek. Kalau di pulau Jawa, kluwek biasa digunakan sebagai bumbu membuat Rawon -makanan khas Jawa-. Keluargaku bisa mendapatkan picung yang sudah tua jika ada sanak keluarga atau tetangga yang baru pulang dari pulau Jawa, dan biasa mendapatkan picung muda yang bisa ditumis di pasar.

Picung memiliki wangi yang khas, warna yang khas dan rasa gurih yang khas. Memasaknya pun mudah. Goreng ikan -biasanya sih ikan air tawar sejenis nila atau mujair- hingga kering, haluskan picung dengan bawang merah + bawang putih + jahe+garam+gula merah lalu goreng dan diberi sedikit air. Masukkan ikan goreng dan tunggu hingga picung meresap kedalam ikan. Dan ikan nila sambal picung siap dihidangkan dan membuat lidah bergoyang. Hm, sedap pisan euy makan malam kali ini. Yang terpenting dari makan malam kali ini selain menu yang spesial adalah ternyata beberapa kawan yang kukira ngga doyan picung mengatakan bahwa ikan nila sambal picungku enak dan mereka mengakui kalau picungnya gurih. Akhirnya kami bersepakat suatu saat nanti kami akan buat menu semacam ini yang lebih banyak dan lebih sedap....

Kembali pada nenekku. Beliau adalah pembuat masakan khas Sunda yang hebat. Aku lebih banyak menerima pelajaran tentang memasak dari beliau daripada yang lain.  Dulu, ketika hari-hari menjelang Idul Fitri, saat keluarga kami biasa memasak segala sumber makanan yang ada, nenek selalu memberi contoh bagaimana cara memasak yang enak dan memiliki nilai seni. Memasak bucan cuma soal membuat makanan yang akan mengisi perut kita, melainkan bagaimana kita membuat masakan yang cantik yang membuat kita merasa senang ketika memakannya dan bersyukur pada yang menciptkan makanan tersebut. 

Aku mendapatkan resep ikan nila goreng sambal picung ini dari nenekku. Aku selalu memperhatikan beliau saat beliau hendak meracik bumbunya, mulai dari komposisi bumbu hingga cara mengulek semua bumbu menjadi halus. Nenekku bilang, jika kita ngulek semua bumbu dalam sekali ulek maka semua bumbu akan saling mengikat dan menyatu sehingga rasanya lebih lezat, bukan mengulek bumbu satu persatu dan mencampurkan semuanya ketika masing-masing sudah halus. Sebab bumbu-bumbu yang berbeda jika dikawinkan -maksudnya diulek bareng-bareng- akan memenuhi kekurangan citarasa pada masing-masing bumbu. 

Setelah beberapa tahun nggak pernah melihat picung, nggak pernah makan picung dan nggak pernah mengolah picung, aku menjadi agak lupa. Misalnya lupa bahwa pisung itu meresap garam seperti jamur sehingga kalau masak picung garamnya 'cukup sedikit saja' untuk menambah rasa gurih. Saat menikmati ikan nila goreng sambal picung tersebut bersama kawan-kawanku dalam sebuah piring cantik, aku ingat nenekku dan berterima kaish padanya telah memberi pelajaran yang sangta berharga. Semoga kelak aku bisa mewariskan resep ini kepada keturunannku...

Jakarta, 13 Februari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram