Aku dan Cerita Tentang Hujan # 6


10 Liter Beras
06.05 wib
Pagi ini aku kebagian jatah membeli beras. Persediaan beras kami sudah habis. Dengan diantar ibu kost, aku melangkahkan kaki dengan keyakinan ke gang sempit di belakang kostan. Ups! aku mual dan rasanya mau muntah. Bagaimana mungkin manusia sanggup hidup bertahan dalam kondisi rumah-rumah yang seumur hidupnya tak tersentuh sinar matahari dan nikmatnya belaian angin? rumah-rumah sederhana yang saling berhimpitan, tak teratur, telah menciptakan citra yang tak terbayangkan tentang Jantung Indonesia, Heart of Indonesia. Sebuah negeri dongeng yang telah dinyatakan para ahli sebagai The True Atlantis. Bukankah jantung adalah denyut kehidupan? Jika jantung rusak, ya, Indonesia sakit jantung. Kubayangkan dengan bayangan yang sesungguhnya sulit kubayangkan : sampah-sampah dan keberhimpitan seperti inikah yang membuat jantung seseorang mati kutu dan matinya alarm kehidupan?

Keluar dari gang sempit menuju jalanan yang agak besar, nyaris saja jantungku berhenti berdetak. Tak henti-hentinya Jakarta memberikan kejutan yang teramat menyakitkan. Masya Alloh, masyarakat macam apakah yang menghuni akhir zaman ini? masyarakat macam apakah yang menghuni jantung negeriku yang kubangga-banggakan ini? masyarakat macam apakah yang dari dalam hatinya telah hilang kepeduliannya bagi kecantikan dirinya, rumahnya, halamannya, sungainya dan tanah airnya? masyarakat macam apakah yang sanggup berdiam diri manakala martabatnya sebagai bangsa muslim terbesar di dunia dihujat martabatnya karena kedunguannya? tidakkah ada yang membela diri dan menunjukkan bahwa semua tuduhan itu; tentang individualisme, kekumuhan, kemiskinan, kebodohan, ketololan, ketidakpedulian, dan kekacauan itu semuanya tidak benar. Sungguh tak benar. Kemiskinan sesungguhnya bukanlah alasan untuk manusia menyakiti dirinya sendiri dan menghancurkan apa yang sesungguhnya menjadi sumber-sumber kehidupannya. Sumber-sumber kehidupan. sesungguhnya bukan hanya pekerjaan yang membuat kita punya uang untuk membeli apapun yang kita mau. Sumber-sumber kehidupan sesungguhnya merupakan hal paling fundamental dalah kehidupan. Air, udara, tanah, pepohonan. Jika mereka semua sudah punah, mau dibelikan benda macam apakah uang yang kita kumpulkan dengan kearoganan, seakan-akan kehidupan ini tak akan kembali ke tanah?

Kemiskinan sesungguhnya bukan pembenar bagi pembalasan dendam kepada alam atas ketidakadilan yang sengaja diciptakan manusia, sebagaimana kita menolak bahwa kekayaan boleh membuat orang bertindak semena-mena.

"Lewat jembatan, Ka."Kata ibu kost sambil memanduku menuju sebuah warung kecil di muka sebuah gang kecil. Aku ragu dengan langkahku.Masya Alloh, mengapa mereka menjadikan sungai-sungai itu  sebagai bak sampah? bagaimana mungkin mereka yang mengaku beriman kepadaNya sanggup merampas kehidupan ikan-ikan dan biota sungai, sementara mereka enggan disebut sebagai pembunuh? Apa bedanya penjahat perang bernama Amerika dengan penjahat lingkungan berupa manusia miskin lagi bodoh? bagaimana mereka yang saban hari menyucikan diri dan menghadapNya sanggup memerkosa kesucian alam? bagaimana mungkin mereka yang mengatakan 'Aku beriman!" sanggup menentang perintahNya tentang kewajiban menjaga kebersihan dan keletarian lingkungan? mengapa iman kita hanya sebatas dengkul yang hanya berupa seremoni saja, bagai tong kosong.

Sempat kutangkap sendu yang menggelayut di sungai yang mati itu. Telah bertahun-tahun manusia menganggapnya benda semesta yang tak berguna, meski beratus tahun sebelumnya disanalan manusia primitif menggantungkan kehidupannya dari ikan-ikan didalamnya. Semuanya kini tinggalah nostalgia,tak ada yang peduli pada sebuah kisah nyata dari perjalanan sungai. Dari bantaran hingga dasarnya, bertumpuk-tumpuklah sampah aneka jenis, bagai swalayan yang memperdagangkan benda-benda busuk. Kerunyaman ini ini ditambah bau menyengat dari sampah-sampah organik yang mengeluarkan zat metana dan sisa-sisa makanan yang menggenang di selokan-selokan sempit. Kulihat tak ada satupun yang peduli. Bahkan seorang perempuan 70an menyapukan sampah-sampah dari halaman depan rumahnya ke tepi sungai. Hm, apakah manusia modern telah merelakan dirinya menukar harum bunga-bunga dan embun pagi dengan bau sampah yang busuk dan mematikan?

Aku melihat lagi kekontrasan yang pernah kuceritakan itu, apartemen mewah vs perkampungan kumuh. Dari jembatan itu kulihat begitu dekat bagunan besar itu begitu jumawa. Bangunan berwarna hijau dan krim itu nampak bagai gorila yang menertawakan manusia-manusia cebol nan bodoh. Aku dapat melihat dengan jelas bahwa cat yang disapukan dengan lembut itu menjadikan bangunan itu sebagai selebritis dalam kekumuhan. Di jembatan ini pula, mungkin, ada orang yang duka berkhayal menjadi salah satu penghuni bangunan mewah itu. Jakarta. Aku melihat Jakarta sebagai rahim ibu tiri yang sangat jahat.

Hujan
Perjalanan air seumpama lingkaran yang tidak akan pernah menemukan ujung maupun pangkalnya. Air diciptakan sebagai unsur utama kehidupan. Jikalah Sang Pencipta meniadakan 20% saja air dari bumi ini, apa yang akan terjadi? sungguh hebat sistematika penciptaan manusia dan bumi sebagai tempat tinggalnya. Meski tak sampai 10% dari 70% air yang ada di bumi yang dapat dikonsumsi manusia, toh, manusia tetap hidup dengan nyaman. Seperti air yang saat ini tengah berjatuhan dari langit. Sesungguhnya aku berkeinginan melakukan perjalanan udara dalam keadaan hujan. Aku ingin melihat bagaimanakah sesungguhnya gumpalan awan di langit menyusut menjadi air hujan. Aku ingin melihat dengan jelas bahwa benar aku telah beriman padaNya bukan karena ikut-ikutan dan bukan karena keturunan, melainkan karena aku layak menjadi manusia beriman. Manusia yang beriman dengan ilmu dan bukan dengan kebodohannya.

"Dialah Allah Yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendakiNya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat air hujan keluar dari celah-celahnya; maka, apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambaNya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira" (Al Qur'an, 30:48).

Aku melihat langit Jakarta menggelap. Hujan turun perlahan-lahan. Jakarta yang panas terasa segar. Hanya angin yang meniup butir-butir hujan itu yang membuatku tersenyum hari ini. Dedaunan doyong ke kiri manakala angin membelai mereka dan memandikan mereka dengan air dari langit. Indah bukan, air dari langit? Sensasi apa lagi yang kutangkap dalam guyuran hujan di Jakarta? ya, takut banjir.

Setelah masak bersama, mandi, makan siang, tertawa-tawa bersama, kawna-kawanku tidur di ranjang mereka masing-masing, mencipta mimpi indah tentang masa depan yang tengah dituju. Hujan yang deras meniupkan hawa dingin dan membuat mata kami mengantuk. Namun, teramat sayang jika aku melwatkan momen hujan itu untuk tidur. Kantuk itu kupatahkan dan kubuang ke kotak sampah, layaknya potongan sayuran kami tadi pagi.

Hujan reda, hawa dingin menelusup ke dalam rumah, menelusup ke tulang belulangku. Disinilah aku kemudian ingat momen hujan yang tak mungkin kulupakan seumur hidupku. Hujan id Sukapura.

Segelas Kopi
Dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas, Andrea Hirata, telah kurampungkan. Nikmat sekali rasanya memberi makan otakku yang kelimpungan belajar bahasa Inggris. Tulisan-tulisan konyolnya membuatku tertawa terpingkal-pingkal, atau mengernyitkan kening, atau membuatku mengantuk hebat, atau membuatku pusing (terutama dengan penjelasannya tentang catur yang tak pernah kupahami seumur hidup) dan pada akhirnya membuatku mampu menemukan mutiara berharga. Membaca, membaca, membaca maka kamu berharga.

Gelas-gelas  kopi itu yang kemudian mengingatkan aku pada masa-masa yang jauh di Sukapura.

Pisang Goreng
Hm, Siapa yang mau membuat pisang goreng? aku mau, tapi, terigu dan pisangnya nggak ada.

Hujan, Segelas Kopi dan Pisang Goreng
Hujan di Sukapura senantiasa membuatku terpesona. Desaku yang dingin dan diam itu sungguh telah menuliskan kenangan paling manis yang tak mungkin terhapuskan dari benakku hingga ke liang kubur. Sebagai kabupaten yang 70% terdiri atas hutan yang kesemua hutan itu sesungguhnya hutan lindung menjadikan hampir keseluruhan wilayah itu dingin sepanjang tahun. Saat musim hujan, terkadang hujan turun berhari-hari tiada henti, nyaris membekukan tubuh dan aktivitas para petani. Jika musim kemarau, ditengah terik matahari yang membakar berhembuslah angin yang dingin menusuk kulit, hingga tulang belulang.

Musim hujan membuatku terpesona. Terpesona hingga musim hujan selanjutnya. Keterpesonaan itu berawal dari arakan air hujan dari langit yang jatuh bersusun-susun di perbukitan yang mengelilingi kecamatan Sumberjaya. Dimana hujan pertama, berwarna putih saking lebatnya, jatuh, kesanalah pertama kali mataku terpaku hingga hujan itu berkeliling ke seluruh bukit lalu terakhir sampai di halaman rumah keluargaku.  Mengapa siklusnya begitu, aku juga tak tahu. Namun selama belasan tahun, hujan seperti itulah yang kusaksikan, kunikmati dan membuatku terpesona.

16.35wib hingga ......(tak tahu sampai kapan)
Nah, dengarlah, Jakarta melanjutkan hujannya. Kami mengurung diri di dalam rumah sembari menikmati teh hangat bercampur madu dan menonton televisi. Teras kostanku basah, dedaunan menggigil, dua ekor kucing berwarna keemasan bersembunyi entah dimana, para tetangga berjenis laki-laki berkumpul di warung dan ngobrol, dan aku sedang melanjutkan ceritaku.

Hujan di sukapura bisa berlangsung berhari-hari. Tiga, lima hingga tujuh hari berturut-turut, dari pagi ke pagi lagi. Hujan membuat peternak ikan tersenyum-senyum senang karena kolam-kolamnya berganti air dan kolam mereka bersih dari lumut. Hujan membuat anak-anak sekolah kesulitan untuk berangkat dan pulang sekolah. Hujan membuat kaum ibu cemberut karena suami mereka berhenti beraktivitas dan harus memutar otak supaya jemuran-jemuran basah yang kian hari kian bertumpuk menguras isi lemari pakaian kering dengan segera. Hujan membuat tanah di kebun-kebun menggeliat gembur. Hujan membuat dedaunan menjadi lebat dan berwarna hijau segar. Hujan membuat jalanan beraspal kotor oleh tanah-tanah yang terbawa sandal atau motor. Hujan membuat para petani merngkuk di ranjang atau menghangatkan diri di depan tungku sambil berselimutkan kain sarung. Dalam keadaan demikian tak mungkin mereka ke sawah atau kebun. Buat apa? bikin sakit saja. Hujan membuat pasar becek dan pedagang sayuran merugi karena sayurannya banyak yang membusuk. Hujan membuat pedagang bakso pulang lebih cepat dengan senyum menyembang layaknya bunga yang baru mekar. Hujan membuat pepohonan pisang menyembulkan jantung. Hujan membuat perbukitan berwana putih, diselimuti kabut. Hujan membuat orang-orang tidur lebih cepat. Hujan juga membuat para istri harus melahirkan banyak anak.

Hujan seringkali membuat kopi panas kental berwarna hitam dan pisang goreng terhidang untuk menemani suasana menikmati hujan. Saat itu, akulah yang selalu menjadi korban untuk membuat pisang goreng. Keluargaku suka sekali pisang goreng buatanku. Katanya enak, karena aku menggorengnya dengan kesabaran, bukan dengan terburu-buru, sehingga kematangannya mereta. Sialnya, jika aku menjadi si pembuat pisang goreng maka aku berkemungkinan besar tak makan hasil karyaku meski hanya sebutir. Pasalnya aku sudah kenyang dengan hanya menikmati harum pisang yang tengah digoreng. Lebih sial lagi manakala ketika aku selesai menggoreng, tandas pula seluruh pisang goreng yang sebelumnya tersusun di piring. Alhamdulillah, pisang gorengku tak sia-sia.

Menikmati segelas kopi hitam kental manis plus pisang goreng membuat pagi, siang, petang atau malam di musim hujan begitu berharga. Seakan-akan tak ada momen yang dimiliki keluarga petani selain hal ini setelah menerima hasil panen tentunya. Kenikmatan itu sungguh tiada taranya. Sembari menikmati keduanya, kadangkala kami bersenda gurau. Lebih indah jika ketika semua itu berlangsung, telinga kami menangkap suara kecipak ikan-ikan di kolam. Kulihat  senyum keluargaku diantara kesederhanaan suasana hujan. Senyum kaum sederhana yang hanya menginginkan hidup ini mengalir dengan tenang.  Subhanalloh, nikmat Alloh yang manakan yang pantas kudustakan?

Hujan yang memikat. Beginilah Al-Qur'an menggambarkan proses terjadinya hujan: "Tidaklah kamu melihat bahwa Allah mengarak awan, kemudian mengumpulkan antara (bagian-bagian)nya, kemudian menjadikannya bertindih-tindih, maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan Allah (juga) menurunkan (butiran-butiran) es dari langit, (yaitu) dari (gumpalan- gumpalan awan seperti) gunung-gunung, maka ditimpakan-Nya (butiran-butiran) es itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan dipalingkan-Nya dari siapa yang dikehendaki-Nya. Kilauan kilat awan itu hampir-hampir menghilangkan penglihatan." (Al Qur'an, 24:43)

Dan perbukitan yang mengelilingi kecamatan Summberjaya, yang kuanggap sebagai gerbang hujan yang memikat itu; "Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal dia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (Al Qur'an, 27:88)

Subhanalloh....
Alhamdulillah
Allohu akbar...

Menikmati hujan di Jakarta, membuatku kangen dengan segelas kopi dan sepiring pisang goreng di masa-masa yang lalu. Kerinduan itu membuatku ingin sekali pergi meninggalkan Jakarta. Aku ingin mencium bau tanah gembur yang terbasuh hujan dari langit, mencium bau rerumputan yang menggeliat segar, menikmati bau getah rerumputan yang baru dipangkas, menikmati pelangi yang muncul malu-malu sebagai mahkota di satu bukit, menikmati bau lumpur pesawahan yang baru dibajak. Aku ingin meninggalkan Jakarta yang hebat ini. Jakarta yang mempesona dan mencengkarm dengan kuat.

18.08 wib.....(entah hingga kapan)
Dengarlah, hujan belum lagi reda. Kami masih berdiskusi tentang bangsa yang carut marut. Tentang dana BOS yang diselewengkan, tentang korupsi yang merajalela, tentang lingkungan yang hancur, tentang local government yang hancur lebur, tentang pegawai negara yang latah, tentang pendidikan insklusif, tentang acara televisi, tentang kebijakan dalam negeri Amerika vs Indonesia, tentang madu asli atau bukan, tentang lunch boxs, tentang kosmetik. Sayang sekali, tak ada segelas kopi dan sepiring pisang goreng. Ini Jakarta, bukan desaku yang dingin dan diam itu.

Jika hujan begini, aku jadi berpikir panjang tentang nasib para petani, terutama petani di Desa Sukapura dan di tempat-tempat yang pernah kukunjungi. Hujan membuat hasil bumi mereka membusuk dan mereka tekor. Ketekoran itu membuat hidup mereka kian carut marut karena hutang ke rentenir menjadi berlipat-lipat, sementara anak-anak merengek meminta ini-itu sebagai aksesoris sekolah mereka. Hujan juga mengingatkanku akan beberapa bencana seperti longsor, banjir dan mati lampu karena rubuhnya tiang listrik. Hujan juga membuatku teringat pada kaum marjinal yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir, yang sumur-sumurnya tercemar lindi dari gunung sampah dan malam-malam mereka disuguhi bebauan yang menyesakkan dada.

Hujan adalah ironi bagi sungai-sungai yang menyeret berton-ton sampah menuju laut. Disanalah semua limbah hasil ketamakan manusia yang mengaku beradab bermuara. Kita yang intelek, tekadang melupakan hakikat bahwa dunia laut itu merupakan unsur pembangun kehidupan yang dua kali lebih penting dari hutan dan sungai-sungai di daratan. Sungai-sungai yang mendorong limbah menuju laut itu kupandang sebagai manifestasi pembangkangan nyata manusia beriman kepada Sang Pencipta. Orang-orang Atehis akan tertawa begitu puas melihat kemunafikan manusia yang percaya dan memuja Tuhan. Ironi ini berlangsung bersamaan dengan berlangsungnya aktivitas manusia dari bangun tidur hingga tidur lagi.

Hujan ini mengingatkanku pada perahu nelayan kecil yang oleng dikulum ombak. Mereka basah kuyup demi uang sejumlah 20rb hingga 30rb per harinya. Hujan membuat permukaan alut bagai lidah makhluk yang begitu besar hingga bisa melumatkan si perahu dalam sedetik saja. Hujan seperti ini membuat para istri nelayan itu was-was dan mondar mandir di dalam rumah sambil menadah air hujan dari atap yang bocor. Sungguh, negeri ini tak hanya lucu. Negeri ini juga mengagumkan, atas daya tahan rakyatnya atas segala penderitaan berkepanjangan dalam penjajagan berjilid-jilid oleh negaranya sendiri.

19.04 wib
Hujan belum lagi reda, kami siap-siap untuk makan malam bersama. Hm, ibu kost membuatkan kami tempe goreng yang sedap. Kurang baik apa coba orang Jakarta yang satu ini?
Tapi, tetap saja gara-gara 10 liter beras yang kubeli pagi tadi membuat pikiranku melayang-layang pada lembaran-lembaran kesedihan yang menimpa negeri ini, seakan tak berkesudahan. Aku tak dapat membayangkan bagaimana kondisi sungai yang kulihat tadi pagi. Aku tak dapat membayangkan bagaimana bau yang ditimbulkan kumpulan sampah yang berhimpitan diantara rumah-rumah penduduk yang berhimpitan seakan memang hendak saling menghangatkan diri. Aku juga tak bisa membayangkan bagaimana penghuni bangunan megah itu menikmati hujan dengan duduk di daun jendela, meminum coklat hangat, dan memandang miris ke arah perkampunagn Salemba Tengah yang muram.

Saat membawa beras itu tadi pagi, aku merasa ada hal lain yang memberati bawaanku. Kupikir itu merupakan tanda tanya besar yang tiba-tiba bergulung dalam kepalaku mengenai kesenjangan yang baru saja kulihat dari dekat. Ini baru titik kecil dari Jakarta. Aku tak tahu apakah aku sanggup mempertahankan kebanggaanku yang teramat sangat pada Indonesiaku ini. Kemudian aku teringat pada segelas kopi hitam kental manis dan sepiring pisang goreng hangat yang menjadi kesukaan keluargaku. Rasanya, cukuplah itu yang menjadi penyemangat keluargaku saat kami tak bisa menghasilkan apapun di musim hujan yang berpanjang-panjang membelai-belai bumi.

Besok, mungkin aku akan menikmati segelas kopi. Terbayang sudah nikmatnya dan rasa pahitnya tinggal di ujung lidahku.

04 Oktober 2010
Go to....., 07. 35 WIB
Bersama-sama, enam orang, beriringan menuju kampus UI Salemba untuk menimba ilmu. Sungguh, sedetik pun aku tak bisa melepaskan pandangan mataku dari jalanan, dan sungai itu, yang membuatku kian trenyuh. Sebuah kantor yang bangunannya megah, di halamannya yang bersih nan rapi jawi itu terparkir aneka kendaraan (roda empat, Bo!) mewah berkilau-kilau, dan seorang lelaki muda tengah menyapu halamannya. Bersihlah halaman kantor itu. Lalu, plung...plung...plung, si penyapu membuang sampah itu ke sungai yang letaknya tepat di gerbang kantor. Oh, oh, oh, ini GILA! apakah tak ada yang mendidik si penyapu bahwa menjaga kebersihan lingkungan sama pentingnya seperti menjaga kebersihan gigi-nya? orang dengan jenis kecerdasan macam apakah yang berkarya di kantor itu sampai tak sempat memberikan 'training kebersihan" kepada si penyapu?

Aku kemudian teringat pada satu hal penting: setiap pagi, kemana ya Mr. pengangkut sampah membuang sampah dari kostan kami? jangan-jangan ke sungai pula, atau ditumpuk begitu saja didalam gerobak seperti di JL. Paseban Timur, gawat!!!! (bisa di cap sebagai pendatang tak tahu diri, sudah tak punya KTP Jakarta/ kartu mahasiswa, menjadi pencemar pula), jadi harus melakukan investigasi nih....

08.00 wib - 15.00 wib
Dari 50 peserta yang datang dari penjuru Indonesia, akulah satu-satunya yang paling bodoh. Bodoooooooooooooooh!!!! Kalau diibaratkan bangunan tingkat 50, aku adalah basemant. Kenapa jiwa aku ga connect tuh sama bahasa Inggris?! kemana semua, tentang bahasa Inggris, yang telah kupelajari?! Yang connect cuma otak aku, jadinya kan pincang.

15. 40 wib, pulang dari UI
Dari Jembatan penyebrangan, kulihat satu garis jalanan Jakarta yang padat. Betapa mengerikan. Aku terkenang masa kanak-kanakku yang terkadang begitu menyukai bermain-main dengan jalanan yang berlumpur saat musim hujan, atau bersama teman-temanku main prosotan di tangga tanah di pekarangan SD tempatku sekolah, saat hujan deras, atau nongkrong di muka jendela untuk menikmati hujan.

Aksesoris.
Awan tebal bergulung-gulung.

Gerimis. Payung.

Aku beli kopi, Jiji beli pisang goreng.....

05 Oktober 2010
Kopi, 02.03 wib
Gara-gara a cup of coffee aku gak bisa tidur. Mata melek, lambung menjerit. Go to the chapter 1, i have to work hard, i promise them....



Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram