Hidangan IDUL ADHA: Sate dan Sup Kambing


Puncak Hari Raya
Semalam, Jakarta sepi dari kumandang takbir. Orang-orang lebih suka terlelap daripada berkumpul di Masjid. Apalah artinya masjid-masjid itu dibangun jika tak pernah berisi, dan orang-orang lebih suka berdiam di rumahnya masing-masing? Hari raya seakan bukan hari raya, padahal Idul Qurban merupakan hari raya terbesar umat Islam dibanding hari raya lainnya seperti Idul Fitri. Aku merindukan desaku yang memiliki kumandang takbir jauh lebih riuh dan khidmat dari Jakarta.

05.20 wib.
Aku, Rahma dan Kak Riri berangkat bersama-sama ke Masjid Istiqlal. Disana, beberapa kawan sudah menunggu. Saat masuk ke gerbang Istiqlal aku trenyuh melihat puluhan pengemis yang menyebar di sepanjang jalan menuju pintu masjid. Momen hari raya selalu dimanfaatkan mereka untuk mencari rezeki. Aku heran, mengapa petugas keamanan masjid mengizinkan mereka masuk. Seharusnya, tata tertib ditegakkan dengan tegas agar kenyamanan umat Islam yang hendak beribadah tak terganggu. Seharusnya pula, pengelola masjid tak membiarkan para pengemis itu melakukan kegiatannya semaunya, sebab masjid bukanlah pasar atau tempat umum dimana segala aktifitas dapat berlangsung. Seharusnya, pengelola masjid mendidik mereka menjadi manusia produktif sebagaimana yang Nabi Muhammad lakukan pada masyarakat badui yang tak menghormati masjid. Masjid bukan semata-mata tempat muslim melakukan ibadah ritualnya atau tempat belajar, melainkan juga lembaga sosial yang mampu menciptakan kebaikan bagi ummat. Bagiku, perayaan Idul Adha menjadi tidak universal manakala ada kaum papa yang hanya bisa menyaksikan saudaranya beribadah di dalam masjid. Seharusnya hari raya menjadikan peng-kelas-an sosial yang dibuat manusia lebur, sebab dimata Alloh, hamba yang baik adalah hamba yang ikhlas beribadah padaNya, bukan hamba yang menganggap dirinya sempurna dan yang lainnya tidak.

Inilah Istiqlal, masjid sederhana namun mempesona. Kesejukan menerpaku manakala kedua kakiku memulai langkah-langkah kecil menuju bagian utama masjid. Kulihat saudara-saudaraku telah merapikah diri dalam balutan busana takwa. Sebagian dari mereka berzikir, membaca Al-Quran, tersenyum memuju keindahan masjid, tersenyum manakala bertemu dengan sanak saudara dan sahabat.

Setelah menunaikan sholat Tahiyyatul Masjid (sholat sunnah 2 rakaat  ketika baru tiba di masjid sebagai penghormatan kepada masjid) aku larut dalam penantian, menunggu matahari naik dan pertanda sholat tiba. pukul 07.00, setelah Presiden SBY dan ibu Ani tiba, lalu menunaikan sholat tahiyyatul masjid, sholat sunnah Idul Adha pun dilaksanakan. Sesaat setelah takbiratul ihram, suasana hening. Jamaah menikmati ayat-ayat Al-Quran yang dilantunkan imam shalat dengan suara yang merdu dan tartil. Semoga Alloh menerima sholat kami semua dan memanggil kami sebagai tamuNya di ibadah haji tahun-tahun selanjutnya....

13.30 wib
Umar homesick, dia juga pengen makan masakan rumahan. Dia minta (minta tolong banget ya, ini hari raya pula kan? kita makan-makan buat mengisi hari raya lah, katanya....) aku dan kak rhi belanja bahan masakan, trus kami masakin dia makanan apa aja. Hm, kasihan sih melihat kawan nampak terlunta-lunta begitu (he...he...macam musafir saja). Ogah. kami ogah keluar, apalagi belanja. So, aku catatkan dia bahan-bahan masakan yang harus dibeli, dan belilah sana ke pasar atau ke mall. He...he...akhirnya seorang fotografer kondang 'Umar Werfete' belanja untuk pertama kalinya (seorang diri pula) ke foodcourt Atrium Senen. Lalu dengan percaya diri menenteng 4 buah plastik ukuran sedang yang berisi bahan-bahan masakan dan mengantarkannya ke kostan Salemba 457. 

Apa isinya? wah, bahaya ini kalau dijadikan kepala bagian belanja restoran, belanjaannya banyak banget, bisa cekak. Dia bilang, aku malas pilih-pilih, jadi kuambil saja bahan yang kulihat. itu pun untung di depan barang-barang itu ada tulisannya (Kwkwkwkwkwk, gak kebayang Umar masuk trus dorong troli trus melihat-lihat bahan-bahan makanan sambil sesekali mencocokkan dengan tulisan berjudul 'bahan-bahan yang harus dibeli' di selembar kertas kecil), karena katanya malu banget klo harus nanya ke pelayan. Dan akhirnya, Umar salah beli: kupesan jahe dia beli kencur. Wah, gak kenal bau dan bentuk jahe rupanya, harus ditraining sama mbok jamu dulu (just kiding).

Masak. Hm, lumayan buat meringankan perasaan homesick.

Aku, rahma dan kak rhi2 memasak sambil tertawa-tawa (sebelumnya: sungguh tak terbayangkan kami jadi koki buat para penderita homesick, mari kita buat pedasplus masakannya, he...he...he...)

Menu:
1. Sate kambing (lumayan dapat jatah 2 kantong plastik daging kambing / daging kurban dari ibu kost -keluarga ibu kost gak doyan-
2. Ayam bakar
3. Ayam saus paprika
4. Sup sayuran khas Makassar
5. Sambal kecap + tomat
6. Sambal Makarica khas Gorontalo
7. Anggur
8. Sirup
9. Pecel (buat yang nggak suka pedas)

16.30 wib
Hm, lumayan ada kawan-kawan yang mo belajar kelompok, sekalian bantu bakar sate + ayam. Budi, mana foto satenya?
Asap mengepul ke udara, menyebarkan aroma sate dan ayam bakar, nyam...

17.00 wib
Makan bersama. Alhamdulillah, betapa nikmatnya makan bersama kawan-kawan penderita homesick. Tapi, ada yang kurang. Kurang ramai dan makanan masih banyak.

18.15 wib
Akhirnya, Mimi, Win, Tasya, Novita, dan  Emil berhasil menemukan kostan kami dan bergabung untuk makan malam bersama. Senangnya melihat kawan-kawan menikmati makanan buatan kami. Akhirnya makanan itu ludes (semoga karena rasanya lumayan enak, bukan karena mereka kelaparan).

Hasil pengamatan:
Afri : sebenarnya gak suka pedas karena takut sakit perut, tapi sambal makarica buatan Rahma membuatnya nambah.
Budi : airmatanya kering, suka olahan ayam daripada kambing
Hendro : setelah makan makanan berkolesterol minum teh pahit
Zein : Setelah  makan, merokok lah dia
Umar : makan kok sambil melamun? menikmati makanan atau merasakan keanehan makanannya?
Tasya : gak suka pedas
Win  : gak bisa makan makanan pedas
Mimi : gak bisa makan makanan pedas
Emil : nambah, enak atau kelaparan ya? agak gak suka pedas
Vita : Klo makan daging ayam, dilumat habis sampai tulang belulangnya.

Semoga berkah dan kebersamaan seperti ini akan mempererat persatuan dan kesatuan bangsa

Jakarta, 17 November 2010

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram