Cerita Tentang Jakarta # 21


08 Oktober 2010
Room 409
Penderitaan menjadi orang bodoh adalah ditertawakan. Itulah yang menimpaku, si bodoh dari Lampung. Umur udah 1/4 abad, belajar bahasa Inggris susahnya melebihi kesusahan yang dihadapi anak SD yang baru mulai kursus. Sebenarnya sejak hari pertama dan melihat namaku tertulis dengan jelas berada di 'basement class', sungguh, saat itu benang-benang halus menggetarkan jiwaku. Akhirnya, aku harus memulai dari awal dan harus berlapang dada ditempatkan di tempat yang sesungguhnya. Tempat dimana aku harus belajar tertatih-tatih untuk mengejar ketertinggalan yang begitu jauh. Teramat jauh. Di dalam kelas, aku berusaha untuk setegar mungkin menghadapi 'siksaan kebodohan' yang membuatku teramat malu. Kebodohan ini mendorongku untuk lebih giat belajar dan membuktikan pada diriku sendiri bahwa aku layak jadi pemenang.

Hak
Kesedihan itu sirna manakala aku ingat seorang teman yang memperjuangkan beasiswa ini namun kurang beruntung sehingga dia harus berlapang dada menerima kekalahannya. Sebut saja namannya Susi. Aku pertama kali bertemu Susi saat propti Universitas di Sosiologi FISIP Universitas Lampung, 2003 silam. Seiring berjalannya waktu, kami menjadi dekat dan kemudian bersahabat. Susi adalah sulung dari 8 bersaudara. Ayahnya hanyalah seorang tukang becak dan bertani di kebunnya yang sempit. Ibunya hanyalah seorang perempuan sederhana yang membantu suaminya semampunya. Sebagai sulung dari keluarga 'teramat sederhana' Susi tentu harus berpikir ulang jika harus memberatkan kedua orangtuanya untuk membiayai kuliahnya. Selama 2003-2007, ia bekerja keras mulai dari mengajar privat, menerima jahitan pakaian hingga menjual beberapa pernak-pernik. Semua itu dilakukannya untuk membiayai kuliahnya dan mengihidupi dirinya. Susi tipikal perempuan mandiri, berkemauan keras, ulet dan pemimpi. Baginya, apapun akan dilakukannya demi meraih mimpi-mimpinya.Aku sangat paham bahwa ia bekerja begitu keras untuk memperoleh uang. Hari-harinya begitu melelahkan dan dipenuhi dengan kewajiban demi kewajiban. Namun, bukanlah perempuan luar biasa namanya jika dia tak mampu menyelesaikan segala persoalannya dengan pundak tegak dan mata yang berkilat-kilat senang. Ia lulus dengan nilai yang sangat baik dan diterima bekerja di BEJ.

Susi tak betah kerja di BEJ, terutama dengan ritme hidup di Jakarta yang membuatnya sangat tertekan. Ia kembali ke Lampung dan bekerja sebagai Community Fasilitator sebuah NGO lokal. Tahun 2008 ia mengikusi seleksi beasiswa IFP dan gugur pasca wawancara daerah. Ia tetap bersemangat. Ia harus kuliah lagi untuk meraih kesempatan berkarir yang lebih baik. Tahun 2009 ia ikut lagi seleksi beasiswa IFP bersama-sama denganku. Kami sepakat bahwa kami merupakan kalangan yang berhak atas beasiswa IFP. Kami sama-sama dari keluarga marginal, kami kaum perempuan yang membutuhkan saluran pendidikan lanjutan, kami bekerja untuk masyarakat, kami punya prestasi yang baik dan dedikasi, dan kami punya rencana untuk membangun masyarakat. Aku sangat senang ketika itu. Aku bahkan telah membayangkan bahwa kami berdua lulus dan akan kuliah di universitas yang sama dan negara yang sama, lalu pulang ke Indonesia dengan keinginan yang sama, Back to Campus.

Saat proses berlangsung dan kami menunggu dengan harap-harap cemas, Susi berangkat ke Aceh untuk bekerja sebagai Commmunity Fasilitator dari sebuah NGO. Begitu banyak tanggungjawab yang terbeban di pundaknya sehingga ia harus bekerja sangat keras. Sebagai sulung, ia harus membantu orangtuanya untuk sedikit menanggung beban mereka terutama memberikan biaya pendidikan pada adik-adiknya. Ia juga menabung. Rencananya jika tidak lulus beasiswa IFP ia akan melanjutkan kuliah S2 ke UGM dengan biaya sendiri. Ia tak sabar lagi dengan nasib yang mempermainkannya dan tak bisa menunggu lama untuk meraih kesuksesan demi adik-adiknya dan orangtuanya. Namun sayang, harapan Susi harus berhenti pasca tes ITP Toefl. Pupus semua. Aku tak tahu apakah dia menangis untuk kedua kalinya atas hak yang terlepas darinya atau tersenyum sebab ia akan berjuang keras untuk kedua kalinya dan menyelesaikan kualiah dengan biaya sendiri. Akhirnya ia memutuskan untuk mendaftar di UGM, meski sesungguhnya tabungannya belumlah mencukupi dan belum ada pekerjaan yang akan menjadi penolongnya di Yogyakarta.

Aku jadi ingat informasi yang kuperoleh tentang beasiswa IFP;
Siapa saja yang memenuhi syarat untuk memperoleh beasiswa IFP di Indonesia?
Pelamar harus berasal dari masyarakat yang kurang memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan tinggi, misalnya berasal dari daerah terpencil, daerah konflik/pascakonflik, anggota masyarakat adat, anggota masyarakat terpinggirkan, anggota golongan minoritas etnik, atau penderita cacat fisik/sensorik. Pelamar harus memiliki kewarganegaraan Indonesia dan bertempat tinggal di Indonesia. Persyaratan lainnya yang harus dipenuhi pelamar, yaitu telah menyelesaikan program studi Sarjana (S1 atau S2) dengan prestasi yang sangat baik, berperan aktif dalam masyarakat atau komunitasnya, memiliki rencana kerja untuk menerapkan apa yang akan dipelajarinya sesuai dengan tujuan-tujuan Ford Foundation, dan memiliki komitmen untuk melaksanakan rencana kerja itu setelah menyelesaikan masa studinya. Pelamar perempuan sangat dianjurkan untuk mendaftar.

Namun, hak itu terlepas dari kehidupannya. 'Ada orang yang lebih berhak, Teh.' Katanya padaku dengan pancaran mata yang dipenuhi sinar ketabahan. "Semoga Teteh sukses ya bersama kawan-kawan yang lainnya. Susi akan ambil UGM. Mohon do'anya semoga sukses." tambahnya, dan aku semakin sedih. Hari itu, tanggal 19 September, setelah saling menitipkan kerinduan yang akan sangat panjang untuk kelanggengan persahabatan kami, dalam waktu bersamaan, 13.13 wib, aku menuju bandara Raden Intan dan Susi menuju Yogya via Damri. Aku masih belum sepenuhnya paham, apakah hak ini telah dipenuhi dengan adil.

Persamaan
Apa yang telah kuketahui tentang kawan-kawanku belumlah cukup untuk membuktikan bahwa mereka sebagaimana yang kulihat, yang kupikirkan dan yang kuprediksi. Sudah 19 hari kami bersama-sama sejak pembukaan hingga berlangsungnya PAT. Ada yang berubah. Ada mekanisme alam yang berjalan dalam hubungan kami. Aku dan beberapa kawan merasakan itu semua. Seorang kawan (A) mengungkapkan kegelisahannya padaku, bahwa ada diantara kami yang sesungguhnya tak berhak mendapatkan beasiswa ini. Mengapa? dia (B) tidak berhak sebab ternyata dia bukan berasal dari kaum marjinal yang kesulitan secara ekonomi untuk melanjutkan S2, dan nampaknya tak seperti orang yang mengalami tekanan atau intervensi sosial. kawanku itu beranggapan bahwa B telah berbohong (memberi keterangan palsu pada aplikasinya) pada panel sehingga dianggap 'berhak' memperoleh beasiswa ini, namun ternyata di 5 hari PAT B justru mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya. Mungkin, B hanya memanfaatkan peluang dan melihat dirinya 'berhak' atas beasiswa ini dan tak masalah baginya disamakan dengan kawan-kawannya yang ber'hak'. Itulah yang kemudian mereka merasa terjatuh kedalam lubang kemiskinan ketika biaya hidup yang diberikan sangat jauh dari kebiasaannya sebelumnya. Aku tak bisa menebak siapa orangnya dan A tak mau memberitahuku. "Biaralah ini menjadi rahasia," katanya. "Tuhan itu Maha Adil, kok. Biarlah Tuhan yang menunjukannya pada kita semuanya. Kita jalani saja peran kita masing-masing." dan baiklah, aku tak perlu tahu siapa dia.

Dibenakku terngiang-ngiang pembicaraan kami tentang persoalan lain. Tentang siapa diri kami sesungguhnya. Ternyata, ada beberapa sifat buruk yang mulai menguak. Misalnya ada kawan yang menguasai kelas layaknya pembelajaran ini sebuah kompetisi, ada kawan yang menganggap bodoh kawannya dan selalu menertawakan kesalahannya, ada kawan yang suka maen perintah, ada kawan yang manja, ada kawan yang sok kaya, kawan yang karyanya harus dianggap keren, ada kawan yang miskin tapi sok kaya plus kawan yang kaya tapi sok miskin, ada kawan yang pelit, ada kawan yang berpilih-pilih dalam bergaul, ada kawan yang terlalu rendah diri, ada kawan yang tinggi hati, ada kawan yang egois yang tak bisa menghargai kelebihan kawan yang lain dan menganggap semua pendapatnya harus diterima, ada kawan yang membiarkan kepintaran mengendap sendirian didalam dirinya dan tak mau membaginya, ada kawan yang ekslusif. Nah, apakah menurut kawanku itu aku masuk kedalam salah satu peserta yang keburukannya mulai terkuak? yang pasti, katanya, aku harus belajar lebih keras dari kawan-kawan yang lain. "You must study hard, Ika. You have to prove that you are amazing."

Saat kita mengatakan bahwa kita memiliki kedudukan yang sama, maka nampaknya hal ini hanya dapat ditunjukkan oleh sebagian orang saja. Dalam masyarakat yang merasa bangsanya berbhineka tunggal ika ini, sesungguhnya tercecer begitu banyak perbedaan yang membuat satu dan lainnya merasa berkewajiban untuk membedakan dirinya dengan sesama warga negara ini. Jika kaya, maka enggan bergaul dengan yang tidak kaya. Jika pintar maka tak sudi bergaul dengan yang tidak pintar. Jika berpengalaman dalam kehidupan sosial maka enggan bergaul dengan yang pengalamannya nihil. Aku miris. Telinga ini membara mendengarnya. Benarkan demikian adanya kami semua, padahal baru 19 hari bersama? "Mereka yang berprofesi sebagai guru atau pendidik pasti paham, Ka." kata kawanku. Menurutnya, pembagian kelas di PAT membuat interaksi kami menjadi terkotak-kotak. Apalagi waktu kami untuk saling berinteraksi sebagaimana di pembukaan PAT semakin sempit.

Tidak. Aku tak ingin hal-hal semacam itu yang kulihat dari kawan-kawanku. Aku ingin kami semua terlihat dan memang layak menjadi duta indonesia untuk beasiswa ini. Dan layak menggeser kawan-kawan yang kursinya telah kami rebut secara sportif.

Guru : Sang pencerah
Djawir Jamil, Mersue Ferguson, Marti Fauziah. Mereka adalah guru dengan kelebihan dan kekurangannya masing-masing, yang sangat kuhargai. Luar biasa hidup ini aku dipertemukan dengan mereka. Sejak hari pertama belajar aku tak sedikitpun merasa bosan, malas dan tertekan meski aku adalah siswa paling bodoh. Ini beberapa kesanku pada guru-guru baruku itu:
Pak DJ baiiiiiiiiiiik banget dan begitu sabar memusnahkan kebodohanku yang akut.
Mrs MF menyenangkan dan fleksibel, plus bisa diajak bercanda.
MFX sangat keibuan dan mendidik dengan penuh kesabaran, ketika salah, beliau tidak marah dan mengaggap kita bodoh, wong kita memang bukan orang inggris, jadi gak usah mekso harus kayak orang inggris klo speaking....

Guru-guru seperti mereka mengingatkanku, bahwasanya sebuah bangsa tak akan pernah menjadi hebat tanpa guru-guru sederhana yang mendidik dengan cara yang hebat. "Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa" bagiku lebih berati bahwa sebesar apapun seorang murid, bahkan negara, membalas jasa guru, mereka tak akan pernah mampu membayarnya. So, tak ada penghormatan apapun yang sanggup disematkan kepada guru selain dari Tuhan. Guru membuat anak-anak manusia mengalami pencerahan dan dapat menjalani kehidupan sebagai manusia terhormat dan bermartabat. Ilmu yang diberikan guru dan budi pekerti yang dicontohkan guru menciptakan pilihan-pilihan penting tentang arah kehidupan seorang manusia. Dari gelap atau kepada cahaya. Semoga hingga bulan ke enam (6) guru-guruku itu selalu dalam lindunganNya dan bisa mendidikku hingga sukses menguasai bahasa inggris. I honour them...

Hymne Guru versi lama;
Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru / Namamu akan selalu hidup dalam  / baktimu akan kuukir di dalam hatiku / Sebagai prasasti terima kasihku / Tuk pengabdianmu / Engkau sebagai pelita dalam kegelapan / Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan / Engkau patriot pahlawan bangsa / Tanpa tanda jasa

Dan Realitas yang Dipertanyakan?
Semua ini adalah mengenai pertanyaanku tentang Jakarta........

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram