JAKARTA SEKERAS BATU


Setelah shalat Dhuhur dan makan siang, aku dan teman-teman se-kost-an ke berangkat ke Kenari Mas -Pusat elektronik- untuk membeli kipas angin dan mengantar Kak Rhirhie membeli HP baru. Setelah menikmati ice cream kami lanjutkan belanja ke pasar Paseban. Biasa lah, mencari kebutuhan dapur. Tudung saji, saringan, ember wadah sabun, dll. Gak usah berlama-lama di pasar, uang bisa kandas. So, pulang melalui jalur baru, Paseban Timur, wah kayaknya melewati kostan Wardah. Wardah ada di kostan gak ya?. Untunglah, Wardah sedang bertamu ke Kostan Devi, kepanasan, maka kami memutuskan pulang saja. Sebab klo kami jadi mampir ke kostan Wardah nanti air galonnya habis kami kuras.....

Dalam perjalanan yang berpanas-panasan itu aku mencoba menganalisis tata bangunan di garis sempadan sungai. Mengapa tak terpikirkan olehku bahwa sekitar 5-6 meter dari garis sempadan sungai dibuat jalan saja dan di meter ke 7 baru boleh didirikan bangunan. Untuk menjaga agar tebing sungai tidak mengalami erosi saat musim hujan maka masyarakat dapat menanaminya dengan berbagai macam pohon buah seperti jambu, mangga, sawo, manggis, bambu hingga kayu-kayuan. Selain asri dan teduh, juga dapat menjaga kekuatan tanah saat terjadi hujan lebat atau banjir  akibat hujan dari wilayah hulu.

Konsep pembangunan Water Front River  semacam ini seharusnya terpikirkan olehku ketika hendak bicara mengeni konsep pembangunan  WFR di Bandar Lampung. Indah rasanya melihat sungai yang mengalir tenang dan jernih di tengah kota, yang kedua sisi sempadannya dihiasi bunga-bunga dan pepohonan rindang yang berbuah sesuai musimnya. Sementara rumah-rumah berdiri sederhana dengan tingkat kebersihan yang patut diacungi 100 jempol. Ya, meskipun apa yang kulihat kini masih saja ironi. Rumah-rumah yang berdempetan tanpa memberikan kesempatan pada ruangan untuk bertukar udara, juga kaum ibu yang berjualan gado-gado plus gorengan di jalanan sempit yang kotor dan bersampah serta dihinggapi lalat-lalat. Huekkkk, separah inikah Jakarta? dan sungai-sungai yang kuimpikan jernih itu sesungguhnya merupakan bak sampah.

Aku tersenyum senang saat melihat bocah-bocah lelaki yang masih mengenakan  seragam sekolah bermain bola di jalanan di sempadan sungai. Ya, inilah fungsi lain jalanan itu. Sebagai lapangan bola alternatif. Bukan hanya untuk bermain bola menurutku, bermain apa saja bisa asal gak ketabrak motor yang melintas.Tapi memang, kok bocah-bocah itu kasar ya?! main bolanya kasar, main sikut-sikutan, dan bicara antara sesamanya kasar. Kami lewat saja mereka asyik nendang sana-sini tanpa peduli ada orang lewat. Duh, serem banget deh....

Ups! seorang perempuan tinggi dan agak gemuk tiba-tiba keluar dari gang dan membentak salah seorang anak. KASAR BANGET ucapannya. Kami semua mengelus dada dan beristighfar didalam hati. Masya Alloh, ampunilah perempuan itu dan lembutkanlah hatinya. Dan kudengar sang bocah yang dimarahi membalas ancaman perempuan itu, "Gua bilangin lu sama emak gue..." Bah! kasar nian anak itu membalas. Jakarta, Jakarta, sungguh membuat kepalaku sakiiiiiiiiiiiiit sekali.

Kupikir, jika perempuan itu berani marah-marah sekasar itu sama anak orang, bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya? sungguh sangat tak terbayangkan.Hal-hal remeh semacam itu akan membekas dalam jiwa dan pikiran sang bocah dan ia akan membawanya seumur hidupnya. Celakanya, klo dewasa nanti dia memperlakukan orang lain dengan kasar, atau bahkan lebih kasar, atau bahkan sangat kasar.

Cinta telah benar-benar hilang dari kehidupan Jakarta, sebab jika orang-orang yang tinggal di Jakarta punya cinta, mana mungkin Jakarta hancur lebur begini. Klo mereka udah kehilangan cinta pada alam semesta dan seisinya, bagaimana mereka akan mempertanggungjawabkan semuanya dihadapan Alloh di Hari Kebangkitan?

Semoga tidak semuanya, semoga masih ada cinta yang tersisa untuk menyelamatkan Jakarta dari puing-puing kehancuran yang kian mendekat.

aku mencarimu
siang dan malam
di padang bulan dan
di padang ilalang,
di sungai-sungai
di permukaan danau
di petak-petak ubin yang retak
juga di jalanan yang berdebu.

tak ada,
kau hilang
entah kemana
pergimu

meninggalkanku
yang mengais-ngais
dalam kegelapan dan
kekosongan
dan kehidupan
nampak punah sebelum waktunya
sebab,
nampaknya kita tak lagi
layak disebut manusia....

sebab cinta
telah hilang dari hatinya...

Sebelum tiba di kost-kostan yang lumayan menentramkan jiwa, di lorong-lorong telingaku berhamburan sebuah kalimat nan indah, tak lain dan tak bukan  merupakan sebuah potongan ayat dalam QS Ar-Rahman, "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?Cinta adalah nikmat. Jika hilang dari hati manusia, maka kepada siapa lagi bumi dan segala isinya ini layak dititipkan?

Jakarta, 30 September 2010

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram