Dija's Lover

Ditulis dengan airmata yang tertahan,
Didedikasikan untuk perempuan yang mengeringkan seluruh air matanya,
: kipikir, bias ini akan memudar seiring terbitnya kebenaran.

Satu sudut Salemba, Jakarta.
24/10/10. 01:19 WIB s/d selesai.

: Ika

***
Tak ada seorangpun yang dapat mengukur kedalaman hati seorang perempuan, atau melongok sedikit kedalamnya untuk melihat setebal apa dindingnya dan seberapa panjang lorong tempat segala rahasia disimpan. Perempuan adalah rahasia. Seperti Dija yang tengah memandangi sawah bapaknya yang tak cukup lagi menghidupi keluarganya. Kemiskinan yang menimpa desanya telah menguras airmatanya sejak kanak-kanak. Pun yang menimpa keluarganya. Kemiskinan yang tak pernah berakhir. Kemiskinan yang menyakitkan, yang telah menelan segala cita-citanya, masuk ke sisi terjauh ke dalam lumpur yang telah ribuan kali mengotori tubuh bapaknya. Kemiskinan menelan jiwanya, jauh kedalam pusaran hidup yang kian menyakitkan. Dija melap airmata yang menggenang di ekor matanya dengan ujung jilbabnya. Semua akan berakhir, katanya pada dirinya sendiri dengan tangis yang kemudian tak dapat ditahannya.

Kamu yakin? bukankah kamu sendiri yang berkata dengan berapi-apai bahwa tak ada apapun yang dapat membelimu, kecuali Tuhanmu? Dija, mengapa kau lakukan semua ini?, Dija terguncang manakala kata-kata Nien, sahabatnya, yang menghujamnya tepat di jantungnya, di denyut kehidupannya, menggelitik telinganya dan membuka pintu ingatan yang pelan-pelan ditutupnya. Dija sesengukan di galengan sawah yang basah oleh embun yang belum beranjak. Halaman pikirannya kian penuh oleh kelebatan-kelebatan perjuangan bapak dan ibunya di sepetak sawah yang membentang di depan matanya. Ayunan cangkul, sabetan arit, cucuran keringat yang memupukinya, dan pandangan mata kedua orangtuanya yang sangat menyakitkan hatinya.
 
Nien yang ditungguinya dilihatnya tengah berjalan ke arahnya. Mbak, maafkan aku. Dija segera menghapus air matanya, menghembuskan nafas, beristighfar, lalu bangkit untuk menyongsong Nien. Dilihatnya wajah Nien yang tirus karena terlalu banyak melakukan pekerjaan-pekerjaannya di malam hari. Mata Nien yang layu, bibirnya yang kering, dan wajah yang dipenuhi beban. Seorang pejuang tak pernah melewatkan hari-harinya kecuali untuk menghapus beban rakyat yang terbeban ke kehidupan pribadinya, Dija ingat kata-kata Nien saat mereka baru bertemu. Dija berusaha tersenyum manis meski sesungguhnya dia tahu bahwa sahabatnya itu akan segera tahu bahwa Dija baru saja menangis. Nangis? Nien menyambut uluran tangannya. Mereka duduk berdampingan di galengan sawah sembari menikmati pemandangan yang hijau ke arah sungai dan pegunungan yang rebah di arah yang jauh.

Pertama kali mengenalmu, aku dan kawan-kawan punya harapan yang terang untuk desa ini. Harapan itu seterang matahari yang sedang menyinari kita. Lihatlah ke langit, hangat, bukan? Dija mengikuti Nien, menengadahkan kepalanya ke langit dan matanya  menemukan kehangatan semesta. Dija tertunduk. Kami membawamu pada realitas. Nien melemparkan segumpal tanah ke arah sungai dan jatuh diatas permukaan sawah yang belum lagi dibajak. Kami tahu, kamu punya banyak kelebihan daripada teman-temanmu yang lain. Kamu istimewa. Cara berfikirmu cerdas dan kritis. Seribu satu perempuan desa macam kita yang memanfaatkan kecerdasan sosial semacam itu. Nien mencabuti rumput di dekat kakinya sambil tersenyum tipis. Dija tahu bahwa Nien tengah berusaha keras menahan genangan air mata yang nyaris tumpah. Dija tahu bahwa Nien tak akan pernah dengan tolol sengaja menangis didepannya, untuk memperlihatkan kerapuhan yang telah lama dibungkusnya dengan kemandirian.

Mereka diam. Udara diantara mereka seakan beku. Dija ingin mendengar lebih banyak isi pikiran Nien. Nien ingin mendengar lebih banyak alasan logis yang dapat diterimanya dari Dija.Semakin lama mereka terdiam dan Nien yang ditunggunya bicara tak bicara sepatah kata pun, semakin sempit dadanya. Dija merasa udara disekitarnya menghangat laksana api yang mulai membesar di tungku tempat ibunya memasak makanan untuknya dan adik-adiknya. Lalu, apa yang mau sampaikan hari ini? Nien akhirnya bicara. Dija tersenyum. Meski pedih, luka itu hanya akan disimpannya sendiri. Dija hanya ingin Nien tahu bahwa apa yang dilakukannya bukan semata untuk kesenangannya. Dija ingin agar Nien tahu bahwa semua keputusan itu diambil semata-mata untuk keluarganya.

Aku akan berangkat ke Kalimantan. Dija merasa ribuan batu dari sungai ditimpakan seisi desa ke kepalanya, merajamnya. Nien diam. Aku sudah bicara pada bapak dan ibu, Mbak Niken, juga adik-adikku. Mereka mendukungku. Mereka percaya bahwa dengan keputusan ini aku akan memiliki masa depan yang lebih baik. Mungkin dalam pandangan kita selama ini. semua ini lebih tepat dikatakan sebagai sebuah pemaksaan. Bagaimanapun kami semua perempuan, Mbak. Bapak dan ibu sudah sangat terbebani. Membesarkan anak-anak perempuan begitu sulit.  Dija melirik Nien yang masih diam. Nien duduk dengan tenang. Dija tak dapat menebak apa yang tengah dipikirkan perempuan itu. Pekerjaannya yang menumpuk atau cerita bodoh yang tengah disampaikannya. Dija tak peduli. Dija hanya ingin Nien tahu, bahwa mereka tak berhak mempermasalahkan masa depan yang dipilihnya. Setiap manusia merdeka.

Bicaralah, Mbak, jerit Dija dalam hatinya. Dija tak tahan melihat Nien yang hanya diam saja. Beri aku seribu kalimat bahwa ini bukan keputusan yang salah. Kau tak berhak mempersalahkan takdirku dengan lelaki itu atau kemiskinan yang membuatku menjalani cinta buta. Mbak, kumohon, bicaralah,Aku mau ke sungai, rendam kaki. Disini udah terlalu panas. Mau ikut?mau ikut? Dija bangkit dan mengikuti Nien ke arah sungai. hati Dija menangis. Nien bangkit. Dija ternganga sesaat. Nien menaikkan alisnya,

Segar, dingin, jernih. berpuluh tahun kedepan, saat kita mungkin telah meninggalkan desa ini, sungai ini masih jernih nggak, ya? Nien melirik Dija yang tengah memainkan kakinya didalam air. Kita nggak pernah tahu masa depan kita gimana, Dija. Kita hanya berusaha membuat masa depan itu baik dengan upaya yang baik. Kita telah berusaha idealis, bukan? Kali ini mata mereka bertemu. Dija menunduk. Kapan ke Kalimantan? dengan siapa? kamu yakin mau kesana dan menyelesaikan segala sesuatunya? Nien membersihkan sebutir batu dari lumut yang membungkusnya. Lalu menaruhnya kembali kedalam air. Dia ingin Dija melihatnya. Kamu sudah meminta petunjuk padaNya bahwa dia benar-benar sesuai dengan yang kamu yakini? aku sungguh sangat menyayangkan tindakanmu, kau masih muda dan polos. Nien bangkit dan memandangi punggung Dija, kalian bukan sedang jatuh cinta. Kalian hanya sedang gila. Kalian nggak waras. Kamu juga, terlalu polos untuk membedakan antara cinta dan tergila-gila. Ingat, Dija, masa depanmu masih panjang, lebih panjang dari masa depanku. nggak usah mengkambing hitamkan kemiskinan keluargamu, kita semua ini miskin, tapi kamu akan menambah daftar kemiskinanmu. Kamu tahu apa itu? karena kamu telah mengemis bahkan menjual harga dirimu demi cinta. Kamu jual idealismemu demi cinta yang buta itu. Nien meninggalkan Dija yang termenung sendirian. Dari kejauhan Nien bisa mendengar samar-samar tangisan Dija.

***
Saat pertama kali dikenalkan dengan Dija, Nien berharap bahwa gadis itu akan menjadi ujung tombak perubahan desanya. Pertama kali bertemu, Nien telah melihat semangat membara dalan jiwa gadis itu. Gadis yang cerdas, soleh, rajin, dan kritis. "Khadijah," Gadis itu mengulurkan tangannya yang serta merta mengalirkan kehangatan kedalam jiwa Nien. "Panggil saja Dija. Anak kedua pak Hasan. Senang bertemu Mbak dan kakak-kakak sekalian." keramahannya seketika memikat Nien. Gadis yang potensial, pikir Nien. "Aku mendengar dari bapak tentang Mbak sekalian, dan kupikir aku mau bergabung. Gerakan kalian hebat, cerdas. Mata batinku baru terbuka. Betapa kemiskinan dan kebodohan yang melumut di desa ini benar-benar bentukan negara." Dija membuat Nien terpana. "Sewaktu masih di pesantren, aku hanya tahu bahwa untuk kesejahteraan bangsa ini maka kita harus menegakkan pemerintahan Islami sebagaimana yang pernah dicontohkan Rosululloh dan penerusnya. Bahwa kupikir dunia ini semuanya baik."

Perkenalan dengan Dija awalnya membuat Nien bersemangat untuk terus melakukan pendampingan bersama LSM Daun. Dija yang idealis, kritis dan cerdas memberi Nien sebuah harapan bahwa apa yang mereka lakukan untuk desa itu pasti akan berhasil berkat Dija. Nien sungguh berharap Dija dapat membangun dirinya, keluarganya dan desanya menjadi lebih baik. Namun, sebagaimana banyak perjuangan yang tak menemukan muaranya, Nien harus kecewa ketika Dija memilih untuk tidak meneruskan apa yang tengah mereka perjuangkan melainkan gadis itu pergi pada impiannya sendiri.

Awalnya, entah bagaimana caranya mereka bertemu, Dija mengaku pada Nien bahwa ia jatuh cinta pada seorang pemuda. Dija mengaku bahwa lelaki itu sangat baik, taat beribadah, rajin dan merupakan sosok menantu idaman keluarganya. Dia tentara, bertugas di kalimantan. terang Dija suatu saat pada Nien. Apa? kamu mau menikah dengan tentara? Dada Nien bergemuruh, seakan-akan langit hendak menumpahkan semua hujannya. Kami baru setahun berhubungan jarak jauh. Maklum lah ya Mbak, Dija tersenyum kekanakkan. Ohh, jadi itu yang membuat tagihan telepon membengkak dan kamu sering sekali terlambat untuk rapat? Dija, mana idealismemu? mana kemandirianmu? mana ketegasanmu? Nien kecewa dengan pembelaan Dija yang panjang lebar.

Dija, hey, kamu ini lulusan sekolah agama, pesantren. Kok bisa kamu berfikiran demikian? mana semua konsep hidup yang kamu pegang erat-erat selama ini? apakah konsep itu robek hanya karena kamu terpikat ketampanan seorang tentara? kamu tahu tentara itu apa? kamu pikir tentara itu pahlawan? Nien sungguh tak habis pikir kepolosan Dija dapat menjerumuskannya pada persoalan pelik. Dija membela diri, Mbak, aku sungguh-sungguh. Dia akan melindungiku dan mengubah semua kehidupanku menjadi lebih baik. Aku percaya padanya, keluargaku percaya padanya, aku yakin dia akan menjadi suami yang baik. Mbak jangan pernah berfikir bahwa hanya ustadz, aktivis atau guru saja yang baik untuk jadi suamiku. Memangnya ada apa dengan tentara? salah aku mencintai tentara dan menikah dengannya? dan Nien terkejut dengan pembelaan Dija yang begitu dalam. Cinta telah membutakan Dija.

Nien ingin melindungi Dija. Nien melihat kepolosan gadis itu telah membuatnya buta. Dija, kamu baru 23. Masih muda. Kamu baru pertama kali kenal dengan lelaki siapa namanya tadi, Bima? tentara itu namanya Bima? kamu baru melihat realitas  yang rusak ini setelah sekian tahun terkurung di pesantren yang membuatmu punya pikiran bahwa seisi dunia ini baik. Kamu baru kenal dengan Bima dan katamu kalian baru 2 kali saja bertemu. Dia juga tak datang ke acara wisudamu. Dia tidak menepati janjinya padamu. Dia tak datang secara baik-baik pada orangtuamu. Lelaki baik macam apa? Nien muak melihat Dija dibutakan cinta sebagaiman cinta telah membuatnya jatuh bangun dalam kehidupan. Nien muak pada ribuan perempuan cerdas yang menjual dirinya pada laki-laki dengan iming-iming pernikahan. Mengapa perempuan selalu bergantung pada laki-laki untuk memutuskan masa depannya. Memangnya kenapa jika perempuan yang memilih sendiri rencana pernikahannya dan tak bergantung pada penilaian laki-laki yang akan dinikahinya? Nien sungguh tak habis pikir cinta buta secepat itu mengubah Dija yang idealis menjadi aneh dan berkhianat pada perjuangannya sendiri.

Nien menitikkan air mata untuk Dija. Sungguh tak terbayangkan nasib Dija jika benar-benar menjadi istri seorang tentara. Dija, kamu bisa menikah dengan lelaki yang lebih baik. Kami punya banyak kenalan. Kamu akan mencarikan yang tepat buatmu. Tolonglah lepaskan dirimu dari fantasimu yang ngawur itu. Buka matamu dari semua kekosongan ini. Kamu akan menderita, Dija. Berulangkali Nien menasehati Dija dan Dija tetap tak bergeming. Dija tak mau mengubah keputusanya. Mbak, Bima membuatku merasa lebih hidup dari sebelumnya. alangkah senangnya jika kelak dapat membangun desa ini dengan bekal kehidupanku di lingkungan tentara. Jangan picik begitu memandang orang, Mbak. Tentara adalah manusia yang memiliki sisi baik dan buruk. meski mereka robot negara, banyak kan yang baik. Bima termasuk yang baik, Mbak. Tolong mengerti aku. Mbak punya impian juag, bukan? impian yang kadang tak dimengerti orang lain? ini impianku dan Bimma adalah rekanku untuk mewujudkannya? Dija membuat Nien dan kawan-kawan mereka di LSM Daun tak berkutik lagi. Entah cara baik apa lagi yang dapat mereka lakukan untuk membebaskan Dija dari cengkaramn cinta butanya.

***
Jakarta, Oktober 2010.
Nien gemetaran saat membuka surat dari Dija yang belum dibacanya sejak seminggu lalu. Nien tak ingin membaca kalimat-kalimat yang tak diinginkannya. Namun Nien telah berjanji bahwa dia akan melindungi Dija semampunya. Nien membuka kedua matanya perlahan-lahan dan mulai membaca surat dari Dija. 

Teruntuk,
Mbak Raihana yang sangat baik

Assalammu'alaikum.
Semoga Mbak selalu dalam lindungan Alloh swt, semoga Mbak betah di Jakarta dan dapat belajar dengan rajin.
Dalam surat yang singkat ini aku hanya ingin menyampaikan bahwa minggu depan aku berangkat ke Kalimantan. Aku telah memutuskan untuk menikah dengan Bima. Kami akan melangsungkan akad nikah di Kalimantan, di kediaman keluarga Bima. Sebelumnya, aku akan tinggal di rumah kerabat jauh Bapak di Kalimantan. Bapak dan ibu akan menemaniku ke Kalimantan dan di pernikahanku nanti.
Mbak, aku berharap semua ini tidak Mbak kaitkan dengan persoalan idealisme. Aku tetap Dija sebagaimana yang Mbak kenal. Aku akan terus berjuang untuk desaku, untuk memajukan kaum miskin seperti keluargaku, memajukan perempuan sebagaimana yang kubutuhkan. Aku berharap Mbak tidak menuduhku menjual diri karena aku pernah berkata bahwa dengan menikah dengan Bima nasib perekonomian keluargaku akan sedikit membaik. Itu hal realistis, Mbak. menurutku bukan sesuatu yang tabu dalam sebuah pernikahan.
Aku tahu Mbak punya lebih banyak pengalaman, termasuk mengenai cinta. Aku tahu Mbak selektif. Namun, Mbak akan segera merasakan apa yang kurasakan, bahwa Cinta mampu membuat kita hidup. Sebelum cinta sejati datang menghampiri, hidup kita hanya setengah, bukan? dan cinta yang menggenapkannya.
Mbak, terima kasih telah datang dalam hidupku, telah datang ke desaku dan membuka mata kami semua tentang semangat untuk maju. Mbak adalah inspirasiku, yang membangunkanku dari mimpi panjang dunia Islam yang nyata-nyata tengah terpuruk. Mbak telah menyadarkanku bahwa sebagai Muslim kita harus berjuang semampunya untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan Islam dan negara ini.
Mbak, percayalah padaku, bahwa aku bisa melewati semua ini dengan baik, tak seburuk perkiraan Mbak dan kawan-kawan. Menikah dengan tentara bukan hal buruk sebagaimana menikah dengan pejabat yang korup bukan kejahatan bagi sebagian perempuan. Aku berharap Mbak dapat melihat sisi baik dari keputusan yang kuambil. Tentara bukanlah aktivis, guru, ustadz ataupun diplomat. Tentara hanyalah boneka negara yang harus diselamatkan dari pemujaan yang berlebihan pada negaranya. Kumohon do'a agar aku dapat melakukan perubahan kecil dalam melalui keluargaku nanti.Do'akan pernikahan kami barokah dan penuh rahmat.
Mbak, maafkan aku akan kesan yang mendadak ini. Aku berharap kita semua akan dipertemukan dengan takdir kita masing-masing. Semoga Mbak segera bertemu dengan jodoh Mbak, dimanapun ia berada.
Wassalammualaikum.

Salam sayang,
Khadijah.

Nien terhenyak. Keputusan yang mendadak. Nien tahu bahwa Dija berbohong untuk menyelamatkan cintanya. Rekan-tekannya di Kediri mengabarkan bahwa Dija berangkat sendirian ke Kalimantan, tanpa seorangpun kerabat. Anak gila! rutuk Nien. Kenapa kalian membiarkan Dija pergi sendirian? Memangnya kenapa sampai-sampai dia pergi tanpa keluarga sama sekali? Aku tahu, di bohong, dia tak punya kerabat di Kalimantan. Kenapa kalian biarkan Dija melakukan hal gila itu? kalian nggak takut sesuatu yang buruk akan menimpa Dija? Nien marah pada Ainun dan Arif melalui telepon karena mereka tak mampu menahan Dija. Nien menangis untuk Dija. Dimatanya Dija telah mengambil keputusan yang keliru. Masa depan Dija masih panjang dan gadis itu layak mendapatkan yang terbaik. Gadis itu tak harus berbohong, dengan mengkambing hitamkan persoalan kemiskinan keluarganya untuk mengejar cinta buta yang kelak mungkin bisa menyeretnya pada penderitaan kekerasan dalam rumah tangga.

Nien berdiri mematung di jembatan penyebrangan kampus UI, memandangi jalanan Jakarta yang macet. Mungkinkah kekacauan kemacetan jalanan Jakarta layak disamakan dengan kekacauan Dija yang digulung cinta butanya? ah, cinta, Nien muak dengan cinta yang mencekik dan memposisikan perempuan sebagai pihak 'harus dibeli' dan harus 'laku' dan bukan menempatkan wanita dalam posisi sama dengan kaum pria, berhak menentukan. Perlahan, Nien melangkahkan kaki, menuruni anak-anak tangga yang sesekali dihiasi seorang gelandangan. halaman pikirannya mencoba mencari-cari Dija. Nien berharap halaman pikiran Dija juga tengah mencarinya dan mereka bisa berkomunikasi. Nien ingin mengajak Dija pulang kembali ke Kediri. Nien ingin Dija menikah dengan lelaki baik yang dapat menuntunnya ke surga.

***
Kalimantan, Oktober 2010.
Dija menghapus airmatanya. Tak ada lagi waktu untuk menangis. Gadis itu telah memutuskan untuk hidup bersama Bima, sang abdi negara. Sembari merapikan pakaian dan riasan wajahnya didepan cermin, Dija berharap bahwa Nien tengah berdo'a untuk kebaikan pernikahannya.

-------------------------------
Notes:
Mbak Pr,
1) Baca ulang
2) Maaf ya kalau tulisan ini tak sama dengan yang kau maksudkan. Gak bisa sedramatis yang awalnya kugambarkan dalam benakku. Gak ada airmata. Aku lagi gak bisa pura-pura sedih. Inilah caraku menggambarkannya. Semoga dimengerti. Hapunten.

.....07:42 WIB

Tulisan ini pernah dipublikasikan di FBku: Teteh Ika pada 24 Oktober 2010 jam 2:37

Beberapa menit paska menerbitkan cerpen ini, beberapa kawan berkomentar. Aku mencatat beberapa komentar sebagaimana di bawah ini ini: 
A: "Ada yang salah dengan menikahi tentara? maaf..."
B : "Same question as above .... maaf (juga)"

Kataku : "Bukan soal salah atau benar, ini berkenaan dengan kisah seseorang, kisah apa adanya yang coba kututurkan berdasarkan sudut pandang sumber ke2. Menurut teman-temanya Dija gak tepat menikah dengan si dia, bukan karena soal Bima adalah tentara..., 'baca lebih dekat', tapi soal cara si Dija memandang cinta, kehidupan, keluarga, idealisme dan segala hal yang selama ini telah dibangunnya bersama gerakannya. 
Siapapun boleh menikah dengan tentara, selama tentara itu manusia. Klo tentaranya vampir baru serem...."

Keesokan harinya, kawanku A & B bertanya soal itu sebelum masuk kelas dan kami berdiskusi singkat. Intinya, cerpen ini kubuat berdasarkan kronologis cerita aslinya sebagaimana yang dituturkan teman si tokoh utama. Aku hanya menyatukan puzzle-nya saja. Jadi, dalam cerpen ini aku tak memiliki keberpihakan pada siapapun yang menjadi tokoh didalamnya. Kepentinganku hanya menulis ulang sebagaimana yang 'si pencerita' kisahkan padaku, hanya itu.

Sesungguhnya aku sangat ingin mendengar kelanjutan kisah ini dan aku melanjutkan tulisan ini. Kini, sudah 4 bulan lamanya paska aku menulis kisah ini, 'si pencerita' tak mengisahkan kelanjutan nasib kawannya tersebut padaku. Baiklah, aku tak punya kepentingan selain menulis, jadi jika 'si pencerita' tak melanjutkan kisahnya maka aku tak melanjutkan tulisanku.  

Jakarta, 20 Februari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram