Cerita Tentang Jakarta # 2


Sejak tiba di Jakarta karena sebuah beasiswa aku jarang sekali menangis. Padahal, selama 20 tahun menangis adalah salah satu caraku untuk sedikit saja meringankan beban yang menumpuk layaknya cucian kotor di pojok kamar. Selama ini aku berusaha menyimpan semua kekesalanku di hatiku dan berusaha membuangnya bersama hembusan nafas, namun aku belum berhasil. Terkadang, tekanan itu menumpuk di wajahku dan seorang kawan bertanya, "Kamu habis nangis ya?" padahal aku tidak menangis. Dahsyat sekali darah memompa emosi dan berusaha membuangnya dari tubuh dan jiwa. Beberapa hari lalu aku menulis surat untuk Mbak Mira -sebuah janji yang baru kutunaikan sebelum ada pembicaraan khusus dengan beliau sebagaimana beliau minta- dan aku menceritakan semua hal yang tak pernah bisa kuceritakan pada siapapun selama ini. Apakah bebanku berkurang? I don't know. Aku justru takut Mbak Mira akan berkata sebagaimana beberapa kawan berkata tentang semua itu. Aku bosan dengan semua jawaban yang tak logis bagiku. 

Itu sih gara-gara Mbak Mira terheran-heran sebab dari 50 orang yang ikut kursus 6 bulan bahasa Inggris di LBI UI sebelum kami melanjutkan kuliah ke luar negeri, hanya aku seorang yang grafik nilainya selalu menurun. Apakah otak kananku sedang bermasalah? Ya, mungkin saja! Aku juga heran dengan diriku sendiri. Tetapi kalau mau jujur, belajar bahasa Inggris di LBI UI sedikit banyak menekanku secara psikologis. Aku bukan tipe siswa yang suka diremehkan jika prestasiku berada dibawah yang lain. tetapi aku juga bukan siswa yang lantas belajar mati-matian buat membalas dendam semua perlakuan buruk teman sekelasku. Buat apa? Yang penting kan aku hepi....

Sejujurnya, teman-temanku semuanya baik. Tapi, sebagaimana kebiasaan masyarakat Indonesia, seorang siswa cenderung lebih membusungkan dada jika ia berada di puncak kecerdasan akademis, dan memandang rendah yang lain. Nah, yang paling cerdas tentu tak punya kebutuhan untuk membantu yang bodoh. Padahal, dalam hal lain selain Bahasa Inggris kami adalah pakarnya. Ini aneh, bukan? Inilah iklim yang mengurungku. Otakku seringkali tiba-tiba beku saat kejadian-kejadian tak menyenangkan di kelas berlangsung. Bisakah kita sebut sebagai academic bullying?

Aku juga tidak suka dengan cara para dosen di LBI mengajari kami. Seringkali, guru di kelas writing sibuk dengan dirinya sendiri dan memberi kami tugas dengan topik tertentu untuk diselesaikan? Lalu, ia akan memeriksa tugas kami masing-masing sambil memberikan komentar ini-itu. Ia juga tidak memeriksa jurnal harian kami dengan baik. Ia sibuk dengan urusannya sendiri. Sungguh menyebalkan! Kenapa kursus dengan bayaran yang begitu mahal berakhir tragis seperti ini? 

Di Jakarta ini, yang membuatku tenang hanya suara hujan, sungguh....
Hujan selalu membuatku tenang dan damai. 

Oh ya, hari ini aku menonton sebuah film dengan terjemahan yang kacau balau. Judulnya Into the Wild. Pemeran utamanya, meninggal dalam perjalanan panjangnya meraih kebenaran di alam bebas yang membuatnya mati kelaparan karena tak ada makanan. Aku menikmati film itu dengan was-was, seakan-akan aku sendiri sedang berada didalam hamparan salju. Sebuah pelajaran penting yang kupetik adalah: Masyarakat modern sebagiannya adalah masyarakat yang sakit, sehingga menciptakan individu-individu sakit yang mati dalam keadaan lapar akan kebenaran.

Hari ini Kak Riri membuat sayur bening bayam + jagung, sambal terasi + kemangi + jeruk sate, dan Rahma membuat sambal ikan laut yang sedap. Hm, makan siang kali ini begitu menyenangkan. Terima kasih semuanya...

Jakarta, 8 Januari 2011
Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram