Cerita Tentang Jakarta # 4




Hari ini, sebagaimana hari-hari lainnya, aku selalu berusaha menyelesaikan tugas memasak dengan baik. Memang sih tadi pagi cuma Mb Fina yang masak, pasalnya setelah shalat subuh aku tidur lagi -ngantuk banget-. Ya, mau nggak mau jadwal masak siang dan sore aku yang menanganinya sendirian. Nah, kali siang tadi aku buat tiga menu: sambal tempe asam manis, telur dadar gulung merica dan oseng-oseng labu siam dan kubis, maka sore tadi aku membuat sup sayuran dan keripik kembang kol. Sup yang kubuat kali ini berbahan dasar jagung manis, tahu putih, bakso, daging ayam, dan tomat. Membuat sup itu gampang dan bisa memodifikasi komposisinya. Jadi, dalam satu menu kami bisa memperoleh aneka vitamin dan mineral dan tentu saja masaknya tanpa minyak. Ada satu menu unik : "...." (nggak tahu namanya) terbuat dari daun singkong, Kak Riri sih yang buat, wong dia udah janji mo masak daun singkong santan ala Makassar. 


Satu prestasi yang harus kami catat: makan malam kali ini tanpa sambal. Berhasil, berhasil, berhasil. Kami sih nggak terlalu sedih makan tanpa sambal karena sudah mendapatkan rasa pedas dari merica di sup dan pedas cabai di sayur buatan kak Riri, tapi Rahma (oh kasihan dia...) harus menahan lidahnya untuk tidak menginginkan sambal. Gimana nggak, cabe rawit harganya mencapai Rp. 90.000 di Jakarta, di Gorontolo lebih parah Rp. 150.000. Edan banget yang orang Indonesia mengkonsumsi cabe, sampai-sampai mengalahkan harga sembako lainnya. 

Jakarta,  09 Januari 2011
-makan bersama selalu lebih menyenangkan-

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram