Cerita Tentang Jakarta # 11


Kehidupan di dunia modern ini sungguh kompleks. Ada banyak peristiwa yang terjadi tanpa bisa diprediksi, ada kejadian-kejadian memalukan yang dilakukan berulang-ulang dan oleh banyak orang, ada kekejaman-kekejaman tersembunyi yang tak pernah bisa dihindari kaum yang lemah, ada kehidupan yang saling membelakangi, ada manusia yang telah mengalami perubahan struktur di nuraninya, dan ada beragam rona kehidupan yang begitu sering kupertanyakan.

Pagi tadi, sekitar pukul 07.30 wib, saat hendak berangkat ke kampus, aku melihat si bapak pemburu besi di sungai sekitar Paseban untuk kali kedua. Aku tak heran dengan pekerjaan yang dilakukannya, sebab dia bukanlah orang pertama yang kulihat sedang melakukan pekerjaan luar biasa itu. Mengapa kubilang luar biasa? sebab hanya mereka yang memiliki kesabaran luar biasalah yang bisa melakukannya. Lelaki itu, sebagaimana lazimnya masyarakat miskin, terlihat begitu kurus, pandangan matanya menerawang jauh, kelopak matanya buram, kulitnya terbakar matahari, pakaiannya lusuh, dan dia tengah menyusuri sungai Paseban yang kotor itu sambil memanggul karung di pundaknya sedangkan tangan kanannya memegang sebuah tongkat besi-magnet yang digunakannya untuk menarik besi-besi di dasar sungai. Aku tahu bagaimana  cara kerja tongkat besi itu. Sambil menyusuri sungai, dia mengarahkan tongkatnya ke dasar sungai dan mengira-ngira letak besi-besi yang terbuang ke sungai. Yah, besi-besi itu biasanya berupa paku-paku dan sejenisnya yang terkadang dibuang ke sungai bersama sampah-sampah lainya. 

Yang kupikirkan kemudian adalah, apakah dia mendapatkan besi-besi yang diinginkannya setiap hari? apakah sebanding antara penghasilannya menjual besi-besi bekas itu dengan tubuhnya yang tercemari aneka bakteri dari sungai yang nyaris mati itu? Oh, ini sungguh negara bedebah. Di lokasi dimana keluarga Presiden dan para pejabat negara lainnya tinggal, kondisi seperti ini dianggap angin lalu. Bukankah ini kewajiban semua menteri, juga kewajiban pemda DKI Jakarta? ini yang disebut Nabi saw, bahwa suatu saat akan hidup di negeri yang makmur para pemimpin yang 'mencekik'. 

Jakarta,  14 Januari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram