Cerita Tentang Jakarta # 5


Pagi tadi, Kak Lili membawa Meiji Milk Chocolate. Kami membaginya menjadi potongan-potongan kecil. Hm, nikmat sekali coklat ini. Kotak coklat ini seluruhnya berhuruf kanji -mungkin dari Jepang atau Korea- dan hanya sebuah stiker putih yang berbahasa Inggris. Darimana bahan-bahan coklat ini berasal? apakah dari Indonesia ataukah dari Afrika ataukah dari Amerika Latin. Setahuku sangat jarang petani coklat yang mampu mengangkat derajat hidupnya dari segi ekonomi, karena memang harga biji coklat cuma mampu menembus harga maksimal Rp. 20.000/kg. Aku tak tahu berapa Kak Lili membeli coklat itu. Inilah kenyataan pahit rantai perdagangan. Yang paling dirugikan adalah petani dan yang paling diuntungkan adalah distributor atau penjual di rantai akhir. Mereka hanya perlu membeli bahan baku, menambahinya dengan berbagai bahan seperti susu, gelatin, gula dan sebagainya. Kemudian mereka hanya perlu membungkusnya dengan kemasan yang cantik dan menjualnya melalui iklan yang menarik. Jurang perbedaan pendapatan antara petani, distributor dan penjual coklat batangan sungguh sangat jauh. Industri makanan atau minuman coklat yang semakin digemari membuat para pengusaha coklat kian berjaya. Aku tak tahu kapan masyarakat Indonesia mampu menciptakan karya akan bisnis besar coklat yang mampu menjadikan Indonesia sebagai produsen biji coklat sekaligus produsen produk-produk berbahan coklat. 

Really, I loves chocolate. 

Jakarta, 10 Januari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram