Cerita Belajar Bahasa Inggris # 2


Hari ini begitu berat. Hari kedua pasca liburan kami langsung dihadapkan pada ujian Writing dan Vocabulary. Kali ini, di kelas IELTS group A akulah yang paling bodoh dan paling minim tabungan vocab-nya. Semalam aku sama sekali tak belajar atau mengulas pelajaran-pelajaran sebelumnya. Aku tidur, sebab aku sangat lelah. Aku marah pada diriku sendiri. Mengapa aku tak bisa mengalahkan kelemahan ini dan benar-benar bangkit. Selama 3 bulan sebelumnya aku hanya mampu menangkap remah-remahnya saja dan itu bukan gizi yang baik bagi peningkatan kemampuan berbahasa Inggris yang baik. Aku coba mengingat kata-kata apa saja yang tadi diujikan:

adverse, disruptive, haphazard, persistent, agile, vigorous, worthwhile, astound, relinquish, resilient, unique, immense, flaw, vibrant, dormant, drab, rudimentary, erratic, burgeoning, evaporation, erosion, dignitaries, favorably, meticulous, absurd, fallacy, preconception, novel, placid, intrude, prophetic, mediocre, monotonous, profound, frail, 

Hm, di kelasku yang lampau, di kelas umum group A bagian vocabulary ini kami baru sampai di lesson 15, dan kemarin Bu Rachma bilang kalau ujian vocab ini sampai lesson 23, eh ternyata hari ini setelah kudaftar kata-kata yang kuingat aku menemukan satu kata di lesson 24. Di bagian writing pun begitu, banyak pelajaran yang belum dibahas tapi hari ini kami mendapat soal ujian yang sama. Payah!!!

Pembelaanku adalah: tutor mereka mempercepat proses belajar dan tutor di kelasku dulu ya sangat lambat, dan membuat kami boring habis. Jadi, aku dan dua orang kawan yang berasal dari kelas yang sama denganku terbengong-bengong saat membaca beberapa pertanyaan yang sungguh-sungguh tak kami tahu jawabannya. Kalau sudah begini berhak-kah kami menyalahkan pihak LBI yang lambat meningkatkan kemampuan kami? ujian ini sungguh-sungguh menghinaku.

Jakarta, 5 Januari 2011
Sumber gambar:

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram