Cerita Tentang Jakarta # 3


In 4 January 2011 I got new class. IELTS class Group A. There are more my new friends than old friends. My new Friends are Zee, Wardah, Kak Riri, Winarto, Emil, Vita, Umar and Hilma, and my old friends are Devi, kak Lina, and Kak Nita. I really loves them because they are amazing people in my new life, in Jakarta. But, some of them really disappoint. I hope in new class I can get new spirit to make studying resolution

Hari pertama aku dapat mencatat sebuah kata yang menyebalkan "Jangan bawa kebiasaan kalian di kelas A ya." What? karena kelas A yang lama adalah kelas stupid dan lelet sehingga kami dianggap membawa kebiasaan belajar yang buruk? Mungkin perkataan mereka adalah sebuah candaan, tapi please, itu kelas baru, that is a new class, dan siapapun di kelas itu nggak berhak membawa-bawa catatan apapun dari kelas lama -apalagi sikap primordial-. Bukankah di kelas baru itu kami hendak memulai sesuatu yang baru? Seharusnya kami memulai segalanya sebagaimana saat pertama kali disatukan dalam sebuah kelas pada September 2010 lalu. Setiap orang tidak lagi berhak mengatakan kami kelas "..." itu begini lho, bla...bla...bla.. sebab kelas kali ini cuma dibagi dua yaitu IELTS dan IBT. 

Seorang kawan bertanya "Kau sudah melakukan penyesuaian dengan kawan-kawan kelas B?" apa lagi ini? mengapa aku harus melakukan penyesuaian? aku bukanlah si murid dungu dari kelas A yang tiba-tiba dipindahkan ke kelas B yang sedikit lebih pintar diatas kelas dungu. Aku adalah "a student" yang membutuhkan pelajaran tentang IELTS karena aku akan melanjutkan studi di Belanda dan aku ditempatkan di kelas IELTS group A. So, penyesuaian macam apa yang harus kulakukan? bukahkah seharusnya, sebagiamana ketika kita sering berganti teman ketika naik kelas di kelas-kelas kita yang sangat lampau dan kita selalu belajar beradaptasi dengan suasana baru. Kali ini pun seharusnya demikian. Seharusnya semua orang di kelas ini sama-sama melakukan penyesuaian, bukan aku harus menyesuaikan diri dengan habit mereka atau mereka harus menyesuaikan diri dengan habitku.

Inilah bukti bahwa kultur masyarakat kita memang jauh tertinggal dengan kultur asing. Kita, yang sedang belajar menjadi generasi pembaharu  ini ternyata belum mampu memanajemen perubahan lingkungan yang mungkin tak sesuai dengan lingkungan lama. Kita suka pada sesuatu yang ajeg dan telah membuat kita nyaman sehingga setiap yang datang sebagai anggota baru harus melakukan penyesuaian. Tak ada penyesuaian disini. Meski sebagian besar kawan adalah "mantan anak kelas B", kelasnya di "mantan kelas B" dan teachernya adalah "yang selama ini menjadi teacher mantan kelas B" kita nggak berhak mengatakan bahwa keajegan di "mantan kelas B" adalah lingkungan yang harus aku terima. Ini namanya pemaksaan kehendak dan pelanggaran pada kebebasan. Mengapa kita membelenggu diri sendiri dalam memori yang membuat kita nyaman sesaat?

Aku tak mungkin bicara hal ini pada mereka, sebab dalam masyarakat Indonesia membicarakan hal semacam ini secara langsung bisa menyulut permusuhan. Akan memunculkan kesan 'saling menjauhi' dan 'mengelompokkan diri' yang merupakan sikap masyarakat yang sakit. Masyarakat yang katanya menerima mengkritik tapi akan menjauh pada si pemberi kritik. Aku tidak ingin menyampaikan keberatanku dengan bahasa yang tak mampu mereka terima. Bagaimana lagi? aku bisa 'mandeg' kalau suasana kelas masih seperti itu, kecuali aku menguasai 'metafisika'

Aku berharap kami semua bisa menciptakan sesuatu yang baru.

Jakarta, 8 Januari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram