Cinta Dari Masa Lalu


hari-hari indah akan segera berlalu
tawa lepas akan dihapus dari ingatan
dan namamu akan segera dilupakan
kecuali, aku menuliskannya untukmu
dan kau menuliskannya untukku
untuk kenangan, kau dan aku

Tahun 2009 aku mulai menulis nama-nama orang-orang yang kukenal dan mengenalku selama hidupku. Aku mencobanya mulai dari tetangga di lingkungan tempat tinggalku, teman-teman sekolahku sejak SD hingga SMU, teman-teman kuliahku, teman-teman organisasi, teman-teman yang pernah bekerjasama, guru-guruku sejak SD hingga universitas dan guru di Taman Pendidikan Al-Qur'an. Tak hanya menulis nama mereka, aku coba mengingat sifat mereka dan hal yang paling kuingat tentang mereka dan kondisi terbaru tentang mereka yang kuketahui. Aku mencoba menuliskan nama mereka berdasarkan tahun aku mengenal mereka dan mereka mengenalku. Aku tahu, suatu saat, kegiatan sederhana itu akan sangat berguna. Terkadang di sela-sela waktu luang atau untuk menghibur hati, aku membaca catatan itu dan membayangkan kemungkinan-kemungkinan di masa depan antara aku dan mereka semua, apa yang terjadi di 20 tahun mendatang?


Menjelang akhir tahun 2010, aku menambah catatan itu dengan 49 kawan baru (hm, aku belum tahu jumlah keluarga mereka yang telah kukenal, cukup sulit mengenal mereka dalam waktu yang singkat dan interaksi yang tak penuh), beberapa orang di LBI, di IIEF dan tentunya beberapa orang diantara kostan-LBI UI. Semuanya berapa ya? Hm, belum lagi kalau ditambah teman di jejaring sosial facebook. Wow, fantastis! dan jika interaksi atau pola hubungan antara aku dan mereka dibuatkan jejaring seperti jaringan gelombang elektromagnetik di udara, maka bagaimana membacanya ya? dan sampai kapan misalnya jaringan antara aku dan mereka berlangsung? dan bagaimana cara 2 malaikat pencatat pribadiku mencatat semua ini untukku? apa benang merah dalam masing-masing pola hubungan?

Terkadang, saat membaca kembali catatan-catatan itu aku sering mengernyitkan kening dan berkata, "Siapa ya?" saat tengah membaca sebuah nama dan aku merasa lupa siapa dia dan pertama kali bertemu dimana ya? Aku juga mulai lupa dengan nama sebagian tetangga di tempat tinggalku, padahal ini baru tahun ke 8 aku meninggalkan kampung halamanku untuk menimba ilmu (dan setahun sekali atau dua kali aku pulang, terutama hari raya Idul Fitri), aku juga lupa bagaimana sifat mereka, paras terakhir mereka yang kulihat, cara mereka bicara, cara mereka berjalan dan aku lupa mengingat perubahan-perubahan kecil dalam diri mereka, misalnya apakah mereka sudah beruban atau jalannya sudah lambat. Dan aku baru menyesal manakala salah satu diantara mereka meninggal dunia. Aku merasa kehilangan sumber sejarah, dimana mereka pasti tahu tentang masa kecilku dan bagaimana aku ketika itu. 

Suatu hari, saat aku mendengar salah seorang tentangga, yang sesungguhnya adalah teman almarhum kakek dan nenekku, meninggal dunia, aku merasa kehilangan sebagian masa laluku. Aku merutuki diri, mengapa sebelumnya aku tak berusaha menjalin silaturahim dengan mereka, mungkin berbincang tentang saat-saat manis mereka bersama almarhum kakek dan nenekku, dan atau mungkin mendengarkan cerita mereka tentang asal muasal desa kami. Kini, mereka hanya tersisa beberapa orang saja dengan kerentaan yang dapat mengantarkan mereka ke ujung usia dan aku semakin tak punya kesempatan untuk menjumpai mereka dan melakukan hal yang ingin kulakukan. 

Bahkan jika ditambah dengan mereka yang terkadang luput dari sebutan "penting" dan "aku menghormati mereka" atau "aku menghargai mereka" atau "aku berjasa pada mereka", misalnya mamang ojeg, supir angkot, kondektur bus, penjula sayur, penjual pulsa, satpam, penjual koran, ojeg payung, mamang becak, penyapu jalan, dan sebagainya dan sebagainya, entah sudah berapa manusia ciptaanNya yang menjadi perantara berlangsungnya kehidupanku. Aku ingin mengingat sesuatu, apakah aku pernah mengucapkan kata "terima kasih" atas jasa mereka dalam kehidupanku? sungguh, apa yang telah kuraih bukanlah hasil jerih payahku seorang, melainkan akumulasi atas jerih payahku dan jerih payah orang lain dengan cara mereka masing-masing yang berjasa padaku untuk meraihnya. Maka ingin sekali kukatakan bahwa mereka semua, tanpa kecuali, adalah inspirasi bagiku: yang memompa semangat, mengajarkan cara bersyukur, mengajarkan cara memberi, mengajarkan cara setia, bersabar dan hidup sederhana, mengajarkan cara mencintai dan menghargai dan sebagainya. Sungguh, inilah gunanya hidup sebagai makhluk sosial yang saling berbagi kebaikan. Terima kasih semua...

Jakarta, 22 Januari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram