Cerita Tentang Hujan


Dari kantorku, pukul 18. 45 wib aku tiba di Jalan ZA Pagar Alam dan untuk menuju rumah kos aku harus melewati Jl. Lada sejauh kira-kira lebih dari 100 meter. Hujan deras. Aku tak mungkin berjalan sejauh itu dalam hujan deras. Aku berteduh di beranda sebuah warung bakso. Berteduh bersama puluhan orang lainnya yang menunggu hujan reda. Aku melihat hujan deras ini seakan-akan tak akan pernah berhenti dan tercipta untuk membekukan udara. 

Sebagaimana orang-orang yang berteduh itu, aku memandang langit. Memandangi hujan. Memandang butir-butir hujan yang dipayungi cahaya lampu-lampu jalan. Hujan yang deras menjadi pemandangan yang indah, eksotik, mahal, misterius dan cantik. Butir-butir yang terus meluncur itu dipapari cahaya sehingga menciptakan suasana romantis. Aku terpikat oleh hujan ini. Terpikat oleh jebakan suasana yang membuatku berkelit dari rasa dingin yang mengigil menjadi rasa yang dipenuhi keingintahuan. Adakah hujan indah ini akan reda atau akan berlangsung selamanya? Menciptakan bumi baru yang pucat dan dingin. Telah satu jam aku menunggu, hujan tak jua reda sementara hari beranjak ke lambung malam. Akhirnya aku pulang dalam pelukan hujan. Dipeluk hujan, melepas lelah. 

Bandar Lampung, 04 Nopember 2008


Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram