Cerita Tentang Jakarta # 13


Masalah-masalah yang tengah merundung bangsa ini bukanlah datang sebagai suatu kebetulan. Kemiskinan, kebodohan, kehancuran hukum, kehancuran moral pemimpin juga rakyatnya, ketiadaan kehormatan di mata asing, ketiadaan kendali atas rumah sendiri, ketiadaan kekuatan untuk mempertahankan hak-hak yang dicuri, krisis ekologi, krisis pangan, ketidakstabilan keamanan, kriminalitas kalangan intelek dan kehancuran moral perempuan, menurutku adalah satu keadaan yang sengaja diciptakan, dibiarkan dan dijadikan umpan bagi keuntungan sebagian kecil orang. 

Kita punya banyak orang kuat tapi tak bisa melindungi melainkan menjadi pagar makan tanaman, kita punya banyak pemikir yang seharusnya menjadi pengendali bangsa namun nyatanya mereka adalah pembenar kebijakan yang salah kaprah, kita punya banyak tokoh yang seharusnya menjadi pemimpin yang dibanggakan namun nyatanya mereka semua ingin menjadi raja dan cuma bicara soal siapa yang akan duduk di kursi raja selanjutnya, kita punya banyak diplomat yang seharusnya memperjuangkan kehormatan bangsa namun nyatanya mereka menandatangani kontrak untuk masuknya penjajahan terselubung atas manusia, intelektualitas dan kekayaan alam. 

Apalagi sekarang? Apakah idealisme dan patriotisme akan lenyap seiring lenyapnya kasus-kasus yang melibatkan kejahatan lembaga-lembaga negara? Apalagi sekarang, jika tak ada satupun yang berani menjadi konglomerat berhati mulia, sementara nyaris sebagian besar sejarah bangsa diangkut ke negara-negara yang kita harus membayar mahal hanya untuk mempelajarinya? Apalagi sekarang, jika katanya bangsa ini pemilik Einstein-Einstein terbanyak di dunia tapi tak satupun ilmuwan-ilmuwan itu yang disambut dengan karpet merah dan didudukan sebagai mata bagi Presiden dan pejabat-pejabatnya dalam memajukan bangsa ini? Apalagi sekarang, jika Presiden lebih suka negerinya miskin dan rapuh daripada menjadi sekuat dan sehebat Amerika atau Eropa? 

Apalagi sekarang, jika kita hanya punya kenangan atas kebanggaan-kebanggaan yang sesungguhnya tak benar-benar diakui asing? Apalagi sekarang, jika kita semua membiarkan milik kita diklaim asing dengan sebuah 'hak paten' dan kelak kita harus membelinya dari mereka? Apalagi sekarang, jika tanah kita habis digerus bencana dan dipupuki air mata rakyat kecil, sementara para penikmat kekuasaan masih bisa tidur dengan nyenyak dan hanya memikirkan tentang 'save my money'? 

Apalagi sekarang, jika kita membiarkan para gadis remaja hamil diluar nikah dan menciptakan ledakan penduduk, yang melahirkan anak-anak yang kemudian mereka buang ke panti asuhan? Apalagi sekarang, jika kita menjual perempuan-perempuan cantik kita ke dalam kontes kecantikan yang menelanjangi mereka agar bisa pulang sebagai 'ratu kecantikan', tidakkah kita bisa menilai kecantikan berpakaian bukan kecantikan telanjang, memangnya apa sih kecantikan? Apalagi sekarang, jika kita menjual para perempuan untuk menjadi budak di negeri asing dan mereka akan bebas mengatakan 'Inilah orang Indonesia yang katanya bangsanya itu sepotong tanah surga' tapi mengemis pada bangsa tandus yang cuma punya minyak? Apalagi sekarang, jika kita semua dijuluki negeri para bedebah? manusia macam apa kita ini? Sungguh tak bisa dipercaya...

Orang baik yang jumlahnya sedikit, yang berjiwa patriot dan tengah berjuang, bagai selembar uban di rambut hitam dan berkilai milik bangsa ini. Tentu saja ia kaan dibuang...

Jakarta, 16 Januari 2013

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram