Cerita Tentang Jakarta # 17


Semakin dekat ke tepian, semakin kosong hari-hari yang kujalani. Aku menangis untuk hal remeh-temeh yang amat menggangguku ini. Kini aku punya penilaian tentang beberapa orang kawan yang kupikir cuma mau bergaul dengan mereka yang derajat keilmuwannya dianggap setara dengan mereka (kekanakkan sekali aku ini). Sesekali aku menyapa mereka dengan caraku yang konyol dan sederhana, namun aku tak mendapat respon apapun dari mereka. Ah ya, memangnya siapa aku bagi mereka? mereka hebat dan aku tidak. Lihatlah ketika empat hari kemarin aku nggak masuk kelas, tadi, ketika aku berjalan di dekat mereka dan menyapa mereka, mereka tak merasa kehilangan aku untuk beberapa hari sebelumnya kecuali hanya beberapa orang saja. Bahkan ada yang sama sekali tak menolehkan wajahnya padaku. Innalillah, memang hanya Alloh saja yang harus menjadi tempat bergantung. Dan inilah realitas yang kuhadapi sekarang, mau apa lagi, nggak mungkin kan maksa....

hari-hari kosong
dan aku berjalan di tepi kehidupan
tanpa angin tanpa suara
tanpa senyuman tanpa kerinduan
aku berjalan mereka berjalan
bukankah kita manusia?
mengapa kehidupan ini menjadi ruang kosong
akukah yang kosong? 
angin itu suara itu
senyuman itu kerinduan itu
menepi di benakku
-Lab 305, pulang dari lantai 4 LBU UI-

Mungkin, seperti inilah lingkungan intelek yag menungguku di masa depan, ah, aku ingin pulang saja ke sungai-sungai dan dedaunan yang meranggas di hutan-hutan...

Jakarta,  21 Januari 2011

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram