Perjalanan ke Yogyakarta


Jakarta, 08.00 WIB menuju ke Yogyakarta

Nggak sempat sarapan, cuma sempat masak bekal untuk 3 orang. Aku, Rahma dan Mb Mila bersiap-siap menuju stasiun kereta api Senen. Rencananya kami akan naik kereka api Bogowonto jurusan Jakarta - Kutoarjo, Jawa Tengah yang akan berangkat pukul 09.10 WIB. Kami bertiga berangkat ke Senen menggunakan Bajaj dengar harga Rp.15.000. Tak sabar ingin segera melanjutkan perjalanan, eh ternyata kami tiba di stasiun terlalu pagi. Akhirnya kami harus ngemper sambil menunggu si Bogowonto tiba. Beda banget sama calon penumpang eksekutif yang memiliki kursi-kursi cantik di ruang tunggunya. Yah, apa boleh buat, memilih kendaraan kelas ekonomi harus rela pula mendapatkan pelayanan kelas ekonomi di stasiun. Sambil menunggu kami sempat berfoto, sayang fotonya belum bisa diupload mengingat Rahma lupa bawa kabel data ponselnya.

Sekilas tentang KA Bogowonto: Bogowonto merupakan KA baru yang diluncurkan PT.KA tujuh hari menjelang Idul Fitri 1431. Bogowonto merupakan KA kelas ekonomi berAC yang manusiawi dibanding KA jenis lain yang selama ini beroperasi. Peluncuran KA ini merupakan awal dari perubahan besar-besaran pada transportasi ini mengingat pada 2013 semua kereta api ekonomi akan dihapuskan, diganti dengan kereta api ekonomi AC. Mungkin, inilah penanda kemajuan Indonesia. Untuk pelayanan, nggak akalh asyik. Harga tiket KA Bogowonto hanya Rp 70.000 per penumpang; anak-anak Rp 56.000; pelajar, mahasiswa, anggota TNI/Polri Rp 56.000; serta penumpang usia lanjut atau veteran Rp 49.000. KA Bogowonto juga memiliki fasilitas yang lebih mewah dari KA Bisnis Sawunggalih tujuan Kutoardjo. Padahal, tiket harga KA bisnis itu Rp 120.000 sampai Rp 150.000 per penumpang saat arus mudik dan Rp 90.000 sampai Rp 100.000 per penumpang di luar musim mudik. Aku cuma bisa bilang keren, keren, keren. 

Pukul 09.10 WIB ka cantik dan masih bening ini tiba dan kami naik. Kami duduk di kursi 7 a,b,c. Hm, berdasarkan pengalamanku naik KA dari Tanjung - Karang ke Palembang  di kelas bisnis, pelayanannya nggak senyaman ini. Mungkin benar, kedepan, pelayanan transportasi publik ini akan lebih baik dari sebelumnya dan aku sih berharap akan sejajar dengan pelayanan KA di Jepang atau Eropa. 

Kursi-kursinya baru, empuk dan beberapa masih dilapisi pembungkus plastik, ber AC dan wangi. Penumpang nampak merasa begitu nyaman di kurisnya masing-masing. Toiletnya, ini sangat penting, bersih. Petugasnya, mulai dari petugas kebersihan, penjual makanan dan penjagan keamanan, semuanya ramah-ramah dan bekerja dengan professional. Tak akan ditemui satupun pedagang asongan yang menawarkan aneka makanan dan minuman kecuali jika kereta berhenti di sebuah stasiun. Pelayanan macam ini nggak ada di KA bisnis.

Sepanjang perjalanan aku lebih banyak tidur karena malam sebelumnya aku nggak tidur, jadi banyak pemandangan indah khas Jawa yang kulewatkan. Beberapa pemandangan, yang merupakan keindahan alam khas pulau Jawa, sempat kurekam dengan baik sebagai penambah kebahagiaan dalam hatiku. Ayah, Ibu, aku sedang menuju ke tengah-tengah pulau Jawa, pulau tempat leluhur kita berasal. 

Pemandangan-pemandangan ini lebih banyak berupa areal persawahan di dataran rendah yang nampak baru sekitar sebulan ditanamai kembali, ada juga persawahan dengan menggunakan teknik terasering di beberapa daerah yang agak tinggi. Ya, setahuku, khasnya orang Jawa, di sela-sela tanaman padi, ya sekitar galengan sawah, petani selalu menanam palawija seperti kacang panjang, buncis, dll. Melihat landscape seperti ini mengingatkanku pada landscape di Kota Metro di Lampung yang nyaris mirip dan kebanyakan milik orang Jawa. Melewati Jawa Barat menuju Jawa Tengah membuatku mengingat kembali darimana orangtuaku berasal. Seumur hidup aku belum pernah menginjakkan kaki ke tempat kelahiran ayahku di Tasikmalaya, Jawa Barat ataupun tempat kelahiran ibuku di Blitar, Jawa Timur. Suatu saat nanti, aku berharap, bisa mengunjungi dua tempat tersebut dan melihat tanah leluhurku berasal.

Tiba pada 11.15 WIB
Turun di Kutoarjo eh ternyata kereta Pramex sudah berangkat, Bogowonto memang keren tapi leletnya itu loh, aduh, membuat rencana gagal. Seharusnya kami tiba di Yogya pukul 10 malam. Jadilah rombongan yang hendak menuju Yogya terlantar di jalanan Kutoarjo, kami beruntung bertemu dengan dua orang pemuda yang membantu kami mengarahkan kemana kami harus berjalan, sebab meski Mb Mila wong Yogya tapi perjalanan menggunakan Bogowonto adalah yang pertama kalinya sebagaimana aku dan Rahma. Akhirnya, sekitar pukul 9 malam, sebuah patas dengan beberapa bangku kosong menghampiri. Alhamdulillah, akhirnya perjalanan bisa dilanjutkan. Tapi uh, penumpang yang rata-rata seharian telah menempuh perjalanan jauh sama-sama memiliki aroma kurang sedap di pakaian masing-masing. Aku sudah sangat lelah dan dengan bebauan yang aneh bin ajaib ini nyaris maun otah. Sulit mengendalikan lambung yang berontak. Kepalaku mani lieur dan aku sudah menyiapkan wadah untuk menampung muntahanku jika aku muntah. Tapi aku ogah muntah, jadi aku mengendalikan otakku agar berfikiran positif. Selalu kubilang dalam hati begini: semua akan baik-baik saja, dan kahirnya aku tertidur hingga bangun kembali saat bis memasuki terminal. Ongkos patas dari Kutoarjo ke terminal Giwangan, Yogyakarta, RP 15.000 per penumpang.

Ooh, lelah banget. Kami bertiga nampak seperti orang sangat bego, nyari pintu keluar aja kok nggak ketemu. Pintu keluar terminal baru ketemu setelah kami keliling-keliling. Satu fakta di yogya yang nggak bisa dibantah adalah klo naik taksi malam hari, diatas jam sembilan malam alias batas akhir jam pelajar, maka nggak ada stupun taksi yang pakai argo, semua taksi menerapkan ongkos berdasarkan lobi. So, semua meminta Rp. 80.000. Wah, mahal banget gitu loh. Setelah tawar sana sini akhirnya kami dapat taksi dengan tarif termurah Rp. 65.000 (hasil Mb Mila nawar dengan bahasa Jawanya, aku sama Rahma cuma ngekor aja wong nggak bisa bahasa Jawa). Di taksi, tidur lagi, smapai-sampai Mb Mila ketawa. Awalnya Mb Mila mau menunjukkan sebuah candi yang kami lewati namun batal karena aku dan Rahma sudah menempelkan pipi di tas masing-masing. 

Sampai di rumah Mb Mila disambut suaminya, Mas Andi, yang sejak keberangkatan kami dari Jakarta mengira kami akan tiba pukul 10 malam. Mas Andi pasti merasa kasihan dan khawatir sama Mb Mila, istrinya tercinta, yang mengalami banyak kesulitan di perjalanan. Karena selama ini Mb Mila biasa pulang ke Yogya menggunalkan travel.  Setelah basa-basi dengan Mas Andi, kami makan malam, makanan bekal kami yang masih tersisa cukup banyak. Setelah itu bebersih dan tidur lagi. Zzzzzzzzz....

take a rest
take a rest
i'am sleepy


Yogyakarta, 24 Desember 2010

Wijatnika Ika

No comments:

Post a Comment

PART OF

# # # # #

Instagram